Pasar Rakyat Ciliwung, Akankah Menjadi yang Terakhir?

Luviana – www.konde.co

Konde.co, Jakarta – Para ibu dan perempuan di Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan yang tinggal di sepanjang bantaran kali Ciliwung selalu cemas. Akankah pasar rakyat yang diadakan Ciliwung Merdeka dan warga Bukit Duri yang diadakan Jumat (1/04/2016) hari ini akan menjadi pasar rakyat terakhir yang bisa mereka adakan?. Koordinator Ciliwung Merdeka, organisasi yang melakukan pendampingan warga di sepanjang kali Ciliwung, Sandyawan menuliskannya dalam sebuah pesan yang kami terima. Sudah 16 tahun pasar rakyat dilakukan di sepanjang bantaran kali, apakah ini akan menjadi yang terakhir?.

Beberapa hari ini, warga bantaran kali mempersiapkan pasar rakyat ini. Mereka menyiapkan areal untuk berjualan dan berbagai macam pertunjukan dan diskusi rakyat secara bersama.


Sejak Desember 2015 lalu, kecemasan ini  terus melanda kampung karena mereka terancam akan digusur. Tempat ini akan digunakan sebagai proyek normalisasi sungai. Jika digusur, tak ada lagi perbincangan di kampung di malam hari, keriuhan dan kesederhanaan kampung seperti yang selama ini mereka rasakan. Para ibu juga akan kehilangan pemasukan ekonomi karena rata-rata mereka sehari-harinya berjualan kelontong di rumah-rumah mereka atau menjadi buruh cuci dan seterika di sekitar kampung ini. Penggusuran ini membuat warga harus pindah ke rumah susun. Sejumlah warga sudah mulai diminta mengosongkan rumah dan mengambil kunci rumah susun. Warga kebingungan, bagaimana soal ganti rugi atas rumah mereka? Ini tak pernah dibicaran oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung di tahun ini juga mengadakan pasar rakyat. Di acara yang dibuka pada Jumat hari ini, warga Bukti Duri, Kampung Pulo dan komunitas-komunitas kampung di Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya difasilitasi organisasi Ciliwung Merdeka. Acara ini akan diadakan hingga Minggu (3/04/2016) di Bukti Duri. Warga bersama-sama menggagas sejumlah acara seperti mengadakan bazar atau saung yang melibatkan para perempuan pedagang. Acara bazar ini paling banyak melibatkan perempuan karena mereka bisa membuat makanan yang kemudian mereka jual.


Acara lain yaitu pameran instalasi seni, workshop desain kampung yang bermartabat bagi warga Jakarta, pameran topeng, pemutaran film-film perjuangan, diskusi soal bagaimana membangun kampung dan juga pawai rakyat. Acara ini sebenarnya merupakan bagian dari pembelaan warga terhadap kampung-kampung di Jakarta, yaitu pada pembelaan mereka terhadap kehidupan mereka, atas hak sosial, ekonomi dan kebudayaan.

Bagaimana rasanya jika kemeriahan dan kehangatan yang sudah dijalin warga selama bertahun-tahun menjadi yang terakhir di pasar rakyat ini?. Pasti ini bukan karena pasar rakyat saja, namun jika penggusuran dilakukan, maka rasa kekeluargaan, kekompakan dan tenggang rasa juga kerukunan dalam keberagaman di kampung-kampung ini akan hilang. Para perempuan di sepanjang kali ini sudah sangat erat hubungan kekerabatannya. Bertahun-tahun tinggal disini, sudah seperti saudara.

Namun kekerabatan ini terancam hilang sejak Gubernur DKI Jakarta, Ahok akan merelokasi warga ke rumah susun. Bagaimana tidak, di rumah susun mereka harus membayar biaya sewa, membayar air dan harus menyewa tempat berjualan yang relatif mahal bagi warga. Sebulan warga bisa mengeluarkan uang 1 juta rupiah untuk membayar tempat tinggal dan menyewa tempat berjualan di rumah susun. Ini yang selalu membuat warga cemas. Para ibu tentu harus berjualan dengan cara menyewa tempat disana, padahal selama ini uang pendapatan mereka untuk berjualan selalu cukup untuk makan.

Pasar Rakyat yang digagas Sanggar Ciliwung Merdeka ini memang sudah menjadi tradisi dua kampung di bantaran Kali Ciliwung, yakni RT 05, 06, 07 dan 08 RW 12 Kelurahan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, dan RT 09, 10, 11 RW 03 Kampung Pulo, Kelurahan Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur.


Tahun 2015, LBH Jakarta mencatat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah menggusur 8.145 keluarga dan 6.283 unit usaha.

Penggusuran atas nama apapun, selalu tak pernah mudah bagi perempuan. Pada penggusuran yang terjadi sebelumnya di Jakarta, para ibu korban penggusuran mengeluhkan mengapa harus menyewa lahan untuk berjualan, karena itu tak mudah bagi mereka buat yang pendapatannya pas-pasan.  Mereka juga tak lagi bisa menjadi buruh mencuci dan mengosok di sekitar rumah mereka dulu karena jarak yang menjadi jauh. Kebiasaan-kebiasaan seperti harus naik turun lift serta kehidupan yang berbeda dari suasana kampung harus mereka ikuti, seperti tak pernah bertemu dan berbincang dengan warga lain seperti dulu, hal ini membuat mereka merasa terasing tinggal di rumah susun. Semua serba tertutup dan tak ada acara ngobrol dengan tetangga lagi di sore hari. Karena rumah bagi perempuan bukan hanya menjadi tempat tinggal, namun tempat untuk berbagi dan bercerita.

Semoga kemeriahan, keriuhan pasar rakyat Ciliwung masih bisa dirasakan para perempuan di tahun-tahun berikutnya.


(Sumber dan foto: Ciliwung Merdeka)