Mbah Ati



Luviana – www.konde.co

Perempuan ini datang di siang hari. Ketika debu masih tebal dan hujan tak lagi turun. Kami hanya berbincang sebentar, setelah itu ia pulang. Kami sudah membuat kesepakatan, salah satunya ia akan datang 3 hari lagi.

Perempuan ini bernama Ati. Hanya itu saja namanya. Orang jaman dulu, non..namanya singkat-singkat. Ati saja. Umurnya 50 tahun ketika datang di siang hari yang terik itu. Kami kemudian memanggilnya: embah. Aku, anakku dan suamiku. Kami sekeluarga.

“Embah kenapa tidak bisa baca tulis?.”

Itu suara anakku ketika sedang berbincang dengan mbah Ati di teras depan. Mereka lagi ngobrol sambil main kartu domino dan makan kacang pilus.

“ Karena embah miskin banget, jadi embah gak bisa sekolah,” ujar Embah.

“Mengapa embah bisa miskin?,” Kata anakku lagi.

“ Ya karena embah enggak punya uang.”

“ Kenapa embah bisa enggak punya uang?”

Mbah Ati tertawa terpingkal mendengar pertanyaan anakku yang terakhir. Kartu dominonya sampai terbuka semua. Anakku bisa melihatnya.

Gaple.

Embah kalah.



Umur 10 Tahun Menjadi PRT Anak

Lahir di Leuwiliang, Bogor Mbah Ati kecil terlahir susah. Tak bisa sekolah. Makan saja sulit non, itu awal cerita ia kemudian hijrah ke Jakarta.


Umurnya baru 10 tahun ketika itu. Ia lalu dimasukkan bekerja menjadi PRT di salah satu rumah di Jakarta di daerah Cilandak. Merasa capek dan tak betah, pekerjaan ini dijalaninya selama 2 tahun. Dengan badannya yang kecil, ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan momong anak majikan yang masih Balita. Ia sendiri tidak tahu mengapa harus menjadi PRT ketika itu. Jika ditanya, ia hanya bilang, mbantu orangtua non, ngasih makan adik-adik, semuanya masih kecil harus dikasih makan. Ia delapan bersaudara. Mbah Ati anak nomer 5.

Setelah tak menjadi PRT di Cilandak,  ia mulai mencari pekerjaan lain. Pekerjaan di pabrik garmen ditemukannya. Ia bekerja di sebuah pabrik garmen di Tangerang sampai umur 16 tahun. Pekerjaanya di bagian produksi, membuat baju-baju seragam. Mbah Ati kemudian mengundurkan diri dari pabrik karena ia menikah. Lalu tinggal dengan suaminya di sekitar rumah kami yang jauh dari pabrik.

Ia melahirkan di umur 17 tahun. Anaknya tiga. 2 laki-laki dan 1 perempuan.

Sejak menikah, Mbah Ati kemudian kembali bekerja menjadi PRT. Suaminya bekerja sebagai tukang ojek dan mengecat rumah. Penghasilan yang tak menentu membuatnya harus bekerja keras menghidupi ekonomi rumah tangga dan mengurus anak-anaknya. Pekerjaan sebagai PRT lalu kembali dijalaninya karena pekejaan ini menurutnya mudah dilakukan, karena ia bekerja pulang hari atau bukan sehari full, jadi ia bisa tetap momong anak-anaknya.

Awalnya ia bekerja selama 15 tahun sebagai PRT di sebuah rumah yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Ia harus berjalan 3 kilo jika pergi dan 3 kilo untuk kembali pulang.

“Dulu kalau sudah jam 5 sore saya cepat-cepat pulang non, rumah sekitar sini khan masih kayak hutan. Pohon semua, belum banyak rumah.”

Ia bilang, di pohon-pohon besar di sekitar rumah kami konon banyak hantunya. Sering ada bayang-bayang hitam di pohon-pohon kayak hantu gentayangan, begitu pengakuannya. Orang-orang takut jika lewat. Maka ia selalu memutuskan untuk pulang jam 5 biar tidak terlalu malam melewati pohon-pohon lebat itu.

Tak mudah bagi mbak Ati untuk menjalani hidup seperti ini. Ia harus menyisikan uang gajinya untuk kebutuhan rumah. Pagi, ia memasak dan mencuci dulu lalu suaminya menitipkan anaknya ke tempat saudara sampai sore. Jika malam, mbak Ati seterika sambil menunggui anak-anaknya tidur.

Selama 15 tahun ia bekerja di tempat yang sama, mencuci, seterika, menyapu, mengepel dan masak. Sesekali ia juga diminta mencuci di tempat lain. Ia mau melakukannya karena untuk tambahan uang, anak-anaknya butuh uang jajan.

Mbah Ati juga sempat bekerja untuk mencuci dan menyeterika di beberapa rumah di sekitar kami ketika ia memutuskan untuk keluar setelah 15 tahun bekerja di tempat yang dulu. Anak-anaknya sudah mulai sekolah, maka ia kemudian memilih mencuci dan menyeterika di beberapa rumah di dekat sini, biar cepat selesai pekerjaanya. Setelah itu ia bisa mengantar jemput anaknya sekolah. Pekerjaan ini dijalaninya hingga anak-anaknya besar.


Mbah Ati, hidupnya Kini

Kini, mbah Ati sudah punya 3 cucu. Yang besar umurnya sudah 10 tahun. Mbah Ati hidup dengan 1 anak laki-laki dan menantunya. Menantunya juga bekerja sebagai PRT di tetangga kami. Mereka dipertemukan oleh mbak Ati secara tidak sengaja sampai akhirnya menikah. Menantunya ini orang yang baik dan penyayang. Semua pekerjaan rumah mbah Ati dikerjakannya. Jadi mbah Ati tidak usah repot lagi untuk mengurus semuanya.

Sepeninggal suaminya 15 tahun yang lalu, ia memang terus bekerja membanting tulang tiap hari. Namun karena anaknya sudah besar, maka ia menjadi terbantu.

Anak pertamanya ada di Bogor, bekerja sebagai satpam. Istrinya berjualan. Anak keduanya menjadi ibu rumah tangga, suaminya bekerja di pabrik. Dan anak ketiganya yang sekarang tinggal di rumah bersama mbah Ati bekerja sebagai pembuat pagar, pembuat tangga-tangga rumah dan memasang papan penutup garasi. Sedangkan menantunya yang sekarang tinggal bersamanya bekerja sebagai PRT seperti mbah Ati. Sesekali menantunya ini menjahit baju dan membuat dompet atau tas dari kain untuk dijual.

“Lumayan non penghasilannya, jadi kita gak pernah hutang lagi sekarang. Dulu khan kerjanya hutang terus, sampai malu non, hutang dimana-mana. Sekarang semua  sudah kerja jadi bisa lumayan non..” kata mbah Ati. Ia sedang seterika baju di rumah kami. Tanganya masih kuat. Badannya masih kokoh. Sesekali ia melap keringatnya sambil minum kopi. Ia sangat senang minum kopi. Sehari 2 gelas. Jika ia tak minum kopi, ia tak bisa kerja, lemas katanya. Maka ia selalu minum kopi. Mbah Ati jarang sekali makan, paling sesekali hanya makan roti saja. Ia agak malas makan berat. Jika ada makanan, pasti ia bawa pulang untuk cucunya. Hampir setiap hari jika ada makanan, ia selalu bawa pulang untuk cucunya.

Umurnya kini 56 tahun. Sudah 6,5 tahun bekerja di rumah kami. Pekerjaannya seterika dan jaga anakku setelah anakku pulang sekolah dan ketika aku tidak di rumah. Hari Sabtu ia hanya masuk untuk seterika dan hari minggunya libur.

“ Nanti mau ke rumah anak non, jalan kesana sama cucu. Malam mingguan di rumah anak.”

Itu rutinitas mbah Ati di hari Sabtu selepas bekerja. Ke rumah anak keduanya di Joglo. Cucunya baru lahir, jadi harus sering ditengok. Ia akan kesana bersama cucunya yang tinggal bersamanya. Anaknya yang mengantar naik motor. Ia selalu bawa oleh-oleh untuk cucunya, kadang biskuit atau jika sedang gajian, ia akan membeli ayam goreng untuk cucu-cucunya.

“ Mbah ini khan orang susah ya non, embah gak mau cucu mbah susah kayak embah. Jadi embah nabung biar mereka bisa sekolah tinggi, sesekali beliin ayam gak papa, biar kadang makan enak. Dulu boro-boro non, bisa makan nasi saja sudah bersyukur...”

Perempuan ini bernama Mbah Ati.

Ia orang yang berjasa di rumah kami.

Anak saya memanggilnya embah.


(Foto: safrinadewi.wordpress.com)