Masyuti, Sanik dan Muhayati: 3 Perempuan Merebut Ibukota

Edisi Kartini: khusus untuk edisi minggu ini (18-23 April 2016), kami akan menuliskan ide-ide perjuangan Kartini dan perjuangan yang dilakukan para perempuan di masa sekarang. Kami melakukan wawancara terhadap sejumlah perempuan yang selama ini jauh dari hingar-bingar, tidak terendus media dan memilih dekat dengan masyarakat marjinal. Kami juga menuliskan soal ide-ide dan perjuangan Kartini di masa sekarang, diskriminasi,kekerasan, stereotype yang dialami perempuan dan  perjuangan mereka di masa kini. (Redaksi)


Luviana – www.konde.co

Ada 3 perempuan yang berada di balik layar. Layar ini adalah layar ibukota yang bernama Jakarta. Masyuti, Sanik dan Muhayati. Tiga perempuan ini dengan caranya masing-masing, mengorganisir para ibu dan perempuan-perempuan di Jakarta, membanting tulang dalam pergulatan warga, melawan pembangunan kota yang tak berpihak dengan wajahnya. Dari tergusur hingga mendampingi korban tergusur, dari ibu rumah tangga hingga menggalakkan ibu-ibu menabung, dari tinggal di perkampungan buruh hingga mendirikan sekolah untuk anak-anak buruh. Inilah pergulatan mereka dalam merebut ibukota:


Masyuti dan Perjuangan Anak Buruh
Masyuti (44 tahun) adalah perempuan yang hidup di kampung buruh di Cakung, Jakarta. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik yang jaraknya tak jauh dari rumah mereka. Tak kurang apa yang dilakukan Masyuti di kampung buruh ini.

Anak-anak buruh di Cakung ini harus menghadapi sekolah mahal. Anak-anak buruh yang masih kecil, takkan bisa sekolah SD jika mereka tak bisa baca dan menulis. Sedangkan untuk masuk playgroup, mahalnya bukan kepalang. Tentu tak cukup uang bayaran UMR untuk membayar sekolah playgroup yang mahal.

Untung Masyuti dan para perempuan buruh pabrik, kemudian  bersiasat. Di tahun 2002,ia mulai mengumpulkan para ibu, para perempuan yang bekerja di pabrik maupun yang suaminya bekerja di pabrik untuk membuat sekolah bagi anak-anak buruh.

Rapat untuk pembentukan sekolahpun dimulainya. Semua memberi sumbang saran. Mereka hanya menginginkan satu hal, agar sekolah segera dibangun. Tak kurang, Masyuti juga mengajak teman-teman organisasinya di Forum Masyarakat Kota Jakarta (FMKJ). Organisasi ini mengurusi persoalan yang dialami masyarakat miskin di Jakarta. Para korban gusuran, para korban yang tak bisa membayar biaya rumah sakit mahal, yang rumahnya di pinggiran kota Jakarta, para pemulung, buruh pabrik, semua berkumpul disini. Masyuti adalah ketua organisasi ini.

Dulu, Masyuti pernah mendampingi masyarakat korban gusuran Cengkareng di tahun 2003 waktu digusur Soetiyoso. Selama setahun, ia tidur di pelataran Komnas HAM, menemani para korban gusuran. Masyuti tahu, siapa yang belum mandi hari itu, siapa yang belum makan dan siapa yang sakit dan harus dibawa ke rumah sakit. Mengenal hampir seribu orang yang sudah digusur membuat Masyuti kemudian belajar banyak tentang bagaimana mengatasi persoalan kaum miskin kota di Jakarta.

Harus turun ke jalan, melakukan aksi-aksi sepanjang hari, sepanjang bulan, sepanjang tahunpun dilakukannya. Masyuti belajar banyak untuk tak menyerah pada nasib.

Persoalan para buruh yang tak punya uang untuk menyekolahkan anaknyapun berhasil diatasinya. Bersama para perempuan buruh pabrik dan istri-istri buruh pabrik di Cakung, ia kemudian berhasil mendirikan sekolah PAUD (Pendidikan Anak usia Dini).

Terletak di pinggir kali di bantaran sungai di Cakung, sekolah ini kemudian berdiri di tahun 2004. Mereka beri nama sekolah ini: sekolah Rawa terate. Awalnya, muridnya hanya 5 orang.

“ Muridnya kini sudah banyak.  Kami sudah punya 2 sekolah dan  anak-anak buruh bisa sekolah murah,” ujar Masyuti senang.Ya. Sekolah ini hanya murah saja bayarnya. Jika punya uang, maka orangtua murid bisa membayar 10 ribu rupiah perbulannya. Namun jika tak punya uang, mereka boleh membayarnya secara gratis atau cuma-cuma. Atau bisa juga membayarnya nanti, hingga punya uang.

Sudah 12 tahun sekolah ini berdiri, dan Masyuti selalu berada di balik punggung anak-anak buruh Jakarta, yang tak berhenti untuk berjuang.

 
Sanik, Ciliwung dan Kecubung
Bukit Duri pinggir kali Ciliwung, tak pernah sepi dari aktivitas. Para perempuan yang hidup disini rata-rata menjadi ibu rumah tangga, namun lebih banyak yang berdagang. Mereka membutuhkan modal. Rata-rata perempuan yang butuh modal bekerja sebagai pedagang. Mereka berdagang sate, soto, urap, lontong sayur, baju dan bakso di sepanjang Ciliwung. Ada yang berjualan di depan rumah, beberapa perempuan penjual sate dan bakso berjualan keliling.

Maka untuk mensiasati ini Sanik (37 tahun), seorang ibu yang tinggal di pinggir kali Ciliwung bersama organisasi Ciliwung Merdeka, organisasi yang berjuang bagi masyarakat pinggiran Ciliwung dan masyarakat marjinal Jakarta, berpikir untuk mengajak para perempuan disana untuk menabung dan mengadakan arisan.

“Awalnya mau membentuk koperasi, tetapi ini masih proses, maka kemudian kami berinisiatif untuk mengajak ibu-ibu untuk menabung dan arisan,” kata Sanik.

Para perempuan merasa senang karena dengan menabung dan arisan ini, kondisi keuangan mereka menjadi terbantu. Arisan ini kemudian dilakukan, ada yang menggunakan sistem harian yaitu setiap hari iuran dan mendapatkan arisan, ada yang sistem mingguan atau arisan seminggu sekali dan bulanan.Yang harian misalnya bentuknya tabungan, yang bulanan adalah sistemnya paketan.

Maka Sanik kemudian menggiatkan ibu-ibu disini dan terbentuklah Kecubung (ibu-ibu Ciliwung Menabung). Anggotanya 55 orang perempuan. Selama ini arisan hariannya membayar 5 ribu, arisan perminggunya seratus ribu dan arisan perbulannya 300 ribu.

“Ada ibu yang hanya ikut arisan harian saja, ada yang ikut mingguan dan ada yang hanya ikut arisan bulanan. Terserah saja karena ini kebutuhan setiap orang berbeda. Bisanya jika mendapat arisan digunakan untuk pulang kampung waktu lebaran atau menambah modal. Arisan selalu kami adakan disini, di depan rumah kami. Ini memang sarana bagi ibu-ibu untuk berkumpul dan bercerita.”

Sanik menuturkan, selain arisan Sanik kemudian juga mengajak para ibu dan perempuan untuk menabung. 

“Kami menabung sehari seribu rupiah. Jika lebih, maka akan lebih bagus. Jadi tabungan wajib seribu dan sukarela seribu. Uang sukarela ini sewaktu-waktu bisa diambil. Yang tabungan wajib diambil ketika membutuhkan misalnya ketika keluarganya sakit, butuh untuk khitanan anaknya atau kebutuhan mendadak lain.”


Bukit Duri Ciliwung saat ini terancam untuk digusur Gubernur Ahok dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Sanik tertunduk jika ditanyakan tentang hal ini. Padahal aktivitas seperti inilah yang selama ini menghidupkan warga, mereka bertemu hampir tiap hari untuk menabung dan arisan. Disinilah mereka bisa berbicara dari hati ke hati. Sanik merasa punya banyak saudara disini. Hubungan ini sudah merekat sejak ia datang ke Jakarta lebih dari 15 tahun yang lalu. Suasana ini tak akan mereka dapati jika penggusuran ini terjadi.

Namun Sanik dan ibu-ibu Ciliwung tak mau menyerah.

“Ibu-ibu Kecabung tak akan menjadi kenangan, karena kami tak akan mundur mempertahankan kampung.”


Muhayati, Di Balik Panggung Jakarta
 Di wajahnya selalu tersimpan senyum. Padahal baru 2 tahun penggusuran Waduk Pluit, Jakarta dilaluinya. Ia kini tinggal di rumah susun. Muhayati (43 tahun) adalah salah satu korban penggusuran Waduk Pluit Jakarta. Ia justru tak menyerah dan malah terus mendampingi dan ikut membantu korban-korban penggusuran Jakarta lainnya.

Muhayati aktif di Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK), organisasi yang melakukan pembelaan pada masyarakat marjinal di Jakarta.

Pernah menjadi korban gusuran, namun Muhayati tak surut langkah. Kemarin, ia mengajak Musdalifah, salah satu korban penggusuran pasar ikan yang masih tinggal di perahu-perahu untuk tidak tinggal diam.

“Apa yang bisa kami bantu, mari kita lakukan sama-sama, bu," ujar Muhayati membuat terharu.

Muhayati pergi ke Jakarta sekitar 20 tahun lalu. Ia merantau bersama-sama saudaranya karena tidak ada lagi alternatif pekerjaan di desa. Ia kemudian berdagang untuk merubah nasib dan kemudian berorganisasi. Disinilah Muhayati kemudian mengenal arti: mempertahankan hak dan memperjuangkannya. Bersama JRMK,  Muhayati kemudian aktif dalam mengadvokasi persoalan persoalan kelompok marjinal Jakarta, dari persoalan penggusuran, harga rumah sakit yang mahal, pendidikan yang tak murah dan kemudian ikut terlibat dalam alternatif penyelesaian.

Rumah susun yang ditinggalinya sekarang banyak masalah. Sejumlah temannya yang tinggal di Rusun malah sudah meninggalkan Rusun dan pulang ke kampung. Tak kuat membayar.

“Kami tak kuat membayar Rusun. Harga sewa mahal, belum lagi harus sewa tempat untuk berjualan, belum lagi harus bayar air. Uang kami lama-lama habis,” ujar Muhayati.

Muhayati adalah potret perempuan di balik panggung Jakarta. Dengan segala cara, ia menuntut hak dasar sebagai manusia yang telah dicederai oleh pembangunan kota.


(Foto: Luviana/ www.Konde.co dan wikipedia.org)