Gallyta Nur Bawoel: Berjuang Bersama Buruh Hingga ke Penjara

Edisi Kartini: Khusus untuk edisi minggu ini (18-23 April 2016), kami akan menuliskan ide-ide perjuangan Kartini dan perjuangan yang dilakukan para perempuan di masa sekarang. Kami melakukan wawancara terhadap sejumlah profil perempuan yang selama ini jauh dari hingar-bingar, tidak terendus media dan memilih dekat dengan masyarakat marjinal. Kami juga menuliskan soal ide-ide dan perjuangan Kartini di masa sekarang, diskriminasi,kekerasan, stereotype yang dialami perempuan dan  perjuangan mereka di masa kini. (Redaksi)



Luviana-www.konde.co

Konde.co, Jakarta- Apa rasanya hidup di dalam penjara? Ruang yang penuh dan sempit. Jauh dari keluarga dan diasingkan.

Gallyta  masih ingat bagaimana jeruji penjara kemudian memisahkannya dari anak dan keluarganya. Airmatanya masih menetes ketika mengingat itu semua. Perjuangan memang butuh korban, begitu ujar Galyta.

"Sabar ya nak, ibumu sedang berjuang."

Kalimat itu ia ucapkan pada anak pertamanya,  ketika penjara tak bisa dihindarinya. Ia juga harus berjuang dari keluarga yang tidak pernah setuju dengan jalan perjuangan yang diambilnya. Hanya ibunya satu satunya dalam keluarganya yang mendukungnya. Galyta seperti diguyur air segar ketika ibunya selalu menjenguknya bersama anaknya di penjara kala itu.

"Ibu adalah orang yang menguatkan saya. Ibu mempercayai saya dan tak pernah menuntut apa-apa."

Airmatanya masih terus menetes ketika menceritakan itu.

Dan benar saja, penjara pertama tak pernah membuatnya jera.



Gallyta dan Pilihan Perjuangan

Lahir di Manado, Sulawesi Utara Gallyta Nur Bawoel (44 tahun) pernah aktif di Partai Rakyat Demokratik (PRD) dan kemudian memutuskan untuk masuk di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado mendampingi para buruh, petani dan nelayan.

Pada tahun 2002 ia dipenjara selama 6 bulan di Lembaga Pemasyarakat (LP) Manado karena melakukan pembelaan pada aksi tani di Manado. Disinilah ia kemudian memutuskan untuk melakukan pembelaan pada si miskin.

Lalu pada tahun 2003 ia juga kembali ditangkap pada aksi buruh di Manado. Ia hanya ditahan beberapa hari, namun akhirnya dilepaskan lagi.

Tahun 2010, ia memutuskan ke Jakarta dan masuk di Serikat Buruh SBTPI (Serikat Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia) hingga sekarang. Pekerjaannya tak sederhana. Dari mengorganisir sopir sopir di pelabuhan di Tanjungpriok Jakarta hingga buruh buruh lain disana. Berbagai kasus buruh pelabuhan ia tangani.

Gallyta juga termasuk satu dari 4 buruh perempuan korban kriminalisasi yang saat ini kasusnya sedang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakpus. Ia kini terancam lagi untuk masuk bui. Gallyta didakwa polisi melakukan demo ilegal bersama 22 aktivis buruh, seorang mahasiswa dan 2 pengacara LBH Jakarta menolak PP Pengupahan pada 30 Oktober 2015 lalu. Ia diangkut ke kantor polisi setelah ia menolong beberapa buruh yang jatuh, dipukul dalam aksi.


Penjara dan Keluarga


Anak pertamanya kini sudah lepas SMA dan bekerja. Umurnya kini 22 tahun.
Ia juga sudah tahu jika ibunya sedang terancam kembali masuk penjara. Jika benar, maka ini merupakan penjara kedua bagi ibunya

"Sepertiya ia sudah akrab dengan dunia saya, jadi ia tak lagi banyak bertanya," ujar Gallyta menceritakan tentang anak pertamanya.

Yang masih sulit yaitu menerangkan pada anak ketiganya. Umurnya baru 3 tahun dan ia belum paham situasi yang terjadi. Ia hanya tahu jika ibunya bekerja di pelabuhan dan berteman dengan banyak sopir.

Namun anak keduanya, Aini sudah mulai bertanya:

"Ibu..kalau ibu dipenjara,apakah ibu termasuk orang jahat?."

Gallyta trenyuh mendengarnya.

"Tak semua yang dipenjara jahat nak...buktinya ibu tidak jahat. ibu justru membantu banyak orang dan sekarang justru ibu yang akan dipenjara."

Sesibuk apapun Gallyta tetap menerangkan hal hal kecil hingga detail ke anaknya. Ibunyalah yang mengajarinya soal itu. Ibunyalah yang selalu menaruh kepercayaan ini dari kecil pada Gallyta.

"Tiba tiba ibu menelepon saya,ibu bilang katanya lihat wajah saya di TV karena saya ditangkap polisi pada aksi menolak PP Pengupahan itu. Ibu hanya bilang, sabar saja dalam berjuang. Dan ini sudah membuat saya kuat."

Gallyta senang bahwa ibunya selalu mendukung semua jalan yang ia ambil. Suaminya, juga seorang aktivis buruh juga orang yang selalu mendukungnya selama ini.

Ia lalu teringat ketiga anaknya. Jika ia dinyatakan bersalah oleh hakim, maka ini adalah penjara kedua baginya.

“Doakan anak-anak saya siap menerima ini...,” ujar Gallyta.