Dari Biboki ke Jogja, Semangat Perempuan Penenun



Luviana – www.konde.co

Konde.co, Jakarta -  “Tenun telah menggerakkan ekonomi masyarakat kami. Saat ini kami bersama masyarakat Biboki mengajarkan kembali ketrampilan menenun dan mengenalkan arti tenun bagi masyarakat Biboki. Dari hasil menenun, anak-anak mendapatkan beasiswa untuk meneruskan sekolahnya.”

Itu adalah ungkapan Yovita Meta Bastian, perintis tenun dari desa Biboki, Kefamenanu, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT). Yovita menyatakan bahwa dari tenun kemudian ia  mengajak perempuan disana dan mengajak anak-anak Biboki untuk mencintai tenun dan melestarikannya.




Hal ini diungkapkan Yovita Meta Bastian ketika hadir dalam pameran berjudul: Cerita Tenun Tangan dengan tema “Weaving for Life” di Bentara Budaya Jakarta pada (15/3/2016) kemarin.

Kekhawatiran Yovita akan pudarnya tradisi menenun menjadi alasannya untuk mendirikan Yayasan Tafean Pah. Tafean Pah berarti rumah dunia, yaitu rumah untuk mengorganisasir dan mengajak para penenun lain. 
Diawali dengan 8 penenun yang terlibat di dalamnya, kini Tafean Pah telah berkembang pesat menjadi 1.779 keluarga yang terlibat. Diantaranya 400 penenun perempuan yang tinggal di 13 desa sekitar dan sisanya terlibat dalam pertanian, peternakan, dan industri kerajinan rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan.


Semangat Perempuan Penenun Jogja

Sementara itu tenun juga memberikan dampak positif bagi desa-desa di luar Siboki. Di Desa Sumberarum, dusun Sejatidesa, Moyudan, Yogyakarta misalnya menenun menjadi salah satu mata pencaharian selain bertani dan menambang pasir di sungai Progo. Bahkan kini mereka memodifikasi kain-kain stagen bermotif lurik.

 “Warga dusun Sejatidesa mempelajari motif tenun stagen baru yang mendapat sentuhan lurik, disebut dengan rainbow stagen karena ragam warna yang digunakan. Sebelumnya mereka hanya memiliki satu warna seperti hitam dan biru,” ungkap Aninidyah dari Lawe, salah satu pelestari tenun di jogja.

Saat ini tenun stagen menjadi alternatif perekonomian masyarakat dengan dibentuknya desa wisata. Melalui tenun, masyarakat diajak untuk melakukan penanaman dan pembuatan rumah bibit dan rumah organik serta memanfaatkan pewarnaan alam. Hal ini akan berdampak penyelamatan lingkungan dengan mengurangi penambangan pasir sungai Progo.

Koordinator Global Environtment Facility – Small Grant Programme,  Catharina Dwihastarini menjelaskan bahwa produk hasil olah budaya tidak hanya dilihat sebagai barang atau jasa semata. Namun juga terkandung berbagai cerita yang berada di belakangnya.

 “Kain tenun sebagai produk hasil olah budaya memiliki beragam cerita di balik selembar kain bermotif terbut. Keterikatan antara kain tenun dan masyarakat mampu memberikan dampak tersendiri bagi masyarakat,”ujar Catharina.

Catharina menambahkan bahwa Pameran Cerita Tenun Tangan ini merupakan hasil dari kolaborasi berbagai pihak khususnya perempuan, antara lain penenun, pengrajin, LSM, dan sukarelawan bersama Perhimpunan Lawe Yogyakarta, Dreamdelion, JIKom (Jelajah Indi Komunikasi) dan Poros

 “Kampanye Weaving for Life bertujuan ini dilakukan untuk meningkatkan pemberdayaan masyarakat baik dari segi ekonomi maupun sosial, mengembangkan potensi tenun dan memperluas jaringan kerja budaya,” jelasnya.

Pameran Cerita Tenun Tangan dengan tema “Weaving for Life” ini dilaksanakan dari tanggal 15 Maret  hingga 20 Maret 2016. 

Foto: Luluk Uliyah