22 April, Perempuan Menjaga Bumi


Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co – 22 April merupakan peringatan hari bumi, setiap tahun diperingati, dan para perempuan tetap berjuang untuk mempertahankan bumi dan isi alamnya. Dari keserakahan perusahaan-perusahaan yang menguasai lingkungan, melakukan pencemaran dan kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada bumi. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana perempuan merawat lingkungannya, perempuan adat, petani yang memelihara lingkungan dan mempertahankannya.

Dalam feminisme dikenal istilah ecofeminisme. Ecofeminisme menggarisbawahi bahwa perempuan adalah ibu bumi. Perempuanlah yang merawat alam dan kemudian mengggunakan dan mengusahakan bumi ini. Konsep ini kemudian diterjemahkan sebagai: cara untuk bersetubuh bersama alam, yaitu tidak hanya menggunakan namun juga memelihara alam.

Konsep bersetubuh bersama alam ini lahir setelah banyaknya keserahan manusia yang ingin menguasai alam. Padahal manusia seharusnya tidak hanya menggunakan isi alam, namun juga merawat dan memberikan kehidupan baru bagi bumi. Ini adalah inti ecofeminisme. Dan selama ini perempuanlah yang merawat bumi. Dari perusahaan perusak alam, dari kebijakan yang membumihanguskan bumi dan konsep-konsep patriarki atas bumi: merusak dan menghancurkan bumi.

Salah satu feminis Susan Griffin, misalnya menyatakan pentingnya mempertahankan dan menjaga bumi sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Jadi mempertahankan bumi yaitu dengan cara tidak hanya dengan memperhatikan lingkungan yang berisi manusia, namun juga memelihara binatang dan tumbuhan dan segala isi bumi.

Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan dan Manusia di Stockholm, Swedia, pada 1972, yang mencetuskan Deklarasi Stockholm, bisa menjadi pijakan awal dari kesadaran komunitas internasional akan pentingnya keberlanjutan lingkungan hidup sebagai bagian mendasar bagi pemenuhan HAM. Kualitas lingkungan hidup yang baik tidak bisa dijaga tanpa penghormatan atas HAM, dan HAM tidak bisa diperoleh tanpa lingkungan hidup yang baik dan aman. Penghormatan, perlindungan, penegakan, dan pemenuhan HAM sangat bergantung pada lingkungan hidup yang sehat dan layak huni. Dalam sebuah ekosistem yang rusak, tidak mungkin atau hampir mustahil menikmati serta memperoleh hak untuk hidup, kesehatan, keamanan, kecukupan pangan, dan budaya.

Manusia selama ini dikenal sebagai makluk pemakan segala. Ecofeminisme kemudian mengingatkan agar manusia merawat seluruh isi bumi, termasuk memelihara binatang dan tumbuhan sebagai bagian dari semesta alam. Karena merawat bumi sama dengan memberikan kelangsungan hidup yang panjang bagi anak-anak bumi. Perempuan sudah memberikan contoh perjuangan nyata selama ini.



(Sumber informasi: Mimin Dwi Hartono, unisosdem.org dan Maggy Hum/ Dictionary of Feminist Theories)
(Foto: greensty.org)