Festival Film Buruh 2016, Diselenggarakan di Sejumlah Negara

Luviana – www.konde.co

Konde.co, Jakarta –  Dunia kembali akan memperingati hari buruh Internasional 1 mei 2016 ini. Berbagai strategi dilakukan oleh kelompok-kelompok buruh di dunia untuk berjuang soal upah, kesejahteraan, kesetaraan dan perjuangan dalam sistem ekonomi politik yang menjerat buruh, dari melakukan aksi, diskusi hingga pemutaran film.

Sejumlah festival film tentang buruh akan digelar di beberapa negara sebagai momentum perjuangan di hari buruh. Di Brasil misalnya, Film-film buruh yang melibatkan para akademisi akan digelar di beberapa universitas seperti Sao Paulo Universitiy dan University of Campinas.

Dalam website http://www.socialhistoryportal.org disebutkan bahwa acara ini dilakukan sebagai salah satu ruang untuk menggabungkan karakteristik budaya dan disiplin akademis ilmu-ilmu sosial untuk menyatukan pengetahuan dan pandangan kritis soal dunia kerja. Festival ini juga bertujuan untuk mengapresiasi para pembuat film yang banyak memproduksi film-film buruh. Sekaligus sebagai ajang untuk menyediakan forum diskusi tentang perburuhan yang melibatkan akademisi, mahasiswa, pembuat film dan masyarakat umum.


Di Canada, The Canadian Labour International Film Festival (CLIFF) telah membuka kesempatan bagi siapa saja yang akan mendaftar sebagai pembuat film yang akan diputar dalam festival mereka mulai 1 Mei 2016. CLIFF sudah membuka kesempatan dari bulan Februari  2016 kemarin, walaupun festival film buruh di Canada ini akan diputar setiap bulan November di tiap tahunnya.

CLIFF digelar setiap tahunnya untuk memberikan apresiasi kepada para buruh sekaligus memberikan  ruang ekspresi bagi buruh dan semua pihak untuk lebih mengetahui dan memahami kehidupan para buruh. Dalam situs: labourfilms.ca disebutkan bahwa festival film buruh ini merupakan festival film penting di Canada karena menjadi ruang untuk mengajak anak-anak muda mempelajari sejarah gerakan buruh dari masa lalu hingga masa kini. Anak-anak muda juga bisa belajar pola-pola dan perlakuan yang diterima para buruh-buruh disana.

Kira-kira 11 organisasi yang biasa mengadakan festival film buruh di beberapa negara, di tahun 2015 lalu telah bergabung dalam sebuah wadah yang bernama: Global Labour Film Festival (GLFF). Jaringan dari para penyelenggara film di beberapa negara ini merencanakan untuk mengadakan festival film global bagi buruh-buruh di dunia pada Mei 2016 ini.

Sebelumnya GLFF  melakukan konferensi yang dihadiri para penyelenggara festival film buruh yang dihadiri oleh perwakilan sejumlah negara di tahun 2015 untuk gagasan-gagasan besar ini. Anggota GLFF antaralain: Construir Cine Labor Festival (Buenos Aires, Argentina), the Dublin Labor Film Festival (Ireland), the Haifa International Labor Film Festival (Israel), the Korean Labor Film Festival, May Day Workers Film Festival (San Diego, CA), Muestra de Cine y Trabajo (Madrid, Spain), the Rochester (NY) Labor Film Series, the San Francisco LaborFest, Santa Fe Labor Film Festival, and the Workers Unite Film Festival (New York City).

Dalam programnya GLFF juga akan memfasiltasi sejumlah festival film buruh di beberapa negara. Saat ini GLFF sudah mendata terdapat sekitar 2000 film yang bercerita soal kehidupan buruh di dunia yang bisa diputar di hari buruh.


Film tentang Buruh Perempuan

Film-film bertema buruh perempuan juga akan kembali meramaikan Festival film buruh yang bertajuk The Workers Unite Film Festival yang digelar di New York pada 4-21 Mei 2016 mendatang. Pihak penyelenggara akan memutar sejumlah film buruh dari setiap problem yang mereka alami.

Di tahun 2015 misalnya, sejumlah film yang menceritakan kisah hidup para buruh perempuan diputar dalam festival ini.Film-film buruh perempuan dalam festival ini menyorot dan mempublikasikan perjuangan, keberhasilan dan kehidupan sehari-hari buruh perempuan dalam upaya mereka untuk bersatu dan mengatur buat kondisi hidup yang lebih baik dan berkeadilan sosial.


Mereka berharap film bisa mendidik dan memotivasi penonton untuk mengambil tindakan. Dalam kesempatan ini, semua buruh perempuan bisa menyuarakan suara-suara dan tuntutan mereka, karena film merupakan salah satu strategi atau alat perjuangan.

Sejumlah film tentang buruh perempuan yang pernah diputar dalam festival ini antaralain berisi tentang kehidupan: perempuan-perempuan yang menjadi buruh atau  pekerja laundry, lika-liku kehidupan para perempuan yang bekerja menjadi bagian dari kru atau penyanyi sebuah band.

Film lain, Connected by Coffee misalnya menceritakan tentang kehidupan perempuan petani kopi. Sedangkan film food Vendor menceritakan bagaimana kehidupan para perempuan penjual makanan di jalanan. Film ini bercerita bagaimana mereka hanya menjadi subyek kecil dalam sebuah rantai penjualan dan perdagangan makanan.

Film lain yang pernah dihadirkan dalam film ini misalnya menceritakan tentang kehidupan dan problem perempuan buruh, seperti problem perempuan pekerja rumah tangga, film  tentang eksploitase seksual dan pelecehan di tempat kerja dan bagaimana kemudian mereka mendirikan organisasi pembebasan bagi perempuan.

Kita tunggu, film-film seperti ini akan mampir ke Indonesia atau diselenggarakan festival yang sama di Indonesia. Film bisa menjadi ruang bagi semua pihak untuk memahami problematika yang dialami para buruh, bagaimana perjuangan mereka dalam hidup sehari-hari, dalam serikat buruh dan persoalan global yang sering menjadikan buruh hanya sebagai obyek dari perputaran kondisi ekonomi dan politik di setiap negara.


(Foto: workersunitefilmfestival.org)