Film “Women and Impact”, Hapus Stigma Perempuan



Luviana – www.konde.co

Jakarta, konde.co – Sebuah film tentang perempuan kembali diluncurkan. King of The Day Production bekerjasama dengan Komnas Perempuan   meluncurkan sebuah film tentang kehidupan perempuan yang menerima stereotype karena mereka perempuan, juga mendapatkan kekerasan dan diskriminasi hanya karena mereka perempuan. Peluncuran dilakukan Selasa (26/4/2016) hari ini di Jakarta.

Film dokumenter berjudul “Women and Impact”  yang disutradari oleh Kennedy Jennifer Dhillon dan Mindo Carlo Sopar Pasaribu ini berkisah tentang 15 perempuan yang berjuang untuk melawan stereotype, kekerasan dan diskriminasi yang mereka alami. Antaralain ada kisah tentang aktivis HIV/AIDS Baby Jim Aditya, Penyanyi Imela Kei, psikolog anak Elisabeth Santoso, aktivis perempuan Mariana Amiruddin, aktivis HIV/AIDS Christina Siahaan, 2 penyanyi Imela Kei dan Kartika Jahja, juga aktivis perempuan Helga Worotidjan.

Kartika Jahja misalnya sering menerima pertanyaan tentang: mengapa tubuhnya gemuk? Apakah tidak bisa kurus agar penampilannya terlihat menarik?. Ini membuat Kartika kemudian menjadi minder dan menyadari bahwa tubuhnya tidak disukai oleh orang yang melihatnya.

Imela Kei ketika belum menjadi penyanyi Ten 2 Five, pernah bekerja sebagai seorang sekretaris sebuah perusahaan. Ia banyak dirayu dan harus mau diajak kencan oleh atasannya. Imela Kei sangat terpukul dengan kondisi ini.

“Saya seperti tidak dihargai, padahal saya hanya ingin bekerja mencari uang seperti yang lainnya, namun saya mengalami pelecehan-pelecehan dari atasan saya dulu,” jelas Imela.

Karena mau keluar dari situasi ini, maka ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Hal ini tak mudah karena ia membutuhkan uang untuk hidup. Beruntung, ia cepat bangkit dan kemudian terus menyanyi. Tak berapa lama, Imela malah bisa membuat album bersama teman-temannya di Ten 2 Five.


Sejumlah perempuan lain juga mendapatkan stigma buruk karena mereka bertatto. Karena tatto bagi perempuan selalu identik dengan perempuan nakal dan buruk hidupnya.

Hal lain juga diterima oleh Sandra Pertasari seorang politisi dari PDIP. Ia adalah perempuan yang mendapatkan pelecehan pada peristiwa 27 Juli di Jakarta. Pada saat kerusuhan 27 Juli  1997 terjadi, Sandra pernah ditelanjangi. Tak mudah baginya menerima kenyataan-kenyataan ini. Film ini berkisah tentang bagaimana para perempuan menerima kenyataan dan kemudian bangkit dari keterpurukan.

Sementara yang lain, ada kisah tentang aktivis HIV/AIDS seperti Baby Jim Aditya. Baby karena bekerja untuk melakukan kampanye kesadaran gender pada sopir-sopir truk di Pantura, ia sering pulang malam. Karena seringnya pulang malam ini, iapun sering dipertanyakan masyarakat, tentang mengapa ia sebagai perempuan sering pulang malam dan terlalu banyak beraktivitas.

Serba Salah Menjadi Perempuan

Setelah menonton film ini, para penonton pasti akan menghela nafas:  serba salah memang menjadi perempuan, ya. Menjadi gemuk salah, pulang malam salah, menjadi aktivis salah, apalagi bertatto. Cap atau stigma buruk inilah yang selalu dilekatkan pada perempuan. Stigma ini menjadi kultur yang tak lentur hingga kini. Hal ini pulalah yang kemudian membatasi ruang gerak perempuan. Para perempuan menjadi benci dengan tubuhnya karena stigma yang melekat ini. Perempuan juga seperti diminta untuk hidup seperti yang diinginkan masyarakat seperti harus selalu di rumah, tidak boleh macam-macam, tidak boleh dandan terlalu cantik dan penurut, tak boleh protes.

Film ini memang sengaja diluncurkan untuk menunjukkan stigma, kekerasan dan diskriminasi yang dialami perempuan, sekaligus juga menunjukkan bagaimana perempuan kemudian hidup dengan ini semua. Ada yang memilih untuk meratapi lalu bangkit, namun ada yang memilih menolak dan melawan. Film Kennedy Jennifer menceritakan tentang ini semua.



(Foto: Suasana Peluncuran film "Women and Impact" di Komnas Perempuan, Selasa 26 April 2016/ Luviana/ www.konde.co)