Serius, Mau Ikut Biro Jodoh, Girl?



Luviana – www.konde.co

Sebuah pesan yang terkirim lewat whats app group tiba-tiba membuat kami, saya dan sejumlah kawan perempuan kami tergerak untuk membacanya bersama-sama. Pesan ini dikirim oleh salah satu teman lama kami di Belanda yang menanyakan tentang situs perjodohan yang disebarkan lewat temannya dari Indonesia.

“Benar gak ini sekarang ada di Indonesia, girl? Situs perjodohan, girl?. Seriously?,” Begitu ia bertanya.

Situs tersebut  menyebutkan bahwa mereka mengundang dan mengajak siapapun untuk menjadi member di webstie ini. Jika sudah menjadi member dengan membayar beberapa ratus ribu rupiah, maka mereka akan dipertemukan dengan jodohnya. Tentu saja calon-calon ini akan diajak berkenalan melalui website ini dahulu, yaitu dengan melalui bertukar foto, chat, melalui sosial media dan video untuk berkenalan. Baru setelah itu copy darat dilakukan.

Teman saya yang sudah lama mengamati ini billang jika informasi tentang perjodohan ini bukanlah yang pertama. Beberapa lembaga perjodohan sudah pernah melakukannya. Bedanya mereka tidak memperkenalkan melalui website, namun mereka mempertemukan di darat atau bertemu secara langsung. Pertemuan biasanya dilakukan di hotel atau di cafe, lalu yang dijodohkan bisa saling ngobrol dan berkenalan dengan difasilitasi oleh lembaga perjodohan ini.

Kami akhirnya sibuk mengumpulkan informasi ini, dan memang banyak informasi serupa tentang perjodohan dan kemudian pertemuan. Katanya ada yang berhasil masuk ke pelaminan, namun juga ada yang tidak.

Obrolan seru ini membuat kami berpikir bahwa begitu pentingkah sebuah perjodohan sehingga menjadikan ini sebagai bidikan bisnis? Disebut bisnis karena  setiap orang yang menjadi member harus membayar atau paling tidak ini digunakan untuk membayar jasa perjodohan.

“Jamannya sudah berbeda ya sekarang, jika dulu kita menolak perjodohan dengan sekuat tenaga, sekarang ternyata perjodohan menjadi bahan untuk bisnis,” ujar salah satu teman kami.

Berjodoh kemudian menikah. Atau berpacaran dan kemudian menikah seperti menjadi satu keping mata uang. Kepingan sebelah atas pacaran, dan kepingan di bawahnya menikah. Ini seperti sudah menjadi ketentuan normatif. Dan ketentuan normatif ini kemudian menjadi ajang bisnis. Datangnya teknologi memang membuat orang menjadi kreatif, apa saja bisa dibisniskan. Ini againts kapitalism model baru, girl. Teman kami yang dari tadi sibuk membaca buku, akhirnya ikut menimpali.

“Ada 3 hal nih menurutku, pertama soal perjodohan yang mengalami perubahan, dulu kita gak mau dijodohin, sekarang banyak orang pengin dijodohin. Yang kedua, bahwa secara normatif semua orang harus menikah. Bisnis perjodohan ini membuat semua orang harus berpikir bahwa menikah adalah sesuatu yang harus dilakukan secara cepat. Dan yang kedua, bisnis ini semakin memperteguh bahwa apa saja bisa dilakukan atas nama pernikahan.”

Si kutu buku sudah mulai bicara dan meletakkan bukunya.

Padahal penting atau tidak penting sebuah perkawinan merupakan keputusan personal, bukan keputusan lembaga bisnis. Namun inilah yang terjadi. Bisnis seperti ini seperti tahu saja keinginan masyarakat yang menyuruh semua orang harus menikah secara cepat. Jika bertemu dan gagal menikah, maka pasti akan ada cap sebagai orang yang: gagal menikah. Namun jika sukses, semua orang akan memberikan ucapan selamat: Yes, selamat menempuh hidup baru guys...lalu, bisa ditebak, adegan selanjutnya adalah orangtua akan bahagia, dan saudara-saudara akan akan mendukung selamanya.

“Happy Ending, girl...berbakti pada orangtua,” ujar teman kami yang baru datang.

“Nyinyir, ah...”

Dibantah oleh teman yang lain.

Jika tidak dilerai oleh sang moderator teman kami yang lain, perdebatan soal jodoh dan menikah ini akan sampai malam. Semua bicara dari pengalaman, isi hati, pemikiran buku, pemikiran ahli hingga bagaimana ramalan bintang selama ini berkata.

Dari keriuh-rendahan suara-suara kami ini, akhirnya kami semua sepakat bahwa menikah, tak boleh dipaksakan. Karena semua adalah pemilik tubuh. Hanya kita yang berhak menentukan tubuh ini mau diapakan dan kemana akan dibawa.  Akhirnya diskusi ini juga menyepakati bahwa kami akan fokus untuk membicarakan soal bisnis pernikahan.

“Dari tadi gak selesai-selesai nih?. “Tiba-tiba kawan kami yang lain berdatangan. Jadilah, yang baru datang tak boleh ikut dalam diskusi karena perdebatan sudah dari siang tadi. Yang baru datang, hanya boleh jadi tim hore atau tim sorak.

Bisnis pernikahan ternyata sudah membanjir, dulu ada biro jodoh dan kemudian kini berkembang secara online. Adanya teknologi memang jadi mempermudah semuanya. Kita bisa copy udara dulu dan tidak hanya bisa dilakukan dengan mengenal suara, namun kini bisa dengan cara melihat foto dan bahkan berbincang melalui video. Teleconference nama kerennya.

Namun yang membuat kami heran, mengapa perjodohan mesti dibisniskan? Hal ini tentu karena banyak orang membutuhkan. Tidak mungkin jika tak dibutuhkan, namun bisnis ini selalu ada. Karena bisnis selalu melirik pasar. Talk to market!

Lalu siapa saja yang membutuhkannya? Pastilah masyarakat, melalui norma-norma yang ada selama ini, yang mengatakan bahwa semua orang harus menikah, jika tidak menikah maka dianggap tidak lazim, jika tidak menikah maka dianggap tidak membahagiakan orangtua, jika tidak menikah maka dianggap tidak sempurna hidupnya. Hal-hal inilah yang membuat bisnis perjodohan kemudian berkembang pesat.

Ini adalah tentang norma, teknologi dan perjodohan yang berujung pada bisnis dan uang.

“Benar khan temuanku kalau ini against kapitalism? Padahal di dalam pernikahan gak sesederhana ini, girl. Ada kontrak sosial dimana kita harus saling membahagiakan, tidak boleh melakukan kekerasan, tidak boleh menyakiti, dan masih buanyak lagi, girl..., jadi bukan membahagiakan orangtua, tapi yang penting bagaimana membawa relasi ini ke dalam ruang yang saling mengisi dan tidak boleh saling menyakiti,”Kata si kutu buku berteriak kegirangan.

“Dan apakah bisnis perjodohan ini memikirkan itu semua? Sampai sedetail ini? Ow, tentu tidak, girl. Semua di tangan kita,” kata teman yang tadi menjadi tim hore.

Yang lainnya, setuju.

Loh, kog ikutan ngomong?

Diskusi selesai.



(Foto: ceritamu.com)