Penelitian Media: Laki-laki Lebih Banyak Menulis Isu Perempuan

Luviana – www.konde.co

Sebuah studi tentang bagaimana media-media di Amerika menulis tentang kesehatan reproduksi perempuan dikeluarkan oleh organisasi media di Amerika, Women’s Media Center (WMC) pada Januari 2016 lalu.

Penelitian ini menyebutkan bahwa laki-laki lebih banyak menuliskan isu tentang kesehatan reproduksi (52%) di media dibandingkan perempuan (37%). Hal ini termasuk tulisan tentang isu kontrasepsi dan aborsi.


Penelitian ini berdasarkan pada 1385 berita di 12 media di Amerika. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak yang diwawancara atau dijadikan narasumber untuk masalah kesehatan reproduksi (41%) daripada perempuan yang hanya (33%) sebagai narasumber.

WMC menemukan bahwa laki-laki kemudian lebih banyak membingkai topik-topik kesehatan yang dibingkai dengan isu politik. Sedangkan penulis perempuan lebih memilih untuk membingkainya dari isu kesehatan umum yang disukai para perempuan.

“Perempuan seharusnya memainkan peran yang lebih besar daripada laki-laki dalam menuliskan isu kesehatan reproduksi dan dalam memperbanyak narasumber perempuan, karena perempuanlah yang mengalami hal ini dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap pendiri Women’s Media Center, Gloria Steinem.

Namun sayangnya menurutnya Steinem, hingga sekarang jumlah perempuan yang bekerja di media masih sedikit dibandingkan laki-laki. Tahun lalu, WMC menemukan bahwa hanya sekitar  37% perempuan yang bekerja di media cetak. Sedangkan  laki-laki mendominasi liputan di hampir semua bidang termasuk liputan di bidang politik Amerika Serikat (65%), politik dunia secara umumnya (64%), ilmu pengetahuan (63%), dan teknologi (62 %) .

Temuan  WMC juga menyebutkan, bahwa sejumlah berita kemudian menuliskan tentang isu anti-aborsi dan berbagai manuver politik yang didorong untuk membatasi akses perempuan terhadap kontrasepsi.

Hal lain, penelitian ini juga menyoroti soal hal yang paling mendesak yang mempengaruhi perempuan di Amerika hari ini, yaitu persoalan kesehatan reproduksi.

Penelitian ini dilakukan dengan harapan akan meningkatkan informasi publik tentang keadilan reproduksi , termasuk  hak untuk memiliki atau tidak memiliki anak  yang merupakan  hak dasar manusia.



(Sumber: msmagazine)
(Foto: kesehatandidin.blogspot.com)