Asri Sarawati: Kami hanya ingin bisnis yang lebih fair


Asri (kanan) dan suaminya, Andhika, di depan rumah mereka di Sleman, Yogyakarta. 

Sica Harum -www.konde.co 

Di Desa Sendangrejo, Sleman Yogyakarta, Asri Saraswati Iskandar mengelola Agradaya yang bekerja sama dengan petani lokal menciptakan hasil pertanian yang lebih baik. Bersama suami dan tim-nya,  ia mendampingi ibu-ibu di desa menghasilkan emping melinjo dan kombucha. Berikut ini wawancara dengan Asri melalui surel..  


Asri, kenapa akhirnya tertarik berdomisili dan berkarya di desa?


Mungkin karena pengalaman pribadi, ya. Saya lahir dan hidup di Jakarta dan Bandung, kemudian kuliah menghabiskan waktu di Malaysia, di kota yang lokasinya dekat sekali dengan Singapore. Semua serba hectic. Saat saya SMA, saya pernah ikut suatu misi budaya di Belanda hampir 3 bulan. Kebetulan rumah guest parent saya ada di desa. Sejak itu sebetulnya punya mimpi tinggal di desa. Kemudian, tipping point-nya adalah waktu ikut Indonesia Mengajar(IM). Saya setahun mengajar di desa, semua akses sangat terbatas. Air bersih, sinyal, listrik bahkan informasi sangat terbatas. Pengalaman ini membuat saya pribadi lebih kenal Indonesia, yang jauh dari hiruk pikuk yang digambarkan media. Real life yang mungkin emang seharusnya begitu (secara default Indonesia tuh gitu), yang baru saya kenal. Enggak money driven, dan semua sharing based on adat and culture. Peaceful banget! Pengalaman ini juga membuat kita melihat banyak potensi desa yang cenderung tidak tergarap dan tidak dimaksimalkan lantaran ketiadaan informasi.

Tapi, saya ini kan produk manusia modern, sehingga ketika kembali ke Jakarta, pergolakan batinnya kenceng banget. Hehehe. Setelah program IM berakhir, saya sempat bekerja untuk sebuah perusahaan fesyen di Jakarta. Saya gampang sakit, mungkin karena energi saya jadi gampang habis dengan rutinitas di Jakarta, dan mungkin juga karena udara kotor. Barulah saya memutuskan dengan beberapa teman alumni IM untuk bikin sesuatu di desa. Pastilah ada pola hidup yang lebih baik untuk generasi Y dibanding sekedar spending our time with air pollution and bad energy di Jakarta. Akhirnya kita pindah ke sebuah desa di Jogja dan sambil merakit kapal membuat sebuah model yang bisa menghidupi kami dan juga baik untuk orang sekitar. Kalaupun hectic,  pasti bisa dijalani dengan senang sebab sesuai dengan passion dan dikerjakan di tempat yang energinya baik.

Apa maksudnya model yang baik juga untuk orang sekitar? Seperti apa kesetaraan dalam bisnis yang kemudian menjadi sprit/ruh Agradaya, dan bagaimana hal ini bisa membantu perempuan/ibu-ibu untuk kehidupan yang lebih baik, baik untuk diri mereka dan keluarga mereka?

Dua tahun lalu kami enggak berpikir akan membuat bisnis, Mbak. Kami ini anak-anak kota yang datang ke desa cuma mau "belajar" aja dulu. Setelah melihat kehidupan desa, kami kok merasa lebih ayem ya? Tapi tentunya bukan tanpa masalah ya. Akhirnya dengan hasil baca banyak hal di lapangan terbentuklah Agradaya. Di Indonesia ini, desa cuma dijadikan sumber produksi.  Petani hanya bekerja sampai panen berakhir, hanya bekerja di ladang saja (on-farm) sedangkan proses selanjutnya ( pascapanen) jadi produk lain. Proses added value lainnya tidak dijalankan oleh petani di desa, semua dimainkan oleh rantai selanjutnya. tanpa sadar petani cuma diambil produknya saja padahal nilai ekonomi lebih tinggi ada di rantai selanjutnya (off-farm ). Ini umum sekali terjadi di Indonesia dengan dalih di desa orangnya bodo dan ketidaktahuan. Menurut kami saat itu, petani tidak mendapatkan haknya. sedangkan orang-orang di kota consume everything unconsciously . Hehehe...ada beberapa hal yang bikin kami tergelitik.

Ini kontras banget pengalaman saya, saat tinggal dengan guest parent yang juga petani di Belanda. Si bapak mengerjakan off farm di desa yang memang punya unit produksi sendiri untuk mengolah hasil tani menjadi roti, tepung gandung, keju dan lainnya. Konsumsi rumah tangganya enggak jauh-jauh, ya sudah diipenuhi dari desa juga. Ini ideal dan mimpinya Agradaya kelak.

Salah satu ibu pengemping di Desa Sendangrejo, Sleman Yogyakarta. (Foto: Facebook.com/agradaya)

Saat ini kami sedang memulai untuk mengajak perempuan dan anak mudah di desa untuk tetap tinggal di desa, dan mengisi waktu luang untuk berproduksi. Supaya ketika suami panen sudah ada unit produksi yang siap mengelola di level desa. Sekarang produk kami ialah emping dan kombucha. Kami juga sedang menjajaki komoditas baru, yaitu rempah-rempah. Basis bisnisnya ialah profit sharing dan transparansi. Ibu-ibu diberikan informasi HPP ( harga pokok produksi) , margin keuntungan dan tingkat kesulitan pemrosesan tiap produk. Presentasi keuntungan dilakukan based on "kumpulan" semacam musyawarah biasanya disini tiap Sabtu legi.


Dari unit produksi ini, kita mengajak ibu-ibu untuk bisa menghargai waktu dan tenaganya. Sebab biasanya para petani di desa tidak menghitung tenaga dan waktu sebagai cost. Jadi mereka bisa menghitung cost yang harus dibayar utk mereka bekerja, termasuk jika ada kebutuhan untuk uang rewang ( semacam uang sumbangan, ketika ada kenduri. Ini sangat membebani sekali buat banyak ibu-ibu dan RTdi desa, tapi karena alasan kultur dan adat ya harus tetap jalan). Akhirnya tabungan rewang ini kami masukkan ke dalam skema sharing  supaya ibu-ibu bisa nabung. Rewang ini wajib bagi perempuan di desa membawa uang atau hasil bumi. Kalau lagi banyak yang meninggal, menikah atau melahirkan, pengeluaran ini jadi sangat banyak.


Kami yakin usaha yang berkah itu bukan cuma dinikmati segelintir orang tapi juga banyak orang. Apalagi kalau lihat bisnis zaman sekarang banyak yang kurang fair. Orang-orang yang bekerja tidak dengan otot cenderung ingin mendapatkan share yang lebih banyak dengan alasan ilmu itu mahal. Dan itu dilakukan oleh orang-orang yang katanya berpendidikan a.k.a sarjana lho. Jadi sebenarnya kami cuma ingin menjalani bisnis yang fair saja, yang adil.

Materi komunikasi Agradaya yang 'kekinian' dan mendekatkan diri ke anak muda. (Gambar: Facebook.com/agradaya)


Lalu bagaimana pengalaman Agradaya menerapkan sharing economy?


Yang harus dirasakan semua aktor ketika mau menerapkan sharing economy ini adalah konsep equality. Enggak boleh ada yang merasa “gw yang punya uang, gw ngerasa harusnya gw dapet share lebih banyak” (padahal prinsip ekonomi sekarang gitu ya? hehehe). Enggak bisa merasa “gw lebih berkuasa, gw diatas, gw bos.”


Sebaliknya yang memberi sumbangan tenaga juga enggak boleh merasa minder, “saya cuma kerja aja, gak bisa mengkritik. Dan kalau di Jawa terutama Yogya, kondisi di sini tuh, “yo ngene wae wes syukur,” (red: begini saja sudah bersyukur). Ya bagus sih bersyukur cuma mereka harus sadar bahwa mereka berharga. Empowerment itu penting sekali.

Jadi sebenarnya kelebihan sharing economy ini jangan hanya dilihat dari berapa dollar raised up and share to women after doing this business tapi lebih ke arah bagaimana ibu-ibu ini jadi bisa menghargai diri mereka sendiri, anak-anak mereka bisa sekolah dengan layak, ibu-ibu bisa menyediakan makanan sehat langsung dari kebunnya bebas 4P ( walau di desa, banyak banget pengguna penyedap makanan instant). Justru saya pribadi malah sedih ketika ada ibu yang income-nya bisa naik hingga 50-70 ribu rupiah per hari tapi malah ambil cicilan motor dan datang ke kami dengan keluhan enggak mampu menyekolahkan anak.