Twitter Undang 25 Perempuan Inspiratif, Luncurkan #PositionOfStrength


Sica Harum – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Dalam semangat Kartini, Twitter Indonesia, The Wahid Institute dan PurpleCode Collective menyelenggarakan sebuah acara bertajuk: Cocktail Event & Soapbox Session pada Sabtu (23/04/2016) kemarin di Jakarta.

Sebanyak 25 perempuan yang dianggap menginspirasi diundang dalam acara ini. Mereka antaralain: Nia Dinata (produser film), Veronica Colondam (aktivis Yayasan Cinta Anak Bangsa/ YCAB), Mirna Adriani (Dekan Fakultas Komputer UI), Okky Madasari (penulis), Yenni Wahid (Wahid Institute), Suksmaratri (aktivis kesehatan reproduksi), Yasmin Purba (pengacara Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia/ YLBHI), Rebecca (Sanggar Suara/ aktivis Lesbian, Biseksual dan Transgender/ transeksual), Febrina Firdaus (jurnalis Rappler.com) termasuk  rekan kami, Luviana (jurnalis dan pengelola www.Konde.co/ Konde Institute).

Dhyta Caturani dari PurpleCode mengatakan bahwa acara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk menciptakan ruang berjaringan dan berkolaborasi antar perempuan Indonesia yang berpengaruh di berbagai bidang profesi dan aktivitas sosial.

Dalam soapboax session, 25 perempuan ini kemudian berpidato secara singkat tentang apa yang telah mereka lakukan untuk perempuan selama ini dan bagaimana mereka menciptakan percakapan sekitar kampanye #positionofstrength bagi perempuan melalui sosial media.

Nia Dinata merupakan produser film yang banyak memproduksi film-film perempuan dan ia kemudian banyak membuat film tentang perempuan untuk memberikan nafas baru bagi dunia perfilman.  Sedangkan Okky Madasari menyatakan pentingnya memberikan perspektif soal perempuan dalam tulisan.

Yasmin Purba menyatakan pentingnya memperjuangkan perempuan LBT, perempuan dissable dan perempuan minoritas lainnya.

“Kita tak hanya mengenal perempuan sebagai identitas tunggal, namun ada perempuan dengan sejumlah tambahan misalnya perempuan LBT, perempuan dissable, perempuan korban kekerasan dan masih banyak lagi. Maka penting bagi kita untuk berjuang disana,” ungkap Yasmin Purba.

Sedangkan Luviana menyatakan bahwa di Indonesia, seorang jurnalis juga harus melakukan kerja-kerja advokasi yaitu membela kelompok minoritas seperti perempuan, buruh, miskin kota, nelayan dan masih banyak lagi.

Agung Yudhawiranata, Public Policy Manager Twitter Indonesia menyatakan bahwa acara ini baru pertamakali diselenggarakan oleh Twitter Indonesia dan sengaja diselenggarakan sebagai ruang untuk mempertemukan para perempuan. Dari acara ini diharapkan para perempuan ini bisa saling melakukan sharing, berkolaborasi bahkan bekerjasama untuk isu-isu perempuan, isu teknologi dan isu lainnya.

“Kami menyediakan ruang hari ini bagi para perempuan yang kami undang untuk berbagi soal apa saja, sharing soal apa yang telah mereka lakukan selama ini. Sengaja memang setiap perempuan kami minta sharing selama 140 detik seperti ciri khas pesan di twitter yang 140 karakter,” jelas Agung Yudhawiranata.


Kampanye Perempuan #PositionOfStrength
Dalam acara ini, ketiga lembaga tersebut juga meluncurkan kampanye #PositionOfStrength di Indonesia untuk membuat internet agar lebih ramah pada perempuan.

Kampanye ini untuk mengajak para perempuan untuk lebih berani berpendapat dan berkomunikasi, sekaligus untuk mengajak para perempuan secara meluas memperjuangakan kesetaraan gender melalui media online dan sosial media.


(Foto: Luviana dan Twitter Indonesia)