Perempuan, Atas Nama Klik!

Luviana – www.konde.co

Jika anda punya waktu, cobalah klik di mesin pencari atau penelusuran Google tentang apa yang mereka tulis tentang perempuan. Saya tergelitik dengan temuan salah satu kawan tentang hal ini. Lalu sayapun ikut menelusurinya.


Topik tentang Perempuan

Ternyata, ada banyak tulisan tentang perempuan di mesin penelusuran google. Perempuan ditulis sebanyak 11 juta 400 ribu. Namun isinya juga tak kalah mencengangkan. Beberapa judul atau topik perempuan yang ditulis disana membahas tentang: laki-laki membuka baju perempuan, perempuan hot, perempuan nakal, perempuan malam, perempuan malam video, cerita perempuan malam, rahasia seorang perempuan dan perempuan dalam Islam.

Jika kita rata-rata, topik yang paling banyak dibahas adalah tentang: perempuan nakal, perempuan malam dan perempuan hot. Beberapa sub topik didalamnya misalnya berisi tentang: wanita tanpa pakaian apapun, foto cewek-cewek yang paling syur, cewek seksi, ngintipin cewek buka baju, 100 foto bugil cewek telanjang atau alasan laki-laki suka perempuan nakal dan alasan laki-laki suka cewek yang hot.


Topik tentang Laki-laki

Lalu bagaimana mesin penelusur ini menulis tentang laki-laki?. Topik tentang laki-laki ditulis sebanyak 3 juta 960 ribu. Jumlahnya kira-kira hanya sepertiga tulisan tentang perempuan.

Beberapa topik yang ditulis tentang laki-laki yaitu: laki-laki membuka baju perempuan, laki-laki tampan, laki-laki baik mendapat perempuan baik, laki-laki setia, laki-laki melahirkan dan laki-laki tercantik di dunia.

Dua judul terakhir yaitu laki-laki melahirkan dan laki-laki tercantik di dunia ini berisi tentang sejumlah laki-laki yang kemudian melakukan operasi wajah dan kelamin (transgender dan transeksual).  Namun selebihnya, laki-laki banyak ditulis sebagai orang yang tampan, setia, suka membuka baju perempuan, dan laki-laki baik pasti akan mendapat perempuan baik.

Kami jadi mendiskusikan topik ini sampai malam. Pemetaan yang kami lakukan selama ini memang menyebutkan bahwa: internet sebagai media baru memang telah banyak menuliskan tentang perempuan. Namun yang membuat kami kecewa, perempuan tak lebih dari sekedar obyektifikasi di media baru ini.

Jika kita lihat, banyak media online baru yang terbit yang kemudian menjadikan perempuan sebagai “umpan” atas banyaknya klik. Perempuan disajikan sebagai bahan utama agar memperoleh pembaca, karena dengan meng-klik, dengan sendirinya akan menaikkan minat pembaca. Jika pembacanya banyak, maka mesin penelusur juga akan menampilkannya. Tentu ini akan berimbas dengan banyaknya iklan yang masuk. Karena dalam iklan, selalu ada teori: soal kepentingan ekonomi. Jika aku beriklan, berapa orang yang akan membeli produkku?. Begitulah. Perempuan kemudian menjadi pengumpan yang baik untuk mendatangkan klik.

Perempuan misalnya biasa ditampilkan dengan: foto-fotonya dengan baju setengah terbuka, kehidupan seksualnya, relasinya dengan laki-laki atau tentang kehidupan pribadinya. Jika ia adalah perempuan artis, maka ia akan ditanya soal: kapan kawin, kapan cerai, kapan punya anak atau kapan putus?. Jika ia tidak cerai, tidak putus, maka pertanyaan selanjutnya adalah: apakah ia bahagia?.Kehidupan personal ini kemudian dianggap sebagai kehidupan publik yang semua pembaca harus tahu. Konsumsi personal dikonstruksikan sebagai konsumsi publik.


Perspektif Normatif, Konstruktif atau Kritis?


Dari pemetaan kecil ini, kita lalu bisa melihat bagaimana media baru kemudian menulis tentang perempuan?. Apakah perempuan dituliskan dari perspektif normatif, konstruktif ataukah kritis?. Untuk menjawabnya tentu membutuhkan sebuah penelitian yang komprehensif.  Namun secara sekilias, kami bisa melihat beberapa hal:

1. Secara normatif, dari pengamatan kami, kami melihat bahwa perempuan masih dituliskan secara normatif. Yaitu sebagai perempuan yang dianggap nakal, dianggap hot, dianggap sebagai perempuan malam. Perempuan dalam konsep normatif mengidentifikasikan perempuan sebagai: orang yang harus hidup sesuai norma atau kultur masyarakat. Maka jika ada perempuan keluar malam, maka akan disebut sebagai perempuan malam. Jika memakai baju berbeda, maka akan dijuluki perempuan hot. Jadi jika ia menjadi korban kekerasan seksual di jalan, maka secara normatif akan disebut sebagai orang yang salah karena memakai baju seksi.

2. Kedua, Secara konstruktif. Teori konstruktif di media menyebutkan bahwa media sudah mulai mempertanyakan tentang kondisi perempuan. Misalnya, mengapa perempuan dituliskan sebagai perempuan nakal?, Mengapa perempuan diambil foto-foto yang seksi dan hot?, Intinya teori ini sudah mulai mempertanyakan banyak hal tentang kondisi normatif atau kultur dan identifikasi media terhadap perempuan.

3. Ketiga, secara kritis. Teori kritis membongkar semua identifikasi tentang perempuan. Teori ini membongkar tentang kapan lahirnya identifikasi terhadap perempuan, apa latar belakang ekonomi politik atas identifikasi ini?. Apa kepentingan industri dalam identifikasi ini?. Dan siapa saja yang terlibat di dalamnya?.  Teori kritis berangkat dari pertanyaan: mengapa ada banyak hal yang tidak adil?. Beberapa tokoh yang mempelopori teori ini antara lain Karl Mark, Engels , George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, dll.

Teori ekonomi politik di media menyebutkan ada perlakuan kontrol terhadap elit penguasa yang melakukan dominasi ekonomi di media. Teori ini mengambil asumsi Marx tentang dominasi superstruktur yang kemudian banyak digunakan untuk melakukan kritik terhadap media yang bias. Pertanyaan seperti: mengapa budaya kultur mendominasi media?. Apakah audience atau pembaca sadar dengan kekuasaan dari media ini?. Teori ekonomi politik ini adalah penggabungan untuk melakukan kritik terhadap superstuktur, kultur, media.


Jadi, dari sini tentu kita tahu, dimanakah posisi perempuan dalam klik?.


(Foto: ictwatch.com)