Perempuan, Tulis Sejarahmu Sendiri

Luviana – www.konde.co

Bayangkan jika kita berada di sebuah tempat dimana kita bisa belajar sebuah topik tentang perempuan, kita bisa mendiskusikannya dan kemudian menuliskannya. Tak hanya itu, di tempat ini kita juga bisa ngomong apa saja tentang yang kita alami, yang kita lihat, tentang ketidakadilan, tentang rasa tidak aman, tentang hal-hal yang selama ini menganggu pikiran-pikiran kita sebagai perempuan.

Berbicara dan kemudian menulis memang menjadi salah satu cara yang digunakan untuk mengekspresikan sesuatu, entah perasaan, pikiran dan pendapat perempuan.  Karena dengan berbicara dan menulis maka perempuan akan memaparkan sejarahnya sendiri, sejarah dimana ia lahir dan bagaimana lingkungan kemudian mengkonstruksikannya selama ini.


Menuliskan sejarah hidup adalah menuliskan pengalaman dan kesadaran. Tentang pengetahuan-pengetahuan baru dan kesadaran baru. Feminis, Charlotte Bunch mendefinisikan ini sebagai kegiatan untuk menyampaikan gagasan dan informasi, meningkatkan kapasitas pemikiran dan untuk bertindak secara politik.

Jadi, perempuan harus menuliskannya sejarahnya sendiri. Cara-cara inilah yang kemudian bisa digunakan untuk menyampaikan gagasan-gagasan baru.

Di New York, Amerika ada seorang jurnalis yang kemudian mendirikan lembaga yang khusus mengajak anak-anak untuk berbicara dan menyampaikan gagasan, termasuk memberikan pendidikan gender dalam pertemuan tersebut.

Barangkali inilah yang ingin dicapai oleh Writopia Lab. Writopia Lab merupakan lembaga yang digagas oleh seorang jurnalis di New York, AS Rebecca Wallace-Segall. Di Writopia Lab, anak-anak diajak untuk mengekspresikan perasaannya dalam pertemuan-pertemuan kecil mereka. Termasuk perasaan mereka tentang konstruksi peran perempuan dan laki-laki yang selama ini mengganggu pikiran mereka. Pertemuan ini dilakukan seminggu sekali sehabis pulang sekolah.

“Metode kami adalah bahwa anak-anak yang berada di dalam ruangan ini bisa berbicara dengan aman, kami menjaga rahasia dan anak-anak kemudian juga bisa menuliskan semua hal dengan menyenangkan dan aman,” ujar Wallace- Segall.

Program ini sebenarnya lebih mirip lokakarya atau pelatihan yang diadakan usai pulang sekolah bagi anak-anak yang berumur 6-18 tahun. Lokakarya yang diadakan Writopia Lab ini sudah diselenggarakan di beberapa tempat di Amerika, lalu menjadi besar dan kini memiliki beberapa cabang di: New York, New Jersey, Washington  dan Los Angeles.

Alexa Salvato di Ms magazine menuliskan bahwa Writopia Lab dibangun di atas rasa yang kuat untuk membina komunitas secara bersama dengan menciptakan ruang untuk mengekspresikan keragaman, pandangan dan pengalaman yang berbeda-beda.

Pada proses selanjutnya anak-anak juga diajak untuk menulis tentang apa yang telah mereka katakan.  Tulisan-tulisan ini selanjutnya bisa dipentaskan di beberapa tempat, dipentaskan sebagai sebuah prosa, puisi dan menjadi naskah-naskah teater yang bisa dipentaskan. Anak-anak jadi bisa bertemu dengan banyak komunitas yang berbeda. Dari sinilah kemudian Wallace- Segall memasukkan topik-topik gender bagi anak-anak. Misalnya ada anak yang bertanya: mengapa ayahnya harus bekerja terus? Apakah karena ia adalah boss di rumah kami?. Atau pertanyaan lain tentang kebiasaan atau konstruksi tentang perempuan dan laki-laki yang mereka lihat sehari-hari.

“Mereka bisa bercerita tentang mimpi, harapan mereka dan cita-cita mereka yang kemudian bisa mereka tuliskan.”

Wallace- Segall menyatakan bahwa ketika anak-anak sama-sama duduk dalam satu ruangan inilah, ia akan memfasilitasi pendidikan tentang kepemimpinan dengan cara mengajak semua orang untuk berbicara dan berpendapat. Ia juga mendorong agar anak-anak perempuan banyak berbicara karena inilah saatnya untuk belajar menjadi pemimpin.

Sering dalam lokakarya ini, beberapa anak awalnya bertengkar, namun di saat akhir lokakarya, mereka bisa melakukan kegiatan bersama setelah selesai workshop selama 2 minggu, seperti makan siang bersama. Hal ini penting untuk menumbuhkan semangat persaudaraan bagi anak-anak dan anak yang beranjak dewasa.

Anda ingin mencoba metode ini, mengajak anak-anak dalam lokakarya, kemudian ngobrol soal gender dan menuliskan pendapat-pendapat mereka? Jangan tunggu waktu lagi, ayo kita lakukan. Sudah saatnya, untuk menulis sejarah kita sendiri.


(Sumberdan Foto: Msmagazine)