Bagaimana Menjelaskan Perceraian pada Anak?


Luviana – www.konde.co


Move on.

Ayo, cepat Move on!

Kalimat itu yang sering saya dengar ketika ada kawan kami yang putus dengan pacarnya atau bercerai. Namun tentu tak semudah itu. Perempuan yang menjadi korban kekerasan dalam pacaran atau kekerasan dalam rumah tangga, tak bisa mudah move on. Karena harus menuntaskan kasusnya.Tak jarang harus bertahun-tahun menunggu di depan pengadilan.

Itu cerita pahit tentang relasi atau perkawinan.


Lalu bagaimana menjelaskan perceraian pada anak-anak, dengan bahasa yang simpel dan mudah dipahami? Apakah cukup hanya dengan mengatakan:

“ Ayah dan ibu harus berpisah, Nak.. kamu mau ikut siapa?”

Ataukah dengan kalimat ,”Kita akan jarang ketemu lagi nak, karena ayah dan ibu memutuskan berpisah.”

“ Kamu akan ikut ibu nak, karena ayahmu meninggalkan kita.”

“ Ayah akan pergi jauh dan lama, Nak...kamu dan ibu akan tinggal bersama nenek dan kakek.”

Semua kalimat itu terasa pahit dan menyedihkan.
 


Adalah Denia Putri Prameswari. Denia adalah penulis buku “Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil” (Arkea books, 2015). Buku ini sebagai pengalaman dan refleksinya terhadap hubungan 2 orang dewasa yang dulu baik, saling mengisi, saling mencintai dan kemudian berpisah. 

Buku ini kemudian menjelaskan permasalahan besar kepada anak dengan cara yang mudah mereka pahami: bagaimana menjelaskan tentang perceraian pada anak-anak? Lewat cerita anak kelincinya, Denia mengajak untuk memahami dunia anak-anak yang harus menerima keputusan orangtuanya dengan tiba-tiba. Apa rasanya jika orangtua bercerai? Apa yang berkecamuk dalam dadanya? Dengan dilengkapi ilustrasi dari Randy Archie Primawan, buku Denia menjelaskan ini semua. Buku ini juga merupakan thesisnya di Magister Psikologi Universitas Indonesia.

Nah, Kemarin malam, saya menyodorkan buku Denia ini pada anak saya. Ia membacanya sebelum tidur. Ia kelihatan sedih setelah membacanya. Tengah malam, ia bertanya:

”Ibu, mengapa ayah dan ibu kelinci harus berpisah? Kasian anak kelinci jadi sedih banget...”

Mungkin, inilah ekspresi anak yang pedih.

Batinnya luka.

Denia pandai menyelipkan kalimat-kalimat yang menenangkan hati: “Kami Tetap Menyayangimu, Kelinci Kecil.”


(Foto: Luviana dan arkea.id)