Kennedy Jennifer, Sutradara Menolak Kekerasan

Luviana – www.konde.co




Jakarta, Konde.co – Permintaan agar ia tak mengambil jurusan film itu datang dari orangtuanya. Kennedy Jennifer Dhillon, tak boleh kuliah film oleh orangtuanya, karena menurut orangtuanya, menjadi sutradara film selalu identik dengan pulang malam, jam kerja tak menentu dan nasib yang juga tak tentu. Pekerjaan menjadi sutradara film menurut orangtuanya adalah pekerjaan laki-laki yang tak cocok dengan perempuan.

“Barangkali jika saya menuruti kemauan orangtua untuk tidak mengambil jurusan film, maka saya saat ini tidak berdiri disini,” demikian Kennedy.

Kennedy Jennifer adalah sutradara film “Women and Impact” yang pada Selasa (26/04/2016) kemarin diluncurkan di Komnas Perempuan. Film ini menceritakan tentang stereotype yang melekat pada perempuan, juga kekerasan dan diskriminasi yang dialami perempuan hanya karena ia seorang perempuan.

Kennedypun pernah mengalaminya. Ia kemudian melepaskan stigma ini dan membuktikan pada orangtuanya bahwa perempuan bisa membuat film dan bekerja di film. Walaupun tak mudah untuk membuktikannya. Untuk membuat film misalnya, Kennedy biasanya menabung dulu. Setelah uang terkumpul baru kemudian bisa membuatnya. Memang harus bekerja keras untuk mewujudkan apa yang kita inginkan, ungkap Kennedy.


Menolak Kekerasan


Selain menolak stigma pada dirinya, ada hal lain yang terus menganggunya, ketika ia sering dipanggil sebagai: India. Kennedy yang merupakan keturunan India, sering dipanggil “India, India...”

Ini tentu membuatnya jengah.

Pernah pada suatu hari ia dilecehkan oleh seorang satpam di sebuah Mall. Selain dilecehkan, ia juga dipanggil: India. Kennedypun melawan. Sang satpam kemudian dilaporkannya ke manajemen Mall. Dan benar, satpam tersebut memang sudah berkali-kali melakukan pelecehan terhadap perempuan lain yang sering berkunjung ke mall tersebut. Ia menyatakan diri sebagai perempuan yang siap untuk melawan dan tak mau jadi korban. Kisah hidupnya inilah yang kemudian menginspirasinya membuat film tentang perempuan.

“Saya tidak bisa membayangkan jika para perempuan korban berhenti melawan, karena jika tidak melawan maka akan banyak korban berjatuhan. Saya membuat film ini karena melihat kenyataan bahwa stigma dan kekerasan yang masih banyak dialami perempuan.”

Selain membuat film dan video klip, Kennedy kemudian juga menulis buku: #Fight#Pray#Hope#, Garis Harapan untuk Anak Penderita Kanker.” Kennedy menulis buku ini setelah melihat pengabdian seorang dokter yang merawat kanker anak-anak, dr. Edi Setiawan Tehuteru yang tulus melayani pasiennya. Ia tersentuh dengan apa yang dilakukan dokter dan pasien kanker anak-anak. Buku ini ditulisnya ketika ia menjadi volunteer untuk anak-anak penderita kanker di rumah sakit di Jakarta.

“Jika saya kuliah di manajemen atau jurusan teknik, saya pasti tidak bisa menjadi volunteer dan menuliskan buku ini karena hati saya tidak disana. Hati saya disini, menulis buku dan membuat film,” ujar Kennedy.

Bagi Kennedy, film atau buku adalah tempat untuk bercerita atau bertutur. Dengan film dan buku para perempuan bisa menceritakan kekerasan atau diskriminasi yang selama ini mereka alami. Kennedy tak sendiri, ada banyak perempuan yang mengalami kekerasan yang sama dan akhirnya menolak  segala bentuk kekerasan ini.



(Foto: instagram)