Sesat Pikir tentang LGBT, Arus Ilmu Pengetahuan Disesatkan Keyakinan

Poedjiati Tan - www. konde.co

Seorang ahli fisika Yunani Kuno, Hippocrates pernah mengatakan Science is the father of knowledge, but opinion breeds ignorance. Mungkin kata-kata ini cocok dengan situasi akhir-akhir ini tentang kondisi dan persoalan yang dialami para Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia.

Banyak sekali orang yang mengaku dirinya psikiater atau psikolog yang seharusnya lebih mengerti tentang LGBT, namun justru malah membelokkan fakta dan mengatakan bahwa orientasi seksual, homoseksual dan ekspresi gender adalah sebuah penyimpangan. 

Salah satunya adalah yang dilakukan Dr.Fidiansjah, SpKJ ketika menjadi narasumber di sebuah acara di salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia Februari 2016 lalu. Dia dengan sengaja tidak mengutip Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III dengan benar. Dia mengatakan bahwa perilaku para LGBT merupakan gangguan jiwa. Padahal apabila dibaca dengan lengkap, di bagian tersebut tertulis Orientasi seksual sendiri jangan dianggap sebagai suatu gangguan."

Tidak hanya Fidiansjah yang melakukan pembelokan terhadap Ilmu pengetahuan. Sebelumnya juga beredar di group-group whatsapp, surat dari Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK-Himpsi) yang antara lain dalam beberapa poin menyatakan penolakan terhadap LGBT karena dianggap tidak sesuai dengan Pancasila sila pertama, tidak sesuai dengan kultur dan budaya Indonesia dan sgama. Di Bawah ini beberapa point yang tercantum dari pernyataan tersebut :

"Bangsa Indonesia adalah bangsa yang berlandaskan Pancasila, dan dalam sila pertamanya mempercayai Tuhan Yang Maha Esa sebagai penuntun dan pedoman hidup. Hal itu termanifestasi dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Sebagai masyarakat yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) yakin bahwa manusia diciptakan laki-laki dan perempuan dengan tugas untuk menjaga kelestarian alam dan mengisinya dengan sebaik-baiknya. Tinjauan Psikologi Klinis memandang dan memahami hakekat manusia beserta berbagai manifestasi perilakunya, sebagai makhluk multidimensional. Yaitu dimensi biologis, psikologis, sosial. kultural dan spiritual. Masing-masing dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dan mempunyai kriteria umum dalam mewujudkan hakekat kemanusiaan seutuhnya yang sehat dan sejahtera."

"Maka dengan ini  Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) menolak pandangan yang mengatakan bahwa ada gaya hidup altematif yang terkait dengan orientasi seksual diluar pemahaman dan kriteria umum masing-masing dimensi sebagaimana tercantum pada poin 1 dan 2 di atas."


"Sebagai organisasi profesi, Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) mempertimbangkan tinjauan dan kajian ilmiah yang menyangkut kelima dimensi di atas yang mendukung peryataan sikap tentang fenomena LGBT.

"Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) menentang segala upaya eksploitasi, manipulasi dan penyalahgunaan kecenderungan LGBT termasuk membujuk dan menghalang-halangi pemulihan. Ikatan Psikologi Klinis (IPK-Himpsi) juga tidak mendukung organisasi maupun komunitas formal atau informal yang menyangkut LGBT, karena bertentangan dengan budaya bangsa dan berpotensi merusak tatanan kehidupan bennasyarakat di Indonesia."

Seandainya yang menyatakan hal tersebut adalah orang awam mungkin masih bisa dimaklumi karena mereka tidak pernah mendapat pengetahuan tentang orientasi seksual, gender dan seksualitas. Tetapi ketika yang menyatakan ini adalah orang-orang yang dianggap paham betul dan setiap hari bergelut dibidang kejiwaan dan psikologi, tentu ini bisa dianggap kesesatan berpikir atau kesesatan penalaran. Kesesatan penalaran adalah argumen yang sepertinya tampak benar, tapi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan ternyata tidak benar.

Seperti apa yang Fidiansjah lakukan di televisi dan ditonton jutaan pemirsa se-Indonesia adalah kesesatan penalaran Argumentum ad populum.  Argumentum ad populum adalah ditujukan pada massa untuk menggugah perasaan agar menyetujui pendapat. Argumentasi dibangun hanya untuk mendapat dukungan, dan tidak memperhatikan masalah benar – salah. Dia dengan sengaja membangun emosi massa untuk tidak menyukai LGBT dan mengatakan bahwa LGBT itu sebagai penyimpangan dan salah.

Tidak hanya Ikatan Psikologi Klinis dan juga kebanyakan psikolog,  yang menganggap bahwa LGBT perlu dilakukan tindakan preventif dan kuratif . Mereka selalu mengatakan bahwa LGBT tidak sesuai dengan Pancasila sila pertama, tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan dianggap merusak tatanan masyarakat Indonesia. Apa yang mereka lakukan itu bisa dikatakan sebagai kesesatan penalaran Ignoratio Elenchi;  karena menarik kesimpulan yang tidak relevan, kesimpulan yang didasarkan pada prasangka dan perasaan subyektif.

Banyak cendekiawan, bergelar sarjana di Indonesia yang melihat LGBT hanya dari sisi agama tanpa berkeinginan melihat dari sisi Ilmu pengetahuan. Meskipun telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa homoseksual bukanlah suatu penyimpangan, mereka tetap keukeh menganggap bahwa itu harus disembuhkan karena  tidak sesuai dengan agama. Bahkan Asosiasi Psikiater Amerika dan The British Psychological Society (BPS) sampai melayangkan surat ke Ikatan Psikiater Indonesia dan dilampiri hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan serta pembuktikan bahwa homoseksual dan ekspresi gender bukan merupakan penyakit kejiwaan.

Teologi dan Ilmu pengetahuan harus diakui sebagai dua hal yang berbeda dan berlainan. Teologi tidaklah diperkembangkan melalui eksperimen-eksperimen dan keabsahannya pun tidak diupayakan dengan memperoleh persetujuan yang seluas-luasnya. Daya tarik agama justru terletak pada ketidakpastiannya mengenai hal-hal yang esensial, pada wilayah-wilayah di mana tidak mungkin akan tercapai kesepakatan. Agama itu adalah kepercayaan seseorang dan bagaimana orang tersebut mengimani. Seperti kita ketahui sains dan agama sering berseberangan. Salah satu contoh yang paling historis dan paling jelas adalah reaksi gereja terhadap Galileo pada abad ke-17 dan  Darwin sepanjang abad ke-19 hingga abad ke-20. Yang pada akhirnya pimpinan Gereja Katolik Roma mengakui sebagai sebuah kesalahan.

Dan sebagai orang yang berpendidikan tentu harusnya tahu dan tidak mencampuradukan antara ilmu pengetahuan dan teologi. Mencoba memahami dan membuka wawasannya akan Ilmu pengetahuan sehingga tidak terjebak oleh pemikiran yang sempit akan sebuah ilmu pengetahuan. Karena bila melihat Ilmu pengetahuan dari sudat pandang agama akan terjadi kesesatan penalaran. Sebab ilmu pengetahuan adalah olah otak yang menjelaskan sebuah gejala berdasarkan penelitian, teori, metodologi dan pembuktian. Sedangkan agama adalah olah rasa yang menentukan tujuan atau dianggap sebagai arah seseorang mencari makna kehidupannya secara spiritual.

Albert Einstein berkata dalam salah satu pidatonya bahwa ilmu pengetahuan tanpa agama akan lumpuh dan agama tanpa ilmu pengetahuan buta. Melalui ungkapan Einstein tersebut, sains dan agama merupakan dua unit yang berbeda, namun keduanya sama-sama memiliki peranan yang signifikan dalam kehidupan manusia.

“Neither science nor religion is right or wrong. But when a person uses science or religion to help people, that is the correct path. When a person uses science or religion to harm people, that is the wrong path.


Sumber :
         AGAMA DAN SAINS(Suatu Tinjauan Religionum Tentang Perjumpaan Agama Dan Sains dalam AgamaKristen dan Agama Buddha Sebagai Upaya Membangun Kerukunan Antar-umatBeragama di Indonesia)By: Boy France Tampubolon
         Critical Thinking: Membangun Pemikiran Logis Oleh Kasdin Sihotang, Febian Rima, Benyamin Molan
- Foto : colinbeavan.com