Sinetron “Asisten Rumah Tangga” Dilaporkan ke KPI

Luviana – www.konde.co

Konde.co, Jakarta – Jaringan Nasional Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) memprotes tayangan sinetron “Assisten Rumah Tangga” (ART) ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sinetron ini dianggap melakukan stereotype pada para Pekerja Rumah Tangga (PRT).


Dalam sinetron tersebut PRT distereotypkan sebagai pekerja yang senang menggoda majikannya dan mempunyai sifat-sifat negatif. JALA PRT melihat bahwa stereotype ini akan memperburuk kondisi PRT di Indonesia.

Koordinator JALA PRT, Lita Anggraeni menyatakan bahwa mereka menilai sinetron ART ini sangat tidak mendidik. Padahal dalam kenyataan sehari-hari, kondisi PRT jauh dari kondisi yang digambarkan di sinetron tersebut.

“Hal ini benar-benar memberikan sterotype atau cap buruk pada PRT. Padahal sebenarnya para PRT adalah orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan menjalankan kewajibannya. Banyak dari PRT yang tidak mendapatkan penghargaan dari majikan, namun di sinetron ini PRT selalu diceritakan secara buruk sedangkan majikan dicitrakan sebagai orang baik.”

JALA PRT kemudian mengirimkan surat  protes atas tayangan sinetron ini ke KPI. Sinetron ART ini ditayangkan oleh RCTI setiap Minggu malam jam 22.00 WIB dan pertamakali tayang pada Minggu 27 Maret 2016 lalu. Sinetron ini merupakan sinetron komedi  yang diproduksi Sinemart.

Sinetron  menceritakan tentang tingkah para asisten rumah tangga zaman sekarang yang dilukiskan sebagai orang yang senang macam-macam. Ada asisten rumah tangga yang distereotypekan sangat senang menggoda majikannya, ada yang senang korupsi uang belanja, ada juga yang suka pesta di rumah majikannya jika majikannya sedang tidak berada di rumah.

Hal ini menambah stereotype yang dilakukan terhadap PRT di sinetron. Sejumlah sinetron lain menstereotypekan PRT sebagai orang yang senang bergosip. Disini para PRT dilukiskan sebagai orang yang menjadi asisten majikan dalam mencari informasi soal gosip-gosip terbaru. Mereka juga sering diminta menyampaikan informasi kepada teman atau tetangga si majikan yang menambah runyam suasana. Hal ini tentu berbeda dengan advokasi yang dijalankan JALA PRT, karena sejumlah temuan advokasi menyebutkan bahwa PRT di Indonesia rata-rata pekerja keras namun banyak yang tidak dihargai hak-haknya seperti masih mendapatkan gaji yang kecil, tidak diberikan waktu libur, tidak ada waktu untuk bersosialisasi dan jam kerja yang sangat tinggi.


(Foto: smeaker.com)