Twitter untuk perempuan MAMPU


Eko Bambang Subiantoro – www.konde.co

Ada satu ungkapan yang menarik dari seorang penulis besar Mark Twain yang membanggakan bagi pekerja pers, yakni There are only two things that can be lightening the world. The sun light in the sky and the press in the earth- Hanya ada dua hal yang membuat terang di bumi ini yaitu sinar matahari di langit dan pers yang berkembang di bumi. Ketika era media massa umum sedang tumbuh, keberadaan suatu peristiwa ataupun munculnya suatu gagasan sangat tergantung pada keberadaan media massa. Seperti kata Twain, pers benar-benar menjadi penerang bagi masyarakat.

Sekalipun tidak secara langsung berkaitan, ungkapan Mark Twain ini tetap relevan untuk era teknologi digital yang ditandai tumbuhnya sosial media, terutama dalam hal sebagai “penerang”. Pada era ini, setiap orang bisa menjadi pengabar informasi atau gagasan. Setiap individu maupun kelompok bisa menjadi penerang akan peristiwa melalui sarana yang tersedia, seperti Twiter, facebook, Youtube dan ratusan media sosial yang bisa dimanfaatkan dengan ribuan dan bahkan jutaan pengguna. Media sosial mengubah paradigma masyarakat terkait informasi, dari tergantung menjadi mandiri.

Menyadari penting dan strategisnya media sosial sebagai sarana informasi dan komunikasi, tim kerja Program Mampu (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan) meluncurkan akun media sosial Twitter @programMAMPU, di Jakarta (28/04/2016). Twitter @programMampu berisi tentang informasi aktivitas program Mampu bersama-sama dengan para Mitra Mampu dalam memberdayakan perempuan miskin untuk menjangkau akses pada pelayanan publik.

Teknologi Informasi untuk Perempuan

Pentingnya media informasi dan komunikasi melalui Twiter selain bisa menampilkan kegiatan yang selama ini dikelola dalam program MAMPU, juga bisa menampilkan pelajaran-pelajaran penting dari perempuan-perempuan yang berdaya, seperti Haeriah Rahman, Ketua Komisi II Kesejahteraan Rakyat DPRD Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang hadir dalam peluncuran Twiter @programMampu tersebut.

Sebelum menjadi anggota parlemen, Haeriah adalah ibu rumah tangga pada umumnya.  Ketika ia terpilih menjadi anggota Parlemen, dia merasa pengetahuan secara mendalam tentang kerja parlemen sangat terbatas, sementara apa yang dilakukan tidak mudah. Haeriah mengaku, program MAMPU sangat mensupport dirinya untuk mengenal lebih jauh apa itu kerja parlemen, mulai dari penyusunan anggaran, lebih spesifik lagi anggaran berbasis gender, penyusunan kebijakan, menjalankan fungsi pengawasan dan berbagai ketrampilan lain yang benar-benar dibutuhkan.

Berkat pengetahuannya yang bertambah, Haeriah semakin aktif untuk bekerja memperjuangkan perempuan. Salah satu yang beliau merasa bangga adalah ketika bisa memperjuangkan anggaran bagi P2TP2 yang selama ini membantu perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan di Kabupaten Maros. Sekalipun dialokasikan anggaran sebesar 54 juta, adalah suatu prestasi karena selama ini dukungan anggaran terhadap lembaga ini tidak ada. Haeriah juga membangun pendekatan partisipatif ketika menjaring aspirasi masyarakat dalam reses anggota DPRD. Reses partisipatif ini dengan langkah membentuk kelompok konstituen, dari kelompok inilah Haeriah mendengarkan berbagai masukan dan keluhan dari masyarakat, mulai dari masalah perempuan secara umum, sampai masalah-masalah rumah tangga. Metode ini membantu Haeriah untuk memahami persoalan yang terjadi di masyarakatnya.


“Pola ini akhirnya ditiru sama teman-teman anggota dewan lain, “kata Haeriah.

Selain Haeriah, hadir Desi Anwar, jurnalis dari CNN Indonesia. Kiprahnya di dunia jurnalis dan pertelevisian adalah kenyataan bahwa perempuan bisa juga berdaya dan maju.

Hadir juga Maesy Angelina, manajer riset MAMPU yang menceritakan  bagaimana ia bertemu dan bekerja dengan perempuan-perempuan hebat di wilayah dan bidangnya masing-masing. Dalam sesinya, Maesy menceritakan pengalaman tiga perempuan hebat yaitu Nurlina, nelayan perempuan dari Sebangko Sulawesi Selatan.Siti Mariam Ghozali dari Wonosobo Jawa Tengah, mantan buruh migran yang mendirikan perpustakaan Istana Rumbia yang sekaligus menjadi ruang bagi calon buruh migran perempuan untuk mendapatkan informasi terkait pekerjaan menjadi buruh migran, dan ketiga Wahdatul Aini, pedagang sayur yang juga aktif di Balai Sakinah Aisyiah, Ngawi Jawa Timr yang aktif memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi perempuan.

Program Mampu ini adalah sebuah inisiatif bersama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/BAPPENAS dan Australia melalui Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) untuk penanggulangan kemiskinan.Program ini bertujuan untuk meningkatkan akses perempuan miskin ke layanan oublik dan penghidupandi wilayah-wilayah terpilih di Indonesia. Dalam menjalankan misinya, MAMPU bermitra dengan berbagai organisasi perempuan dan organisasi-organisasi yang bekerja di isu gender yang mempunyai jaringan luas. MAMPU bekerja di 26 Provinsi, 180 kabupaten/kota, 670 kecamatan dan menjangkau 1800 desa dengan perkiraan menjangkau sebanyak 8 juta penduduk di wilayah ini.

(Foto 1: Ictwatch)
(Foto 2 : Suasana peluncuran program Twitter MAMPU/ Eko Bambang Subiyantoro)