Riani: Perempuan dengan Jalan yang Berliku

Edisi Kartini: khusus untuk edisi minggu ini (18-23 April 2016), kami akan menuliskan ide-ide perjuangan Kartini dan perjuangan yang dilakukan para perempuan di masa sekarang. Kami melakukan wawancara terhadap sejumlah perempuan yang selama ini jauh dari hingar-bingar, tidak terendus media dan memilih dekat dengan masyarakat marjinal. Kami juga menuliskan soal ide-ide dan perjuangan Kartini di masa sekarang, diskriminasi, kekerasan, stereotype yang dialami perempuan dan  perjuangan mereka di masa kini. (Redaksi)



Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Perempuan itu bernama Riani. Perawakannya tinggi dan bersuara lantang, sedikit serak-serak basah. Ia memang pemain teater andalan, begitu gumam seorang teman. Pementasan teaternya yang dimainkan oleh  para ibu rumah tangga, perempuan buruh-buruh kebun, petani dan pedagang selalu ditunggu-tunggu. Dalam teater tersebut, Riani berperan sebagai sutradara sekaligus pemain.

Riani (49 tahun) adalah aktivis perempuan dari Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (Hapsari) di Serdang Bedagai, Sumatera. Hampir semua orang memanggilnya “Kakak Riani.” Bersama sahabatnya, Lely Zaelani, Riani kemudian bisa berperan sebagai apa saja di organisasi Hapsari. Sebagai sutradara dan pemain teater, mengorganisir buruh-buruh kebun dan petani di Sumatera hingga menjadi penyiar radio komunitas Hapsari, radio yang organisasi ini dirikan. Dan kini, ia telah mengajari banyak perempuan buruh kebun untuk memakai internet, sosial media sebagai salah satu alat untuk kampanye organisasi.

Dahsyat, kak Riani.

Begitu komentar banyak aktivis perempuan lainnya.


Riani dan Jalan yang Berliku

Lahir dari Mamak yang bekerja sebagai buruh kontrak pabrik karet di Sumatera dan bapak yang bekerja sebagai buruh perkebunan membuat Riani hidup pas-pasan. Sekolah dasarpun ia tak tamat. Ayahnya meninggal ketika mau kenaikan ke kelas 2, tak ada biaya, maka ia kemudian hanya sekolah hingga kelas 2 SD.

Di usianya yang ke-13 ia bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Medan hingga kemudian Riani mengikuti jejak orangtuanya sebagai buruh harian lepas di perkebunan Kakao di Medan.

Dalam buku “Narasi Perempuan” (Hapsari, 2014), Riani menuturkan bahwa ia pernah ditangkap Koramil karena dituduh mencuridi perkebunan.  Karena kondisi ekonomi keluarga yang buruk, kala itu Riani selain bekerja sebagai buruh kakao juga mencari buah sawit di pohon-pohon yang mau tumbang. Ini terpaksa dilakukannya karena uangnya tak cukup untuk membeli beras untuk keluarganya. Namun ia kemudian dituduh mencuri. Setelah ditangkap Koramil, ia kemudian dikurung dalam tahanan di Polsek Tualang, Medan.

“Sebuah pengalaman pahit yang tak dapat kulupakan, mengapa masyarakat yang hidup di sekitar perkebunan tidak boleh mendapatkan sedikit saja hasil dari tanah-tanah rakyat ini?.”

Bertahun-tahun ia menjadi buruh lepas di kebun agar bisa mengurus keluarga.



Riani dan Perjuangan Perempuan Hapsari
Secara tak sengaja di tahun 1999, Riani diajak kakaknya Sutarmi ikut dalam kelompok perempuan Serikat Perempuan Independen (SRI) dan menjadi anggota Hapsari. Di tempat inilah Riani kemudian mengenal teater, mempunyai waktu untuk berdiskusi dan bercerita. Hari-harinya kemudian disibukkan dengan menjaga anak, bekerja paruh waktu dan bermain teater di Hapsari.

Riani menyatakan bahwa proses dalam berteater inilah yang kemudian menumbuhkan semangat keberaniannya untuk berbicara di depan banyak orang,  terutama untuk menyampaikan pikiran dan gagasan-gagasan organisasi. Dari sinilah Riani terasah untuk mengajak ibu-ibu dan para perempuan buruh kebun untuk berorganisasi bersama.

Hapsari kemudian juga mendirikan radio komunitas. Riani dan Lely Zaelani sahabatnya kemudian membidani pendirian radio perempuan ini. Di radio setiap hari mereka mengisi acara-acara perempuan, ngobrol persoalan perempuan dan perjuangan mereka sehari-hari. Ini semakin menambah percaya diri Riani untuk berbicara pada banyak orang.

Kini Riani dipercaya sebagai Ketua Pelaksana Harian di Hapsari. Selain mengorganisir dan mengadvokasi persoalan perempuan buruh kebun disana, Riani juga mengajari para buruh kebun untuk mengenal internet.

“Jadi kita buka internet untuk macam-macam, misalnya mengakses kebijakan perempuan, lalu organisasi kita mau bersikap apa atas kebijakan ini misalnya. Lalu untuk yang lain, internet juga digunakan oleh ibu-ibu. Misalnya kalau ada model baju bagus, nah kita contoh modelnya, kemudian kita buat model yang sama dan hasil jahitannya kita jual. Kalau ada makanan juga begitu, ada resep masakan di facebook misalnya, resepnya kita coba trus kalau sudah jadi, makanannya dijual sama ibu-ibu untuk menambah penghasilan,” ujar Riani.

Di Hapsari inilah Riani kemudian menamatkan SD nya dengan mengikuti kejar Paket A. Akhirnya lulus SD aku, kata Riani.

Perempuan berperawakan tinggi itu tak pernah terlihat susah, selalu tertawa. Di Hapsari ia menemukan banyak kawan untuk berjuang.  



(Foto: representasiefektif.org)