Perempuan dan Big Data

Luviana – www.konde.co

Apa sebenarnya big data? Apa keuntungannya untuk perempuan?. Di Indonesia, big data menjadi pembicaraan hangat dalam setahun terakhir ini oleh para pelaku pasar, pemerhati dan aktivis digital.

Era digital ini memang makin banyak orang bicara tentang big data. Big data secara gampangnya adalah data-data yang tersebar dan berseliweran tiap hari di sekitar kita. Big Data bisa kita sebut juga sebagai data dengan ukuran yang sangat besar, variatif, sangat cepat pertumbuhannya dan mungkin tidak terstruktur secara baik. Maka  perlu untuk diolah khusus dengan teknologi inovatif sehingga membantu kita untuk mendapatkan informasi baru yang lebih baik dan terstruktur.

Jika dulu orang mengolah data dengan menggunakan sistem lama maka kini bisa diolah dengan teknologi big data ini. Contoh big data misalnya mesin perangkat google. Google adalah penyimpan data dan informasi yang awal melakukannya. Atau facebook yang menyimpan semua data penggunanya dengan menggunakan sistem big data.


Ya, teknologi internet memang sudah menjadi informasi yang setiap saat bisa kita singgahi, ia ada di telepon genggam kita, di layar komputer maupun menjadi perbincangan ketika kita makan, sebelum tidur dan melakukan aktivitas. Informasi personal, informasi yang bersifat umum atau publik seolah mengalir seperti air.

Deras seperti air bah.

Sebuah perusahaan iklan di Singapura menyebut bahwa saat ini kita sudah hidup di 2 dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya.  Maka tak heran jika banyak perusahaan sekarang beriklan melalui offline dan online.Perusahaan-perusahaan seperti ini umumnya sudah mempunyai aplikasi big data untuk memasarkan produknya dalam 2 dunia, meneliti secara rinci siapa konsumen-konsumen barunya di dunia maya.


Big Data, Kegunaan untuk Publik

Sejumlah pemikir internet sekitar 4 tahun lalu memberikan pertanyaan yang penting tentang big data: Danah boyd, adalah Senior Researcher at Microsoft Research, Research Assistant Professor at New York University dan Fellow di Harvard's Berkman Center for Internet & Society, serta  Kate Crawford yang adalah seorang Associate Professor di the University of New South Wales, Sydney dan Principal Researcher di Microsoft Research New England misalnya. Mereka menyatakan bahwa inilah saatnya jaman dimulainya big data. Dan inilah pertanyaan mereka:

“Era Big Data telah dimulai. ilmuwan komputer, fisikawan, ekonom, ahli matematika, ilmuwan politik, bio-informaticists, sosiolog, dan ulama lainnya berteriak-teriak untuk bisa mengakses pada  informasi yang lebih luas. Data ini mereka dapat dari orang, benda, dan interaksi mereka. Beragam kelompok kemudian berdebat tentang potensi, manfaat dan biaya dari analisis informasi ini, interaksi sosial media, catatan kesehatan, log telepon, catatan pemerintah, dan jejak digital lainnya yang ditinggalkan oleh orang.”

“Pertanyaan yang signifikan yang kemudian muncul adalah: apakah data yang jumlahnya besar-besaran ini akan membantu kita menciptakan alat yang lebih baik, layanan bagi publik yang lebih baik? Atau hanya akan mengantar kita pada gelombang baru serangan privasi atau serangan secara personal dan hanya memperbesar invasi-invasi dalam bidang pemasaran yang dilakukan perusahaan?  Apakah data analytics ini akan membantu kita memahami komunitas online dalam sebuah gerakan politik? Atau justru akan digunakan untuk melacak para aktivis, para demonstran dan menekan aktivitas-aktivitas mereka?.”

“Pertanyaan berikutnya adalah: apakah banjir komunikasi dan data ini akan mengubah cara kita mempelajari komunikasi dan budaya manusia, atau malah mempersempit pandangan kita? Apa sebenarnya kegunaan big data ini untuk penelitian bagi publik?”

Mengingat munculnya Big Data sebagai fenomena sosio-teknis, maka kemudian mereka berpendapat bahwa perlu untuk secara kritis menginterogasi asumsi dan bias dari banjirnya data melalui internet. (Critical question for big data, Provocations for a cultural, technological, and scholarly phenomenon., Routledge, volume 5, 2012)

Di Indonesia, banyak orang yang kini sedang berbicara soal big data. Indonesia memang sedang berada dalam air bah informasi, banyak informasi yang masuk dan lalu lalang setiap hari lewat media internet. Namanya air bah, pasti isinya air dan sampah. Ada yang informasi betulan, namun banyak juga sampah yang bertebaran atau informasi-informasi hoax yang tidak mengandung kebenaran.


Lalu apa Relevansinya untuk Perempuan?


Salah satu klausul dari konferensi perempuan internasional Beijing+20 berisi tentang perempuan dan media. Isinya antaralain yaitu mengajak perempuan untuk menguasai teknologi komunikasi dan informasi, juga memperjuangkan bagaimana akses perempuan dalam teknologi dan mendapatkan informasi ini.

Pertama, perempuan dalam hal ini harus menguasai teknologi dan bisa mengakses semua informasi. Dan di luar itu yaitu harus mengetahui bagaimana membedakan antara apakah ini merupakan data atau informasi yang benar ataukah tidak? Perempuan jangan terjebak pada informasi yang tidak mengandung kebenaran.

Yang kedua, pertanyaan Danah Boyd dan Kate Crawford menjadi penting untuk dijawab, apakah big data bisa gunakan secara kritis untuk menguak kebenaran dan berjuang untuk layanan publik yang lebih baik?


Perempuan bisa  meminta pemerintah untuk membuka informasi dan data-data yang harus diketahui masyarakat. Pemerintah kini tak bisa lagi sembunyi di balik data, karena itu banyaknya data ini bisa digunakan untuk menuntut kebenaran.

Kelompok atau organisasi perempuan yang melakukan advokasi misalnya bisa menuntut atau bertanya pada pemerintah tentang apa saja kebijakan yang belum dilakukan pemerintah. Misalnya, ada banyak data tentang Perda diskriminatif,  lalu mengapa pemerintah tak kunjung menyelesaikannya?. Ada data tentang jumlah kekerasan terhadap perempuan yang saat ini mudah diakses, namun mengapa pemerintah tidak menyelesaikannya?.

Data-data ini sebenarnya adalah alat yang bisa digunakan sebagai cahaya atau teropong. Dengan statistik data-data ini, perempuan bisa mempertanyakan tentang kebijakan negara yang tidak berpihak pada perempuan.

Karena kita selalu berkejaran dengan waktu,big data kini banyak digunakan perusahaan-perusahaan untuk melakukan invasi pemasaran atau beriklan secara besar-besaran dengan melalui internet dan menjadikan publik sebagai konsumen, sedangkan pemerintah sibuk berlindung di balik data.

Dengan big data, perempuan bisa mengumpulkan kasus-kasus perempuan yang sangat variatif, banyak dan kemudian menyusunnya secara terstruktur, lalu menjadikannya data untuk meminta pemerintah melakukan sesuatu dengan data ini.

Perjuangan untuk perempuan jauh lebih baik jika pemerintah juga memberikan informasinya secara transparan. Jangan sampai hanya berhenti di satu titik dan justru data-data ini digunakan untuk menangkap para aktivis perempuan atau menghentikan perjuangan keterbukaan informasi dan berpendapat.

 Big data bisa digunakan sebagai alat untuk membuka transparansi publik perempuan. Data-data kebijakan kesehatan untuk perempuan, data tentang perempuan miskin yang tak bisa mengakses layanan pemerintah, data buruh perempuan yang belum mendapatkan upah minimum dan data lain yang menuntut tranparansi pemerintah.


(Foto: bewisebesafe.in dan genderit.org)