Perempuan Indonesia di Ranah Bisnis Digital






Sica Harum- www.konde.co




Perayaan Hari Kartini 21 April 2016 lalu rupanya menjadi momentum bagi sejumlah komunitas tech-startup (usaha rintisan berbasis teknologi) untuk mendorong peran serta perempuan dalam dunia tersebut.

Melihat demografinya, terdata 51% pengakses internet di Indonesia ialah perempuan. Namun, perempuan pendiri startup (usaha rintisan) berbasis teknologi, belum lah banyak. Di antara yang sedikit itu, Shinta Dhanuwardoyo ialah perempuan yang mengawali bisnis digital di era awal. Tahun 1996, ia mendirikan Bubu, perusahaan yang menyediakan layanan pembuatan website. “Saya kepagian,” selorohnya, dalam acara StartupLokal, di Gedung Telkom, Kebon Sirih Jakarta, Kamis(21/4).

Live Broadcast Acara StartupLokal menggunakan aplikasi berbasis web Cozora.



Shinta belajar menjadi arsitek sebelum tertarik terjun ke dunia bisnis. Ia lalu memutuskan sekolah lagi. Sang ayah yang tak mau lagi mengongkosi kuliah masternya, membuat Shinta berpikir mencari beasiswa atau pekerjaan sembari kuliah. “Saya melamar untuk bekerja di lab komputer. Saat kuliah dulu saya belajar menggunakan program arsitek menggunakan macintosh. Saya bilang, saya bisa macintosh, meski sadar saya enggak tau lah urusan virus atau apa.”

Ia diterima dan benar-benar bekerja di lab komputer sembari kuliah bisnis. “Kalau ada virus atau apapun, saya minta tim saya kerjakan dan saya berdiri di belakang mereka. Dan itu lah saat saya baru belajar, oh ternyata begitu toh,” kenangnya lalu tertawa.


Karena beraktivitas di lab internet saat awal-awal internet ada, Shinta jatuh cinta. Ia terkagum-kagum bagaimana bisa sebuah website dapat dilihat oleh orang-orang dari mana saja. Ia lantas menemukan passionnya. Ia percaya internet akan sangat besar, dan ia suka dengan website. Apalagi, pada dasarnya Shinta memang belajar mendesain. Ia tau apa yang ia mau: bisnis pembuatan website. Shinta mengerti cara mendesain, tapi ia harus belajar otodidak untuk membuat website. Semua ia pelajari lewat internet.

Pulang ke Indonesia, ia bekerja sekitar 1,5 tahun di konsultan manajemen, lalu memutuskan untuk membangun perusahaan pertamanya, Bubu. Saat masih bekerja, ia selalu tak sabar pulang ke rumah dan segera 'ngoprek' membuat website.  


Mulai dengan 5 orang, Shinta mulai menawarkan bisnisnya. Shinta jadi harus menjelaskan: apa itu internet dan apa itu wesbite. “Lalu mereka bilang, wah belum butuh kayanya. Kami belum pakai internet,” kata Shinta menirukan omongan sejumlah calon klien 20 tahun lalu.


Ia tak menyerah. Ia buatkan website sejumlah perusahaan dengan gratis sebagai bagian dari edukasi, hingga empat tahun kemudian Bubu semakin sering dipercaya perusahaan besar. “Zaman saya enggak ada tuh angel investor atau venture capitals. Semua harus dipikirin setiap hari. Enggak boleh nyerah. Enggak boleh kelamaan nangis. Mesti pikirin cara kreatif apa lagi yang mesti dicoba,” ujarnya serius.

Jadi pengusaha, ujar Shinta, mesti siap jatuh bangun. Ia sendiri, selama 20 tahun berkecimpung di dunia bisnis teknologi, sudah menutup 6 perusahaan. “Harus mikir terus model bisnisnya kayak apa. Punya ide, kerjain. Jangan kebanyakan dipikirin, tar jadinya hobi. Hobi mimpi,” katanya lalu mengutip ucapan COO Facebook Sheryl Sandberg. “Better done than perfect.”

Perempuan harus percaya diri


Apalagi perempuan, kata Shinta, mesti percaya diri di dunia startup teknologi yang masih didominasi lelaki. Ia lantas meminta perempuan peserta meetup tunjuk tangan apabila sudah mendirikan startup. Ada 6 perempuan dari sekitar 40an peserta malam itu.  “Mungkin ada yang malu ngaku ya?  Well, jadi perempuan jangan pemalu. Jangan merasa bisnisnya kecil, karena baru bisa bikin yang kecil. Pede aja,” katanya.

Perempuan founder startup teknologi di Indonesia, diakui Shinta, masih belum banyak. Meski belum ada riset serius tentang hal ini, dominasi laki-laki masih sangat terasa di dunia teknologi. “Padahal ada riset kalau CEO nya perempuan, kesempatan profit perusahaan naik lima kali lipat lho. So better you get women CEO,” ujarnya lalu tertawa.


Senada dengan yang diutarakan Shinta, sejumlah perempuan yang aktif bekerja di dunia startup teknologi tak menampik anggapan yang meremehkan perempuan. “Ada aja sih yang komentar, kok CTO nya perempuan,” ujar Tety Sianipar, Chief Technology Officer startup Kerjabilitas, dalam acara “FemaleDev Conference: We Can Lead!” di Conclave, Jakarta, Kamis (21/4).


Jika sudah begitu, kata Tety, ia memilih untuk bekerja lebih serius demi membuktikan diri.


Anggapan meremehkan akan makin “kencang” kepada perempuan yang tak punya latar belakang IT namun terjun di startup teknologi. “Perempuan (yang begitu) dianggap cuma garnish, pemanis saja. Lucu-lucuan,” tambah Dhini Hidayati, co-founder Gandeng Tangan.


Salah satu kegiatan Femaledev,:ngoding bareng. Foto: Femaledev/Zilliun.com 

Teknologi, dianggap bukan bidang perempuan. “Memang cukup susah ketemu perempuan di dunia coding dan programming. Kalau kita ke acara-acara developer, pasti banyak laki-laki. Jadi yang perempuan sering segan untuk datang. Karena enggak ada temannya lah, dan lain sebagainya,” jelas kurator Zilliun.com Putri Izzati.


Putri melanjutkan, itulah alasan berdirinya Femaledev. Selain menjadi wadah untuk berjejaring bagi perempuan yang berkarya di bidang kreatif dan teknologi, Femaledev juga ditujukan agar lebih banyak perempuan developer dan pecinta teknologi. “Sebab di Femaledev, kami percaya bahwa teknologi adalah pintu peluang bagi perempuan untuk berkontribusi menciptakan solusi masalah-masalah di masyarakat,” jelas Putri.


Merunut keterangan di websitenya, Femaledev yang dibentuk sejak 2013 telah menjaring sekitar 2.500 perempuan muda dan menyelenggarakan lebih dari 60 workshop di 10 kota di Indonesia. Antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Makassar, dan Pontianak. Bahkan Femaledev Pontianak sudah menciptakan aplikasi informasi rumah sakit lokal.

Maju terus perempuan Indonesia.