Perempuan Marunda: Pabrik Menggerogoti Hidup Kami (1)


Bagaimana nasib keluarga nelayan ketika pabrik-pabrik dibangun di sekitar pantai tempat mereka tinggal? Laki-laki disana yang kebanyakan bekerja sebagai nelayan, kini tak bisa melaut karena bangunan ini. Para perempuan yang biasanya berjualan ikan dan membuat udang rebon, kini hanya bisa menjadi penyaksi bangunan pabrik. Kustiah, seorang jurnalis dan aktivis perempuan menuliskan  situasi perempuan dan kehidupan disana:


*Kusti’ah – www.konde.co

Jakarta, Konde.co - Aroma amis khas laut menyeruak begitu memasuki sebuah perkampungan kecil di Marunda Kepu, Cilincing, Jakarta Utara, belum lama ini. Perkampungan ini tak begitu luas. Hanya  ada sekitar dua puluh deret rumah berjajar ke belakang dan lima deret rumah menyamping yang dikelilingi selokan terbuka penuh lumpur hitam dan sampah.

Siang itu di setiap jarak lima rumah beberapa ibu menggendong anak sedang duduk bergerombol. Sebagian besar mereka berkumpul di sebuah warung jajanan.

Kampung yang terdiri dari dua RT dengan jumlah kepala keluarga sebanyak 100 kepala keluarga ini tampak sepi. Yang banyak terlihat selain ibu-ibu dan remaja yang bergerombol adalah aktivitas anak-anak yang bermain layangan. Hanya beberapa lelaki yang terlihat mengurus empang ikan.

Menurut Habibah (50 tahun), salah satu warga kampung yang menjadi Ketua Kelompok Mekar, kelompok perempuan nelayan di Marunda, dua bulan belakangan ini para kepala rumah tangga yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan memang tak ada yang di rumah.

Selama musim barat para nelayan berpindah pekerjaan dari nelayan menjadi buruh bangunan dan buruh bongkar bangunan tua. Biasanya saat siang nelayan biasa menyandarkan perahunya di pantai. Namun karena angin kencang para nelayan tak pergi melaut dan meninggalkan kampung. Maka tak heran jika kampung Marunda Kepu sepi nelayan laki-laki.

Seperti yang dilakukan Gobang (51) suami Habibah yang dua bulan belakangan bekerja menjual jasa membongkar bangunan tua.


Nasib Perempuan dan Anak Marunda

Sebenarnya kondisi ekonomi kampung Marunda Kepu mengalami  situasi yang tak setragis seperti ini sebelum tahun 2008. Habibah mengenang, setelah tahun 2008 kondisi ekonomi warga kampungnya berubah drastis. Semenjak banyak pabrik dibangun di sekitar pantai Marunda nelayan hanya bisa membawa hasil tangkapan sedikit yang jika dijual laku sekitar Rp 20 ribu. Di sekitar kampung Marunda Kepu berdiri beberapa pabrik di antaranya Pabrik Semen, pengolahan sawit, garmen, dan masih ada beberapa lagi. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, nelayan dulu bisa membawa pulang hasil tangkapannya hingga senilai Rp 1 juta sehari. Tetapi sekarang, hal ini tak bisa dilakukan.

"Sekarang dapat Rp50 ribu saja sudah hebat," kata Habibah.


Tak hanya mempengaruhi hasil tangkapan nelayan, berdirinya banyak parbrik yang menyebabkan polutan juga menyebabkan ekosistem laut rusak berat. Habibah mengenang, pada tahun 1990-an dirinya kerap membuat trasi dengan hanya menyerok udang rebon yang ada di Pantai Marunda.

Sekali serok Habibah bisa mendapat udang rebon sebanyak 3-5 kilogram. Tak jarang dalam tiga atau empat hari ia memanen rebon sebanyak satu ton. Semuanya ia buat menjadi trasi jika ada pesanan dari kenalannya baik dari warga di kampung lain maupun kenalan di lembaga swadaya masyarakat (LSM) seperti Kiara atau Oxfam.

Saat berjaya Habibah tak menikmatinya sendiri. Memiliki banyak jaringan dan kemudahan menerima pesanan seperti membuat trasi atau kerajinan tangan ia bagikan juga ke tetangganya. Mula-mula pesanan nya distribusikan  ke nelayan perempuan yang ada di sekitarnya yang berjumlah sekitar 15 ibu-ibu. Namun, karena pesanan makin meningkat ia mulai mengajak nelayan perempuan lebih banyak lagi hingga berjumlah sekitar 100 perempuan lebih yang ia bagi dalam 10 kelompok.

Tak hanya fokus memproduksi trasi dan kerajinan tangan berupa pembuatan lampion, Habibah mengembangkan usahanya dengan membuat kerupuk, onde-onde dari buah mangrove, bros, bingkai pigura dan aneka kerajinan tangan lainnya dari bahan kulit kerang.

Tetapi kejayaan itu perlahan menyusut. Kondisi laut yang semakin memburuk membuat rebon makin sulit didapat. Begitu juga kulit kerang putih untuk bahan kerajinan tangan. Untuk mendapatkan kulit kerang putih kini Habibah harus membeli dan memesan khusus ke toko bahan souvenir kerajinan tangan.

Kondisi seperti inilah yang menyebabkan  perekonomian warga di kampungnya makin terpuruk.

"Boro-boro untuk bayar sekolah. Untuk biaya makan saya sulit," ujar Habibah yang menyebutkan bahwa kini anak putus sekolah bertambah `banyak. Dan anak-anak di kampungnya paling tinggi mengenyam pendidikan hanya sampai sekolah menengah pertama



(Foto: Oxfam dan kiara.or.id)


*Kusti’ah. Sejak lulus SMA, perempuan kelahiran Blora 10 Mei ini bercita-cita menjadi seorang jurnalis. Mengawali karier sebagai reporter di media lokal di Semarang, Suara Rakyat saat masih kuliah. Semasa kuliah aktif di pers mahasiswa dan organisasi eksternal kampus, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Semarang sebagai Ketua Pemberdayaan Perempuan. Lulus kuliah tahun 2005 memilih menjadi editor buku di Yogyakarta. Setahun kemudian bergabung dengan Harian Jurnal Nasional.  Setelah tiga tahun, pindah ke majalah ekonomi perbankan Stabilitas milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI). Awal Februari 2010 bekerja di media online www.jurnalparlemen.com dengan fokus liputan politik di parlemen.Dan, terakhir bekerja untuk www.detik.com. Sehari-hari meliput isu politik, sosial, pendidikan, dan budaya. Aktif di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta sejak 2009. Kustiah bisa dihubungi lewat email:kustiah.tanjung@gmail.com