Nina dan Anak-Anak Timor Leste yang Dicuri

Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co -  Nina tiba-tiba berdiri, tersenyum dan mengangguk pada kami semua. Rambutnya kini terlihat lebih pendek dan rapi. Penggalan kisah hidupnya benar-benar menghentakkan kami semua. Kami mulai berlinang air mata ketika melihat kisah pilu hidupnya. Bagaimana jika kami mengalami ini semua?. Dipisahkan dari orangtua selama puluhan tahun, tanpa bisa mengingat bagaimana wajah ayah dan ibu kami.

Ini adalah lembaran hitam dalam hidup Nina. Nina adalah anak Timor Leste yang pada tahun 1970-an dibawa pergi oleh tentara Indonesia yang sedang bertugas disana. Mereka dibawa begitu saja ke Indonesia, dimasukkan ke dalam kapal-kapal besar.Nina ingat, bagaimana sang tentara kemudian menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan-pekerjaan di rumahnya setelah ia sampai di Indonesia.


Ia masih kecil waktu itu, umurnya baru sekitar 6 tahun. Hanya ada sedikit ingatannya tentang kampungnya di Timor Leste. Juga tentang wajah ayah dan ibunya.

Cerita yang tak jauh beda dialami Aisah Soares. Ia dibawa dari Timor Leste ketika berumur 7 tahun. Aisah dijanjikan akan disekolahkan di Indonesia. Namun setelah sampai di Indonesia, ia ditinggalkan di sebuah yayasan. Ia dipekerjakan sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan kerap diperlakukan secara tidak menyenangkan. Di Indonesia, nama Aisah Soares kemudian berganti nama menjadi Siti Hapsari. Ia tak hanya kehilangan orangtuanya di Timor Leste, namun identitasnya juga hilang setelah itu.

Anak-anak Timor Leste lain yang dibawa ke Indonesia juga dijanjikan bahwa ketika ia dewasa, ia akan dipulangkan kembali kepada keluarganya di Timor Leste, namun janji itu tak pernah terwujud.

Ribuan anak Timor Leste lainnya di tahun 1970 an juga dibawa oleh tentara, ada yang dipungut menjadi anak, dititipkan di pesantren atau yayasan. Ini tak hanya terjadi pada Nina, namun juga pada ribuan anak perempuan dan anak-anak laki-laki Timor Leste lain kala itu. Ada anak yang ketika besar baru menyadari bahwa ia adalah bukan anak dari ayah ibu yang dikenalnya selama ini.

Keputusasaan, kefrustasian juga menghinggapi anak-anak lainnya yang ingin pulang ke Timor Leste. Mereka berusaha mencari saudara atau teman yang masih diingatnya, agar bisa kembali ke Timor Leste ketika tahu Timor Leste telah merdeka.

Cerita-cerita di atas adalah penggalan dari sebuah film yang berjudul: “Nina dan Anak-Anak Timor Leste yang Dicuri” yang  diputar di Jakarta pada Rabu (23/03/2016) kemarin. Film ini dibuat oleh Asia Justice and Rights (AJAR) bekerjasama dengan sejumlah lembaga seperti Indonesia untuk Kemanusiaan (IKA), KKPK, Kontras dan IKOHI.

Ribuan anak-anak Timor Leste memang telah mengalami pemindahan paksa pada tahun 1970-1990. Direktur AJAR, Galuh Wandita menyatakan bahwa pembuatan film ini berdasarkan advokasi yang dilakukan oleh AJAR yang kala itu mencoba ingin mempertemukan anak-anak yang hilang dari keluarganya. Karena memindahkan anak-anak yang berumur di bawah 18 tahun menurut PBB termasuk ke dalam tindakan trafficking.

“Anak-anak Timor Leste ini awalnya diselundupkan, lalu dimasukkan ke dalam kotak dan dibawa masuk ke kapal-kapal besar.  Anak-anak ini seharusnya dipulangkan karena hak anak adalah dihidupi dan dilindungi orangtuanya, bukan malah diajak pergi, diselundupkan dan justru malah dijauhkan dari keluarganya,” ujar Galuh Wandita.

Dalam catatan AJAR terdapat 4 ribuan anak yang hilang di Timor Leste di tahun 1970 hingga 1980an. Galuh Wandita menyatakan bahwa dalam catatan AJAR ada 4ribu anak yang dipisahkan dari orangtuanya. Setelah di bawa ke Indonesia, ada yang punya kehidupan baik, ada pula yang ditelantarkan, dieksploitase dan hidup berpindah-pindah.

Dominggus, salah satu korban menyatakan bahwa kala itu ia dibawa ayahnya ke kota, kemudian pecahlah konflik antara Indonesia dan Timor Leste di tahun 1976. Ia terpisah dari ayahnya. Sejak itulah ia dibawa ke Indonesia dan dimasukkan ke dalam kapal besar.

Mereka yang ditemukan oleh AJAR rata-rata menceritakan kisah yang sama, bahwa tiba-tiba mereka diajak pergi dan dimasukkan ke dalam kotak. Setelah masuk kotak, mereka dimasukkan ke kapal besar. Hampir semua menceritakan hal yang sama.


Kembali ke Timor Leste

Kira-kira 20 tahun kemudian, Dominggus, Nina, Aisah dan beberapa anak-anak Timor Leste lainnya lalu mendengar kabar bahwa AJAR mempunyai program untuk mengembalikan dan mempertemukan anak-anak untuk kembali ke Timor Leste. Kabar ini mereka dengar dari mulut ke mulut. Betapa bahagianya mereka karena akan bertemu kembali pada keluarganya yang sudah lama terpisah.

Nina bahkan sudah tidak bertemu keluarganya 30 tahun lamanya. Kemajuan ini terjadi pada 18-25 Mei 2015 lalu ketika mereka kembali dipertemukan dengan keluarganya. Kira-kira 14 anak bisa dipertemukan dengan keluarganya kala itu.

Dalam film diperlihatkan bagaimana perpisahan selama puluhan tahun ini meninggalkan sayatan luka, kegembiraan dan cerita hitam yang harus ditinggalkan.

Dominggus tak henti-hentinya memeluk saudara-saudara dan keponakannya. Ini adalah mimpinya yang  dari dulu tak kunjung tiba. Bahkan awalnya ketika ditanya apakah ia siap untuk kembali ke Timor Leste, ia tampak bingung. Bagaimana cara mencari keluarganya? Bagaimana bertemu dengan mereka? Apakah mereka bisa menerimanya? Ijasahnya telah hilang, rumah mereka dulu telah terbakar habis. Dimana keluarganya sekarang berada?.

Kebingungan anak-anak yang kini sudah beranjak tua terbayar sudah. Seluruh keluarganya menyambut mereka dengan gembira.

Nina, Aisah, Dominggus dan lainnya menitikkan air mata. Dada mereka sesak. Mereka hanya berpelukan lama.

Inilah saatnya untuk pulang.