Poedjiati Tan – www.konde.co

Apa arti keperawanan bagi seorang perempuan? Selama ini banyak orang bergunjing tentang perempuan yang harus perawan. Banyak yang mensyaratkan agar perempuan harus perawan sebelum menikah, dan tak hanya itu sejumlah instansipun juga mensyaratkan perempuan yang masuk instansi tersebut harus perawan. Begitu persyaratan masuknya.

Seperti yang pernah dimuat di BBC tahun lalu, 14 mei 2015 dari hasil penelitian HRW (Human Rights Watch) Organisasi yang bermarkas di New York, ini melakukan wawancara dengan 11 perempuan yang diharuskan menjalani tes keperawanan di beberapa rumah sakit militer di Bandung, Jakarta dan Surabaya, serta sejumlah dokter yang melakukan tes itu. Human Rights Watch lembaga pemantau HAM , meminta agar TNI menghentikan segala bentuk tes keperawanan terhadap para calon prajurit perempuan, yang "invasif" dan "menghinakan." 

Dalam tanggapannya, jubir TNI Mayjen Fuad Basya mengakui, "Seseorang yang sudah tidak perawan, mendaftar mau jadi prajurit TNI, ada beberapa kemungkinan. Mungkin karena kecelakaan, bisa juga karena sakit." Namun, lanjut Fuad Basya, bisa juga "karena habit, kebiasaan. Karena memang kelakuannya sudah seperti itu. TNI tidak bisa menerima calon prajurit seperti itu." "Seorang prajurit TNI harus memiliki mental dan kepribadian yang bagus." "Bukan soal perawan atau tidaknya. Tapi kan dokter tahu, dia tidak perawan karena apa." Ditandaskan Mayjen kelahiran Bukit Tinggi itu, untuk TNI, tes (keperawanan) ini masih relevan.

Seperti kita tahu Indonesia sudah meratifikasi the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) dan The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women (CEDAW), yang jelas mengatakan bahwa tes keperawanan itu melanggar hak asasi manusia.

Masyarakat kita masih sering menganggap bahwa keperawanan itu sebagai bagian dari standar moral yang ditetapkan untuk perempuan. Keperawanan selalu didengungkan sebagai kesucian seorang perempuan dan kelakuan baik bagi seorang perempuan.

Norma ideal perempuan terus didengungkan secara turun temurun. Perempuan yang ideal adalah perempuan yang perawan. Padahal apakah laki-laki diberikan stempel sebagai laki-laki yang baik adalah laki-laki yang perjaka? Ini merupakan stigma bagi perempuan karena hanya perempuan yang dilekatkan pada stempel itu.

Apalagi stigma atau tanda yang dilekatkan pada perempuan selain perawan?

Ketika menikah, perempuan boleh memutuskan untuk mempunyai anak tetapi tidak boleh memutuskan berapa anak yang diinginkan.Perempuan seperti tidak punya hak akan tubuhnya, hidupnya atau seksualitasnya.

Dan Wacana yang selalu ada pada wacana hetroseksualitas yang berorientasi pada prokerasi. Seperti kata Gayle Rubin (1993: 14) :...seksualitas yang dianggap “baik”, “normal”, dan “natural” secara ideal adalah yang heteroseksual, marital, monogami, reproduktif dan non-komersial. Ditambah lagi, ia juga harus berpasangan, relasional, dari satu generasi yang sama dan terjadi dalam rumah.

Wacana keperawanan ini sering menjadikan perempuan menjadi rendah diri.  Sifat baik misalnya selalu dilekatkan pada laki-laki: tak perjaka, tidak masalah. Toh, tidak pernah ditanyakan tentang hal ini.  Namun untuk perawan, ini hal-hal yang selalu dilekatkan: tidak perawan itu bermasalah. Laki-laki pasti tak mau dengan perempuan yang tak perawan. Hal-hal inilah yang selalu melekat dan membentuk konstruksi besar dalam masyarakat.

Sifat baik yang selalu dilekatkan pada laki-laki akhirnya membentuk laki-laki sebagai kelompok yang unggul, yaitu kelompok yang selalu mempertanyakan keperawanan, karena mereka merasa superior. Sedangkan kelompok perempuan tak boleh mempertanyakaan keperjakaan karena kelompok perempuan sudah diidentifikasi sebagai kelompok inferior, bersalah dan tak boleh bertanya macam-macam.

Feminis Inge Broverman menyatakan bahwa stereotype seperti ini akhirnya meluas dalam kehidupan. Setelah stereotype, gambaran lain yaitu terjadinya subordinasi pada perempuan.  Subordinasi terjadi karena perempuan selalu diposisikan inferior dan penakut.


Seharusnya orang mau melihat apa yang terjadi pada perempuan, dan tidak langsung memberikan stereotype dan mensubordinasinya.  Jika keperawanan memang dianggap penting, lalu pertanyaannya, hal ini penting buat siapa? Buat perempuan atau masyarakat atau laki-laki? Bagaimana dengan perempuan yang selalu dilekatkan dengan stempel yang perawan ini? Apakah ia nyaman dan jadi terselamatkan hidupnya karena stempel atau stigma ini?

sumber informasi : 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150514_tes_keperawanan_tni
https://www.hrw.org/news/2015/05/13/indonesia-military-imposing-virginity-tests
https://www.hrw.org/news/2014/11/17/indonesia-virginity-tests-female-police

foto : Poedjiati Tan


Luviana – www.konde.co

“If you believe that you are the victim of domestic violence, you should know: you are not alone, it’s not your fault and you can get help.”

 

Sejumlah orang menyatakan bahwa jika perempuan mendapatkan kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga, maka ia bisa pergi ke rumah aman dan tinggal disana untuk sementara waktu. Disana ia akan ditemani dan tidak akan pernah merasa sendirian.

Apakah sebenarnya rumah aman itu? Apa fungsinya bagi perempuan korban kekerasan?

Rumah aman atau safe house atau biasa disebut sebagai women’s shelter memang berdiri bagi para korban maupun penyintas (survivor) kekerasan berbasis gender. Rumah aman atau safe house artinya: rumah perlindungan bagi perempuan.

Di sejumlah negara di Eropa dan Amerika, rumah aman sudah berdiri sejak tahun 1970an. Di Amerika, rumah aman berdiri pada tahun 1974 di Boston.  Sedangkan di Inggris dibangun di tahun 1971.

Awalnya rumah aman ini memberikan support bagi korban-korban kekerasan berbasis gender yang tidak punya keluarga dekat dan dikelola oleh komunitas masyarakat setempat. Rumah aman kemudian menjadi tempat yang tepat untuk tinggal sementara waktu agar para perempuan di korban merasa aman dari pelaku kekekerasan.

Dulu, rata-rata para korban di Amerika akan tinggal di rumah aman paling tidak selama 9 bulan yang akan ditemani para psikolog dan voluteer-volunteer.  Di Inggris sejak  parlemen disana menyepakati keberadaan rumah aman ini, maka para korban bisa tinggal di rumah aman dalam waktu yang lama.

Di tahun 1977, di Amerika terdapat 9 shelter atau rumah aman, dan di tahun 2000, mereka  sudah mempunyai sekitar 2 00 shelter. Safe house Denver misalnya berdiri di tahun 1978 dan hingga kini sudah menjadi rumah aman bagi ratusan perempuan dan anak.  Safe house ini berdiri antaralain untuk mengajak perempuan dan anak membangun kesadaran menolak kekerasan.

Rumah aman ini rata-rata terbuka setiap  hari dan pada jam kerja. Beberapa juga menerima hotline, masyarakat bisa menghubungi dan berkonsultasi melalui telepon. Rata-rata rumah aman tersebut dikelola oleh para volunteer dan aktivis perempuan yang sangat peduli pada para korban kekerasan yang menimpa perempuan dan anak. Kelangsungan hidup rumah aman ini juga disupport oleh sejumlah lembaga dan individu yang peduli.

The women safe house di St. Louise misalnya menuliskan dalam websitenya yang membuat perempuan korban menjadi merasa tenang: If you believe that you are the victim of domestic violence, you should know:

•    You are not alone.
•    It’s not your fault.
•    You can get help.

Psikolog Universitas Indonesia dan aktivis perempuan, Kristi Poerwandari merupakan pendiri dan pengelola rumah aman: Utama yang terletak di Jakarta. Kristi menyatakan bahwa rumah aman pada dasarnya didirikan untuk memberikam rasa aman bagi korban dan survivor, sekaligus pendampingan, pemberdayaan serta advokasi dan menyediakan sumber daya yang diperlukan para perempuan korban atau survivor.

“Rumah aman merupakan tempat tinggal sementara bagi perempuan dan anak-anak yang  mengalami eksploitase seksual, kekerasan domestik dan juga perdagangan manusia,” ujar Kristi Poerwandari.

Rumah aman umumnya didirikan karena ingin memfasilitasi korban agar hidup tanpa kekerasan, dapat keluar dari persoalan dan lebih baik hidupnya.

Di rumah aman Utama misalnya, para korban atau survivor akan diberikan pendampingan pribadi berupa konseling untuk penguatan psikologis, pelayanan kesehatan bagi korban sekaligus mengatasi kekerasan. Umumnya dalam masa-masa berada di rumah aman ini, mereka akan diajak untuk bercerita agar memulihkan luka-luka hatinya.

Sejumlah korban atau survivor yang bisa tinggal di rumah aman rata-rata merupakan: korban kekerasan domestik (kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan di masa pacaran), korban perdagangan manusia (trafficking), korban kekerasan seksual dan korban kekerasan gender yang mengalami kehamilan tidak diinginkan. Mereka akan tinggal sementara di rumah aman dan selanjutnya ada individu-individu yang akan membantu para korban.

Sejumlah negara sudah mendirikan rumah-rumah aman ini. Di Jepang didirikan di tahun 1993 dan saat ini sudah terdapat 13 safe house disana. Sedangkan di Indonesia baru sedikit rumah aman yang berdiri dan hanya ada di kota-kota besar seperti Jakarta. Namun di sejumlah daerah, terdapat Forum Pengada Layanan LSM yang dibuat untuk membantu para korban kekerasan untuk menyelesaikan persoalan mereka.



(Foto: ilustrasi/ pixabay.com)
(Sumber: safehouse-denver.org, http://twsh.org/who-we-are)



Sica Harum – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Puluhan organisasi masyarakat sipil Koalisi 99 yang terdiri dari sejumlah organisasi masyarakat akan melakukan Judicial Review atas Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No 1 Tahun 2016 Tentang Perlindungan Anak yang dikeluarkan Presiden.

Judicial Review akan diajukan karena dikeluarkannya Perppu Perlindungan Anak ini merupakan cerminan pemerintah yang masih setengah hati. Koalisi 99 melihat bahwa Perppu tersebut tidak memasukkan aturan terkait hak-hak korban. Dalam rilisnya, Koalisi 99 menyebutkan  bahwa pemerintah telah lari dari tanggung jawab atas korban.

Sebelumnya, pada 25 Mei 2016, Presiden RI Joko Widodo telah menyampaikan sikap negara yang menilai bahwa “Kejahatan terhadap anak sebagai salah satu kejahatan luar biasa” dan ditindaklanjuti dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) tentang Perlindungan Anak. Hal ini dilakukan  pemerintah untuk memberikan perlindungan bagi anak-anak dari tindak kejahatan seksual yang menurut pemerintah semakin mengkhawatirkan.

Presiden meyakini bahwa tindak kejahatan seksual dapat mengancam dan membahayakan anak-anak serta merusak kehidupan pribadi dan tumbuh kembang anak di masa depan. 

Dalam Perppu tersebut juga diatur sanksi tambahan dan pemberatan hukuman berupa hukuman kebiri kimiawi (chemical castration) dan pemasangan alat pendeteksi elektronik serta membuka identitas pelaku kekerasan seksual. 

“Pemerintah seharusnya juga menjalankan tugas dan kewajibannya  dengan maksimal dalam rangka memberikan perlindungan dan pemulihan bagi korban dengan memberikan pemenuhan akan hak-hak korban. Yaitu hak untuk mendapatkan kompensasi bagi korban atau keluarga korban.  Namun karena pemerintah setengah hati dalam memberikan perlindungan terhadap anak korban kejahatan seksual, dengan  tidak dicantumkan hak-hak  korban dalam Perppu tersebut,” ujar Evie Permata Sari dari Sapa Indonesia yang merupakan anggota Koalisi 99.

Koalisi 99 juga melihat bahwa pemerintah hanya sibuk memberikan penghukuman bagi pelaku kejahatan seksual dengan tujuan untuk memberikan efek jera bagi pelaku, namun pemerintah lupa memikirkan untuk memprioritaskan korban, memberi keadilan, juga memberikan perlindungan baik secara fisik maupun psikis bagi anak-anak yang menjadi korban dan melakukan pemenuhan hak-hak korban yang terjadi karena dampak dari kejadian yang telah dihadapi oleh korban.

Penjatutan hukuman mati misalnya yang disebutkan dalam Perppu tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Padahal Indonesia sudah meratifikasi Deklarasi Hak Asasi Manusia (DUHAM) .

Selain Koalisi 99 yang terdiri antaralain LBH APIK, ICJR, ELSAM, Forum Pengada Layanan, PBHI, Kontras, Perempuan Mahardhika, Perkumpulan Magenta, Sahabat Anak serta puluhan organisasi lainnya dan  Komnas Perempuan bersama para korban kekerasan seksual juga telah menyatakan penolakan terhadap Perppu No. 1 Tahun 2016 tersebut karena dinilai hanyalah suatu langkah reaktif pemerintah menutupi kegagalannya selama ini dalam menghapus atau menekan angka kasus kekerasan seksual.



(Suasana Konferensi pers Koalisi 99 di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia/ YLBHI pada Minggu, 30 Mei 2016/ Foto: Evie Permatasari)




Estu Fanani - www.konde.co

Jakarta – konde.co.   Malam puncak perayaan Hari Internasional Melawan Homophobia dan Transphobia (IDAHOT) digelar pada tanggal 27 Mei 2016 Jumat malam lalu. Kegiatan ini juga sekaligus perayaan 10 tahun Arus Pelangi.

Secara internasional, IDAHOT biasa dirayakan setiap 17 Mei, dan pertama kali dilakukan pada 2004 yang dimaksudkan untuk mendapatkan perhatian dari para pengambil kebijakan, politisi, pemerintah dan masyarakat agar menghilangkan atau menghapuskan rasa kebencian terhadap homoseksual dan transeksual. Di Indonesia sendiri, IDAHOT mulai diperingati sejak tahun 2007 dan dilakukan secara serentak di 4 kota besar yakni Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan Purwokerto.

Kebencian terhadap kelompok LGBTI atau Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender-Transeksual, dan Interseks di Indonesia semakin terbuka dan seringkali berwujud pada kekerasan, penangkapan dan pembubaran kegiatan atau forum yang diadakan oleh kelompok LGBTI maupun kelompok lain yang membahasa isu LGBTI. Kebencian dan kekerasan terhadap kelompok LGBTI bisa terjadi di ranah privat maupun publik, dalam bentuk kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan domestic, bullying, drop out sekolah, pemecatan dari tempat kerja hingga perkosaan untuk mengoreksi orientasi seksual. 

Tahun 2013 Arus Pelangi mencatat sebanyak 89.3% LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan. Kekerasan yang dialami oleh komunitas LGBT membuat 17.3% diantaranya pernah melakukan usaha bunuh diri, sementara 65.2% LGBT mencari bantuan ke teman saat mengalami kekerasan dan hanya 18.7% yang mencari bantuan ke keluarga. 29.8% LGBT memilih untuk tidak mencari bantuan saat mengalami kekerasan. Data-data ini menunjukan bahwa komunitas LGBT sangatlah rentan terhadap kekerasan, stigma, dan diskriminasi yang kerap terjadi di ruang publik dan ruang domestik karena sikap homophobia, biphobia & transphobia.

Di puncak perayaan IDAHOT 2016 ini, Komite IDAHOT 2016 mengambil tema local “You Are Not Alone”. Hal ini diambil karena perjuangan pengakuan dan pemenuhan hak asasi terhadap kelomok LGBTI dan penghapusan kebencian dan kekerasan terhadap kelompok LGBTI ternyata mendapatkan dukungan dari berbagai organisasi dan lembaga serta institusi. Malam puncak perayaan IDAHOT dihadiri sekitar 300 orang, tidak hanya dari organisasi LGBTI, namun juga oleh komunitas LGBTI, perwakilan organisasi perempuan, organisasi HAM, dan perwakilan dari kedutaan Belanda, Amerika dan UK.

Perayaan ini juga diisi oleh komunitas LGBTI dengan berbagai atraksi seni dan orasi yang memperlihatkan keberagaman seksualitas dan gender serta mempromosikan stop kebencian terhadap homoseksual, biseksual dan transgender-transeksual. Dari pembacaan Queer Puisi, Queer Monolog hingga Gogo dance. Yang pasti malam itu sungguh meriah dan memperlihatkan semangat serta solidaritas dari berbagai pihak untuk bersama melawan kebencian terhadap homoseksual, biseksual dan transgender-transeksual.

“Malam ini kami dengan penuh kebahagiaan dan semangat juang, ingin bersama merayakan peringatan IDAHOT 2016 dan perjalanan 10 tahun Arus Pelangi. 10 tahun sudah berlalu, dan kita tetap akan disini, dan kalian semua akan tetap bersama kami. Satu hal yang harus tetap diingat, kita tidak akan pernah lelah, tidak juga akan kehilangan harapan dan tidak akan pernah menyerah,” ungkap Lini Zurlia sebagai coordinator kegiatan malam itu. 


(Foto: ilustrasi/ pixabay.com)


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Apa yang terjadi jika anak-anak dihadapkan pada pilihan:

“Ayah dan ibu mau berpisah, kamu mau ikut siapa?”.

Anak –anak, secara umum akan merasa bingung karena ia tidak tahu apakah artinya berpisah?. Dia akan merasa bingung karena mengapa ia harus memilih salah satu, mau ikut ibu atau ayahnya, mengapa ia tak boleh ikut keduanya seperti biasanya selama ini?.  Lalu apa artinya memilih ini? Apakah ia kemudian tidak akan bertemu salah satu diantara ayah atau ibunya?.

Selain itu, anak-anak juga akan merasa ketakutan menghadapi apa yang akan terjadi dalam hidupnya jika keduanya berpisah?

Denia Putri Prameswari, penulis buku tentang perceraian orangtua dan akibatnya bagi anak “Kami Tetap Menyanyangimu, Kelinci kecil,” menyatakan  hal ini dalam acara diskusi berjudul: Bagaimana menjelaskan perceraian kepada anak? yang diadakan Konde Institute, Nyonya Buku dan Arkea.id di Komnas Perempuan Jakarta pada Sabtu (29/05/2016) kemarin.

Buku Denia ini juga merupakan thesisnya di Magister Psikologi Universitas Indonesia. Denia menyatakan sulit bagi anak untuk menerima perceraian orangtuanya, karena perceraian adalah sesuatu yang masih tabu di Indonesia. Maka akibatnya banyak anak kemudian tidak mendapatkan informasi yang tepat soal apa itu perceraian dan mengapa orangtuanya mesti berpisah?

“Anak-anak sering bertanya, mengapa harus berpisah? Mengapa tiba-tiba ayahnya pergi dan tidak kembali seperti biasa di rumah mereka? Mengapa ketika ulangtahunnya, ayah tidak datang lagi?,”jelas Denia.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang dialami anak-anak pada umumnya ketika ayah dan ibunya bercerai.  Buku yang ditulis Denia ini juga merupakan salah satu pengalaman hidupnya dimana orangtuanya berpisah ketika ia masih kelas 2 SD. Namun Denia menyatakan bahwa dalam perpisahan kedua orangtuanya tersebut, ia masih bisa bertemu ayahnya, komunikasi mereka baik dan bisa berlibur bersama-sama hingga sekarang.



Turunkan Egoisme Orang Tua, Jangan Jadikan Anak Sebagai Korban


Hal yang dialami Denia, ternyata tak banyak dialami anak-anak pada umumnya yang orangtuanya bercerai. Jika Denia masih bertemu dan berkomunikasi secara baik, kebanyakan anak-anak Indonesia yang orangtuanya bercerai  kemudian harus dipisahkan sama sekali dari salah satu orangtuanya. Dan tak jarang, mereka tak boleh bertemu sama sekali dengan salah satu orangtuanya. Karena kebanyakan, perceraian di Indonesia selalu diakhiri dengan pertengkaran hebat.

Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati mengatakan bahwa dalam perceraian, orangtua wajib mempertimbangkan perasaan anak. Karena jika tidak, maka anak setelah orangtuanya berpisah akan merasa bingung, takut dan malu. Apalagi jika orangtuanya terus-terusan bertengkar dalam masa perceraian ini. Anak akan bingung karena dihadapkan pada banyak pilihan yang tidak ia mengerti.

“Sejumlah kasus misalnya, anak harus memilih antara ayah atau ibunya. Setelah itu, ia tertutup aksesnya untuk bertemu satu diantaranya. Ada yang seminggu tinggal di ibu lalu seminggu kemudian diambil ayahnya dalam suasana pertengkaran yang hebat. Bahkan ada yang dipaksa pindah sekolah karena diambil oleh orangtuanya secara paksa. Ini menunjukkan bahwa selain mereka dipisahkan dengan salah satu orangtuanya, hak pendidikan anak juga jadi terabaikan. Anak-anak tidak pernah ditanya, apa maunya dan tidak pernah diterangkan apa maksud dari semua ini?” ujar Rita Paranawati.

Rita menambahkan bahwa dalam perceraian, orangtua harusnya menurunkan ego masing-masing, tidak memaksakan kehendak untuk anak dan harus diterangkan secara baik-baik mengenai putusan-putusan yang mesti mereka ambil dan apa akibatnya bagi anak.

“Anak harus dilibatkan dalam seluruh putusan-putusan orangtua. Apalagi perceraian dimana masyarakat Indonesia masih menganggap tabu. Anak sering ditanya tetangga atau temannya, mengapa orangtuamu bercerai? Tak jarang mereka kemudian dikucilkan karena perceraian ini. Jangan sampai anak-anak terombang-ambing jiwanya.”

Hingga saat ini, setiap proses perceraian dan pengasuhan anak serta pemisahan harta gono-gini selalu membutuhkan waktu yang panjang di pengadilan, tak jarang harus dilakukan bertahun-tahun lamanya. Dalam waktu inilah anak harus  ditenangkan hatinya karena situasi yang merubahnya. Ayahnya tidak kembali lagi atau ibunya yang tidak ada di rumah lagi dan harus berpindah. Indonesia sudah meratifikasi konvensi seperti Convention of Child Support yang berisi agar negara dan orangtua mensuport hak-hak anak termasuk dalam masa-masa perceraian.


Jatuh Bangun Dalam Situasi yang Sulit bagi Perempuan

Psikolog Universitas Indonesia dan aktivis perempuan, Kristi Poerwandari selama ini banyak menangani konsultasi sekaligus melakukan advokasi terhadap para perempuan yang kemudian bercerai. Kebanyakan karena perempuan harus berpisah karena  ia merupakan korban kekerasan dari suaminya misalnya suaminya selingkuh.

Rata-rata perempuan yang datang selalu dalam kondisi kebingungan karena akibat perceraian ini, suaminya pergi dan ia harus bekerja, menjadi single mother dan mengurus anak sendiri.

“Banyak single mother kemudian mengalami ini. Hidup yang tiba-tiba berubah ini yang kemudian harus disesuaikan secara cepat, karena ia mesti bekerja sambil menenangkan anaknya yang tiba-tiba melihat ayahnya tidak ada di rumah. Banyak perempuan yang mengalami jatuh bangun dalam kondisi ini. Luka batinya banyak dan kemudian menjadi emosi terhadap dirinya sendiri dan anaknya.”

Maka dalam perceraian, Kristi Poerwandari menyatakan yang pertama harus dilakukan adalah proses mediasi karena dalam proses mediasi ini kedua orangtua harus belajar sabar, bertoleransi dan berbicara positif dengan anak.

Dalam proses mediasi ini, kedua orangtua harus berbicara baik-baik apa yang harus dilakukan dan yang tak boleh dilakukan untuk anak-anak mereka. Misalnya yang tak boleh dilakukan adalah bertanya pada anak: kamu mau pilih hidup sama siapa? Ayah atau ibu? Karena ini akan menghadapkan pilihan yang sulit.

Lebih baik adalah memberitahu anak mengapa mereka harus berpisah dan diberitahu tentang hak-hak anak, misalnya jika hari libur masih bisa bertemu ayahnya atau berapa hari dalam seminggu bisa bertemu ayahnya. Mereka masih bisa berenang bersama, makan bersama dan ulangtahun bersama. Jadi anak juga tetap menjadi tanggungjawab kedua orangtuanya. Dengan cara ini maka selain anak paham akan situasi yang terjadi, hidup juga tidak akan terlalu memberatkan perempuan sebagai single mother. Karena bagaimanapun, perempuan selain banyak yang harus menjadi single mother, kemudian ia juga menanggung efek psikologi yang tidak sedikit, seperti menangung malu karena perceraian ini.

“Banyak perempuan yang kemudian didera perasaan bersalah. Apa yang salah dengan dirinya sampai pasangannya melakukan tindakan itu? ia ingin bicara dengan orang lain namun takut salah, jangan-jangan malah tidak didukung karena perceraian memang banyak yang masih menganggap tabu,” ujar Kristi Poerwandari.

Selain mediasi, maka yang dibutuhkan adalah support group dari psikolog maupun orang-orang terdekat. Dengan support penuh, maka perempuan kemudian tidak dibiarkan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.


Denia dan Buku Kelinci Kecil


Denia Putri Prameswari menyatakan bahwa buku yang ia tulis ini bercerita tentang bagaimana orangtua yang selalu positif melibatkan anak dalam sebuah proses perceraian yang sulit. Hal ini bermakna bahwa Denia sebenarnya ingin mengajak para orangtua untuk menyelesaikan perceraian secara baik-baik dan tetap melibatkan anak dalam keputusan ini.

“Saya ingin mengajak bahwa perceraian bisa saja dilakukan secara baik-baik, jadi menyelesaikan yang sulit secara positif demi anak-anak.”

Denia sengaja memilih kelinci sebagai ilustrasi dalam buku ini karena agar buku ini bisa menceritakan perceraian dengan lebih mudah kepada anak-anak, perceraian juga tidak menakutkan bagi anak-anak. Karena yang paling sulit adalah menjelaskan bagi anak-anak ketika salah satu harus meninggalkan rumah. Anak-anak balita umumnya akan bertanya: dimana ayah, kog tidak pulang? Apalagi jika ia dipisahkan dengan saudaranya. Karena banyak anak yang kemudian harus berpisah dengan orangtua dan kemudian juga dengan saudaranya karena biasanya anak perempuan ikut ayah dan anak-anak laki-laki ikut ibunya. Perpisahan ini sama sekali tidak mengenakkan, namun dengan selalu melibatkan anak dan orangtua yang bertoleransi, perceraian bisa dilakukan secara baik-baik.


(Diskusi bagaimana menjelaskan perceraian pada anak? yang dilakukan Konde Institute, Nyonya Buku dan Arkea.id di Komnas Perempuan pada Sabtu 28 Mei 2016/ Foto: Estu Fanani)

Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Hivos Southeast Asia memilih 100 perempuan pemimpin di Indonesia. 100 perempuan tersebut dipilih karena selama ini dianggap konsisten dalam memimpin perjuangan perempuan dan hak minoritas di Indonesia. Penganugerahan 100 perempuan pemimpin tersebut diselenggarakan di Jakarta pada Jumat (27/05/2016)kemarin.

Tunggal Pawestri, Program Development Manager Women Empowerment and Sexual Rights and Diversity Hivos Southeast Asia menyatakan bahwa perempuan yang terpilih disini adalah perempuan yang mengusung nilai-nilai demokrasi dan mewujudkannya dalam solidaritas kemanusiaan.

“Para perempuan pemimpin ini dipilih oleh tim Hivos berdasarkan kemitraan yang pernah dibangun dan kesesuaian prinsip yang diusung oleh Hivos, yaitu kemanusiaan, keragaman, demokrasi, kebebasan, keterbukaan, keadilan, solidaritas dan penuh tanggung jawab atas sumber daya alam,” ujar Tunggal Pawestri.

Salah satu pengelola www.Konde.co, Poedjiati Tan terpilih sebagai 1 dari 100 perempuan pemimpin. Poedjiati dianggap sebagai pemimpin perempuan yang mampu  membongkar stigma, ketabuan, dan mitos seputar seksualitas. Pemimpin dalam kategori ini dianggap mempunyai keberanian dalam memperjuangkan isu minoritas. Selama ini Poedjiati Tan aktif dalam perjuangan untuk perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan berjuang untuk kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Sejumlah perempuan lain yang masuk dalam 100 perempuan pemimpin diantaranya adalah Veronika Koman dari LBH Jakarta, Selly Martini dari ICW, Poengky Indrati dari Imparsial, Budhis Utami dan Missiyah dari Kapal Perempuan, Dosen Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto yang dianggap selama ini telah memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial dan gender, transparansi, akuntabilitas, dan inklusi adalah prinsip-prinsip dalam berdemokrasi. Setiap kebijakan yang dihasilkan para perempuan ini dipastikan memberikan keadilan pada semua kelompok masyarakat, terutama kelompok marjinal.

Sedangkan Dian Novita dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika, Anis Hidayah dari Migrant Care, Puri Kartika Putri dan Ninis dari Kontras, Frenia Nababan dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dipilih karena selama ini konsisten dalam berjuang bagi hak konstitusi masyarakat.

Hivos menuliskan 100 kiprah perempuan tersebut dalam website: www.womenunlimited.id yang bisa diakses langsung oleh masyarakat.


(Suasana penganugerahan 100 perempuan pemimpin Hivos Southeast Asia di Jakarta pada 27 Mei 2016 di Jakarta, Foto: Luviana)

Luviana – www.konde.co

Hongkong, Konde.co – Satu lagi kasus kasus menimpa buruh migran perempuan asal Indonesia. Kasus ini menimpa Suyanti, korban penerapan paspor Biometrik yang bekerja di Hongkong.

Suyanti, adalah seorang buruh migran yang tahun kelahirannya di paspor yang diduga dikoreksi oleh kantor Imigrasi di Indonesia. Gara-gara koreksi pada paspornya ini, ia kemudian divonis 6 bulan penjara oleh Pengadilan Hong Kong, Jumat (27/05/2016) hari ini.

Hakim Pengadilan Hongkong memvonis Suyanti karena dianggap telah berbohong kepada Departemen Imigrasi Hong Kong terkait identitasnya ketika masuk dan bekerja di Hong Kong. Padahal menurut laporan Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), Suyanti merupakan korban dari perubahan paspor yang diduga dilakukan di Indonesia. Kasus ini merupakan kasus keenam setelah penerapan paspor biometrik yang menimpa buruh migran Indonesia.


Perjuangan Suyanti
Awalnya perempuan asal Blitar ini bekerja di Hong Kong pada satu majikan dari tahun 2000 hingga 2007. Ketika itu, PJTKI yang memberangkatkannya, mengubah tahun kelahirannya dari 1984 menjadi 1980.

Pada bulan Maret 2016, Suyanti kembali terbang ke Hong Kong untuk bekerja pada majikannya dulu. Namun kali ini menurut laporan JBMI,  di tahun kelahiran di paspornya yang baru yang diduga telah diubah oleh Kantor Imigrasi di Indonesia.

Sesampainya di Hong Kong, Suyanti mengajukan pembuatan Identity Card (ID) baru di kantor imigrasi Hong Kong karena ID lama hilang. Ketika jadwal pengambilan, petugas imigrasi menyuruh Suyanti mendatangi Kantor Imigrasi Bagian Investigasi di Kowloon Bay pada 28 April 2016. Namun ketika disana ia langsung ditahan.

Suyanti dipersidangkan di Pengadilan Fanling pada 30 April 2016 dan tidak diberi kesempatan menunggu kasus di luar penjara. Suyanti kemudian divonis bersalah atas tuduhan memalsukan identitas dan divonis 12 bulan penjara tapi dipotong 6 bulan karena mengaku bersalah. Suyanti tidak mengira nasibnya akan seperti ini. 

Sejak Suyanti ditangkap, Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) yang melakukan pendampingan pada Suyanti menyatakan sudah melaporkannya ke KJRI dan meminta supaya Suyanti dan pengacaranya diarahkan. Namun Sringatin dari JBMI menyatakan bahwa tidak ada upaya kesana. Pihak Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong yang datang di sidang juga tidak menyakinkan pengacara untuk upaya pembelaan.

“KJRI punya akses masuk ke penjara untuk mengarahkan Suyanti dan bertemu dengan pengacaranya. Tapi upaya itu tidak dilakukan. Akhirnya Suyatin hanya mengikuti arahan pengacara agar mengaku bersalah agar hukumannya diperingan,” ujar Sringatin.


Buruh Migran Korban Paspor Biometrik 

Dalam catatan JBMI, Suyanti adalah korban keenam yang dipenjara di Hong Kong sejak penerapan paspor biometrik pada Januari 2015.

Korban lain adalah Slamet Riyani, SS, SNI, MH dan AR. Selain itu, tak terhitung buruh migran yang terpaksa memutuskan kontrak dan pulang ke Indonesia karena takut dipenjara.

Dari survey JBMI terhadap buruh migran di Hong Kong, Januari - Maret 2016, ditemukan pemalsuan nama sebanyak 15,5% dan pemalsuan tanggal/bulan/tahun kelahiran sebanyak 31%. Pelaku utama pemalsuan adalah PJTKI yang memberangkatkan.

Menyikapi pernyataan perwakilan KJRI-Hong Kong bahwa BMI yang mengubah identitas di paspornya di Indonesia jangan kembali ke Hong Kong, JBMI menilai sikap ini semakin menunjukkan pemerintah sengaja membiarkan dan bahkan menjerumuskan para korban dengan tidak memberikan jaminan kepastian hukum.

“Jika tidak ada pendekatan cepat dan kesepakatan dengan pemerintah Hong Kong, kecil kemungkinan korban-korban lain yang sedang menunggu sidang selamat. Pemalsuan data paspor adalah salah satu praktek perdagangan orang atau human trafficking. Harusnya pemerintah menghukum PJTKI yang memalsukan dan bukan sebaliknya” tegas Sringatin

Sica Harum – www.Konde.co

Dan aku memungutnya saja. Kadang-kadang, lupa bilang terima kasih, malah!

Kadang-kadang, kalau sedang lelah dan tak ada ide, sementara uang muka honor penulisan sudah masuk rekening, aku cukup keluyuran. Namanya juga sudah dibayar. Masa mau diam-diam saja menunggu ide datang?

Maka aku menjemputnya. Ke mana saja. Ke taman. Ke mal. Ke pasar, lewat di dekat dekat rumah. Kadang-kadang, dapat ide. Kadang- kadang pulang dengan kepala masih sama seperti sebelumnya.

Cara lain yang seringkali jitu, berbincang dengan supir taksi, berbincang dengan ibu-ibu pedagang makanan, atau ibu-ibu penyapu jalan. Orang-orang yang sangat sering kujumpai.

“Aku ini loh, Mbak. Nganter orang dari mal ke mal. Tiga bulan di Jakarta, aku hapal deh mal di sini. Tapi aku itu enggak tahu kayak apa sih mal iku? Sebanyak apa barang-barang yang dijual?  Abis nyupir, capek. Maunya langsung melungker nang mes. Kapan-kapan, aku mesti ke mal.”

Itu adalah kisah seorang supir taksi asal pekalongan yang berhenti jadi supir truk  Pantura dan ikut tetangganya ke Jakarta.

Lalu, di lain waktu, ketika taksi melintas jalan di depan Taman Menteng, dan lalu lintas tersendat gara-gara deretan mobil parkir hampir menghabiskan setengah badan jalan, aku jadi tahu si supir taksi tersebut rupanya mantan buruh migran di Korea.

“Ini tuh kalau dilaporkan, besoknya kosong. Lalu begini lagi. Pasti preman yang main. Kalau di Korea, enggak ada yang begini nih. Kalau kita menerobos lampu merah pun, tak ada polisi datang menghampiri.  Tapi akhir bulan, ada tagihan, kita bisa bayar di ATM. Kalau tak bayar, bulan depannya akan otomatis terdebet. Padahal Korea itu merdeka kan enggak jauh-jauh dari Indonesia merdeka ya.”

Itu Kisah seorang supir taksi yang membeli tanah di kawasan Pasar Rebo setelah 5 tahun jadi buruh migran di Korea, lalu membangun kontrakan 18 pintu. Ia menyupir dua hari sekali, untuk kesibukan di sela-sela kewajiban mengecek pompa air kontrakan dan membayar listrik.

Cerita lain adalah cerita  ibu pedagang makanan. Cerita ibu yang jual nasi uduk. Harus masak dari semalam, tidur sebentar dan kemudian bangun dini hari agar bisa berjualan mulai subuh. Setelah selesai jam 9 pagi, baru beberes rumah.

Rutinitas ini hampir sama dengan penjual sayur dekat rumahku. Suaminya belanja ke Pasar Kebayoran Jakarta mulai jam 2 dinihari. Lalu istrinya yang jualan sampai jam 10 pagi keliling dengan gerobak di kampung-kampung.

Hampir sama dengan cerita ibu penyapu jalan. Jam 6 pagi harus siap kerja di jalan, setelah bangun jam 4 pagi membereskan rumah dan menyiapkan makanan. Nanti akan pulang jam 3 sore dan langsung mencuci baju orangenya. Habis itu ngurus anak dan baru bisa istirahat. Tapi dia senang, menikmati kerjaannya karena bisa bertemu banyak teman dan kerja di jalan. Yang paling repot memang kalau hujan karena harus mencari tempat berteduh.

Lumayan ya, obrolan di taksi dan dengan ibu-ibu pedagang dan penyapu jalan sungguh-sungguh bikin hari jadi berwarna. Itu cuma tiga diantaranya. Mereka memang pejuang kehidupan. Lalu kupungut satu demi satu, dan jadilah sebuah cerita yang harus kutulis.


(Di sebuah kantin, ngobrol dengan sejumlah wartawan dan penulis)


Luviana - www.Konde.co

Konde.co, Jakarta - Dari sebatang rokok, kita bisa melihat perjalanan panjang kehidupan manusia-manusia. Kehidupan buruh tembakau yang tetap miskin, hingga kehidupan anak-anak yang menjadi buruh tembakau. Anak-anak ini adalah korban-korban dari perjalanan sebatang rokok. Terpapar pestida, terkena penyakit. Seperti yang dialami Ayu dan ribuan anak-anak perempuan yang menjadi buruh tembakau di Indonesia.

Ini merupakan paparan dari penelitian yang dilakukan Human Rights Watch tentang bahaya anak-anak yang bekerja sebagai buruh tembakau di Indonesia yang peluncurannya dilakukan Rabu (25/5/2016) kemarin. Penelitian dilakukan di 3 provinsi di Indonesia yaitu di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat. Selama September 2014 dan September 2015, Human Rights Watch mewawancarai 227 orang, termasuk 132 anak usia 8-17 tahun yang dilaporkan bekerja di pertanian tembakau pada 2014 atau 2015.

Adalah Ayu. Ayu adalah gadis mungil 13 tahun dari satu desa dekat Garut di pegunungan Jawa Barat. Ia satu dari lima anak di keluarganya yang orangtuanya adalah petani yang mengolah tembakau dan tanaman lain di sebidang lahan sempit.

“Sejak kecil saya sudah pergi ke ladang. Orangtua saya menanam tembakau.Saya sering membantu orangtua dan kadang juga tetangga saya. Saya punya seorang kakak perempuan, seorang kakak laki-laki, dan dua adik. Mereka juga ikut membantu,” kata Ayu.

Ayu siswi kelas satu Sekolah Menengah Pertama, dan ia menghabiskan banyak waktunya di luar sekolah untuk pergi ke ladang. Di pagi buta sebelum jam sekolah, di sore hari, dan saat akhir pekan serta liburan. Ia mengatakan kepada Human Rights Watch bahwa ia kadang tak masuk sekolah untuk bekerja di ladang tembakau. Ayu kemudian juga membantu ayahnya mencampur racun pestisida yang disemprotkan ke ladang tembakau.


“Ibu saya meminta saya untuk bolos sekolah tahun lalu saat musim panen,” katanya.



Ia berkata kerap muntah-muntah setiap tahun saban memanen tembakau.

“Saya muntah saat saya terlalu lelah memanen dan mengangkut daun tembakau. Perut saya seperti...saya tak bisa jelaskan; mulut saya bau. Saya muntah bekali-kali... Ayah membawa saya pulang. Itu terjadi saat kami panen. Cuaca panas, dan saya sangat lelah... Baunya tak enak saat panen. Saya selalu muntah setiap kali memanen.”

Gejala yang dijelaskannya muntah dan mual konsisten dengan gambaran orang terkena racun akut akibat nikotin, satu jenis penyakit akibat pekerjaan di pertanian tembakau ketika pekerja menyerap nikotin melalui kulitnya saat menyentuh tanaman tembakau.


“Saya menuangkan tiga atau empat wadah bahan kimia ke dalam ember, menuangkan air, dan mengaduknya dengan tongkat kayu, lalu ayah saya menuangkan campuran itu ke dalam tangki.Baunya sangat tajam. Membuat perut saya sakit.”


Anak-Anak yang Bekerja dan Putus Sekolah

Di Indonesia pekerjaan di ladang tembakau tidak dimasukkan dalam pekerjaan berbahaya. Padahal menurut Human Rights Watch, pekerjaan ini berbahaya karena melibatkan anak-anak ke dalam pekerjaan dengan zat kimia yang berbahaya.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa anak-anak bekerja disini mulai dari umur 15 tahun. Anak-anak yang diwawancarai untuk laporan ini biasanya bekerja pada sebidang lahan sempit yang diolah oleh orangtua atau anggota keluarga mereka. Selain bekerja di ladang keluarga, banyak anak juga bekerja di lahan tetangga dan anggota masyarakat lain.

Beberapa anak tidak menerima upah untuk kerja mereka, baik karena mereka bekerja untuk ladang keluarga atau gantinya ditukar dengan tenaga anggota keluarga lain di kelompok masyarakatnya.Anak-anak lain menerima upah sekadarnya.

Anak-anak ini juga mengatakan bahwa mereka bekerja di pertanian tembakau untuk membantu keluarga. Banyak anak yang kemudian bekerja di ladang tembakau karena tidak punya uang untuk sekolah.


Tanggungjawab Perusahaan dan Pemerintah

Anak-anak yang bekerja di pertanian tembakau di Indonesia terpapar nikotin, racun pestisida, dan panas ekstrem. Mayoritas anak-anak yang diwawancarai untuk laporan ini menjelaskan sakit yang mereka alami saat bekerja di pertanian tembakau, termasuk gejala spesifik yang berkaitan dengan keracunan nikotin akut, paparan pestisida, dan berbagai cedera akibat suhu panas. Beberapa anak melaporkan gejala masalah pernapasan, kondisi kulit, dan iritasi mata saat bekerja di pertanian.

Pemerintah Indonesia tidak efektif melaksanakan undang-undang soal buruh anak dan peraturan di sektor pertanian skala kecil. Dalam satu pertemuan dengan Human Rights Watch, seorang wakil kementerian menjelaskan bahwa pengawasan buruh hanya dilakukan di industri pertanian skala besar, bukan di sektor pertanian skala kecil tempat bekerja hampir seluruh anak-anak yang kami wawancarai untuk laporan ini.

Rantai pasokan tembakau adalah tanggungjawab perusahaan dan pemerintah yang harus memiliki tanggungjawab utama untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak asasi manusia sesuai hukum internasional. Sementara lembaga swasta, termasuk institusi bisnis, juga punya tanggungjawab untuk tidak jadi penyebab atau berkontribusi terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Human Rights Watch melihat bahwa mereka perlu mengambil langkah efektif guna memastikan setiap pelanggaran yang terjadi ditangani secara efektif. Ini termasuk tanggungjawab untuk memastikan bahwa operasional bisnisnya tidak menggunakan, atau turut berkontribusi memakai buruh anak dalam pekerjaan yang berbahaya.


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Banyak tayangan yang tidak berperspektif gender dan anak, sangat Jakarta sentris, banyak televisi yang menayangkan siaran-siaran partai politik pemiliknya dan juga content-content tayangan yang tidak pluralis. Hal ini merupakan catatan penting Remotivi yang disampaikan Muhammad Heychael, direktur Remotivi pada konferensi pers Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran (KNRP) terhadap 10 stasiun televisi di Indonesia, pada Rabu (25/05/2016) hari ini di Jakarta.

Namun kritikan Heychael ini ternyata tidak masuk  dalam kesimpulan acara Evaluasi Dengar Pendapat (EDP) terhadap 10 stasiun televisi terbesar di Indonesia yang diselenggarakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). EDP ini berlangsung pada 10 – 17 Mei 2016 di Jakarta. Sepuluh stasiun TV yang dievaluasi yaitu ANTV, GlobalTV, Indosiar, MetroTV, MNCTV, RCTI, SCTV, TransTV, Trans7, dan TVOne.

Evaluasi ini diselenggarakan sebagai bagian dari proses perpanjangan Izin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) sepuluh stasiun TV tersebut yang akan berakhir Oktober 2016.

Ade Armando, akademisi UI melihat bahwa KPI terlihat tidak sungguh-sungguh menyelenggarakan EDP. Padahal EDP memiliki arti strategis, mengingat melalui forum ini KPI memiliki kewenangan untuk memberikan atau menolak rekomendasi perpanjangan Izin penyiaran bagi stasiun TV yang dinilai tidak menyajikan muatan yang sejalan dengan kepentingan publik. Disinilah sebenarnya KPI seharusnya berjuang untuk publik, untuk tayangan yang tidak ramah pada perempuan dan minoritas.

Sebelumnya, Bayu Wardhana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan, seharusnya pemberian rekomendasi Izin ini diambil berdasarkan catatan mengenai berbagai pelanggaran peraturan perundangan yang dilakukan setiap stasiun TV swasta selama 10 tahun terakhir, mulai dari persoalan isi siaran sampai dengan pelaksanaan Sistem Stasiun Jaringan (SSJ). Sayangnya, EDP jauh dari evaluasi sistematis semacam itu.

“ KPI tidak terlihat berusaha mensyaratkan komitmen masing-masing stasiun TV swasta untuk menempatkan kepentingan publik dalam prioritas pertama sebagai persyaratan perpanjangan IPP," ujar Bayu Wardhana.

Dan  KPI menurut Ade Armando hampir-hampir tidak memaparkan masukan publik (Uji Publik) yang di awal tahun 2015 diminta oleh KPI untuk diajukan masyarakat.


Evaluasi yang dipaparkan KPI dalam EDP hanya bersifat parsial dan mikro. Sesekali ada pertanyaan kritis diajukan seperti tayangan sinetron dan infotainment yang mendiskriminasi perempuan dan mengeksploitase hal-hal pribadi misalnya, namun hal semacam itu sama sekali tidak mewakili rapor secara keseluruhan. Bobby Guntarto dari KNRP dan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) melihat bahwa KPI tampaknya tidak mempersiapkan diri dengan baik menghadapi EDP.

“Kualitas pertanyaan yang diajukan sebagian komisioner sama sekali tidak substansial untuk sebuah evaluasi 10 tahun. Persoalan-persoalan serius seperti penggunaan frekuensi publik untuk kepentingan propaganda politik, bagaimana perlindungan perempuan, anak dan remaja dari tontonan tidak sehat atau pelanggaran ruang pribadi masyarakat hanya disebut sekilas.”

Yovantra Arif, peneliti Remotivi menyatakan bahwa rangkaian catatan di atas menunjukkan tidak ada bukti cukup bahwa KPI telah menyelenggarakan EDP dengan cara yang menempatkan kepentingan publik sebagai prioritas utama.

Padahal EDP ini sangat krusial untuk menentukan bagaimana nasib content tayangan 10 televisi dalam 10 tahun yang akan datang, termasuk bagaimana televisi selama ini banyak memunculkan stigma yang menimbulkan diskriminasi pada perempuan, kekerasan pada perempuan dan anak, juga pelanggaran ruang-ruang pribadi dalam tayangan-tayangannya.


(Konferensi pers Koalisi Nasional Reformasi Penyiaran di Jakarta, 25 Mei 2016. Dari kiri ke kanan: Bobby Guntarto, Ade Armando dan Kiki Soewarso. Foto: Luviana)
Poedjiati Tan - www.konde.co
Akhir-akhir ini banyak sekali berita tentang perkosaan yang kita baca di media. Terus terang hal ini sangat mengkhawatirkan perempuan dan para orang tua. Saya seringkali mengajarkan beberapa tips kepada perempuan muda bagaimana caranya melindungi diri. Kita memang melawan keras segala bentuk kekerasan dan perkosaan, oleh karenanya tak ada salahnya jika kita membekali diri dengan ilmu bela diri sebagai bentuk perlindungan mandiri.

Sebagai orang yang pernah melatih Taekwondo dan menjadi atlet nasional, saya ingin berbagi beberapa tips sederhana melindungi diri bagi para perempuan. Kita tidak bisa mengharapkan orang lain atau aparat untuk melindungi diri kita. Kita boleh berdoa kepada Tuhan untuk memberikan perlindungan, namun akan lebih baik lagi jika kita bisa menolong diri kita sendiri.

1. Selalu sadar lingkungan :
Selalu sadar dan waspada bila bepergian atau sendirian di tempat umum. Coba lihat disekelilingmu, ada apa aja dan siapa aja. Apakah ada orang mencurigakan atau tidak. Apakah ada yang membuntuti kamu atau tidak. Selalu ingat wajah, pakaian, warna pakaian, dan sepatunya, ketika ada orang yang mencurigakan disekitarmu. Bila perlu, kamu bisa diam-diam memfoto tanpa sepengetahuannya.


Kalau diajak teman (khususnya yang baru dikenal) ke tempat hiburan atau makan malam di tempat umum, jangan pernah meninggalkan makanan dan minumanmu tanpa pengawasanmu. Hal ini untuk menghindari jika orang tersebut berniat jahat misalnya mencampuri minumanmu dengan obat tidur atau lainnya. Lebih baik menghabiskannya sebelum pergi atau pesan baru bila perlu. Selalu beritahu keberadaanmu ke orang lain sehingga mereka tahu kamu terakhir bertemu siapa.

2. Bila di dalam Angkutan Umum (Angkot atau taksi)
Sebelum naik angkot atau taksi lihat nomor angkot/ nomer lambung dan ciri-cirinya. Bila di angkot semua penumpangnya laki laki, sebaiknya tidak naik. Jika sudah terlanjur naik, kamu bisa SMS atau berbicara di telpon dengan teman atau keluarga dan bilang jika kamu sedang di angkot ini. Jangan naik taksi yang menggunakan kaca film gelap dan tidak ada nomer lambungnya. 

Usahakan untuk selalu membawa benda yang bisa dijadikan senjata untuk memukul, menusuk atau menyemprot. Cari benda mudah dibawa dan dipegang selama perjalanan, seperti pensil, cutter, semprotan parfum, tongsis, dll. 

3. Menghadapi Serangan Mendadak.
Bila kamu menghadapi serangan mendadak secara berhadapan, usahakan untuk tetap tenang dan sadar. Jika diserang dari depan misalnya kamu dicekik, dipepetkan ketembok atau ditindih, maka kamu dapat melakukan penyerangan ke titik-titik lemah penyerang, antara lain: mata, telinga, hidung, rahang, jakun dan leher (sekitar tulang belikat). Kamu bisa mencolok, meninju, menampar, mencakar, mencop/menonjok dengan tangan atau mengigitnya. Penting bagi kita mengutamakan keselamatan diri terlebih dahulu daripada merasa kasihan kepada pelaku. Karena belum tentu pelaku merasa kasih kepada korbannya. Pikirkan cara menyelamatkan diri!

Bila penyerang berada dihadapanmu dan memiliki jarak, maka kamu bisa menendang  kemaluanya dengan sepatumu atau menyerang titik lemah dengan menggunakan high heelmu. Bisa juga menginjak kakinya sekencang-kencangnya dengan ujung tumit sepatumu. 


4. Bila kamu diserang lebih dari satu orang .
Bila kamu diserang lebih dari satu orang, usahakan kamu bisa menangkap salah satu penyerang yang paling lemah atau paling kecil fisiknya. Peluk erat-erat dan gigit dia sekuatnya. Keluarkan keberanianmu karena itu adalah energi yang paling kuat dan membuatmu berani melawan. Ketika menangkap pelaku tersebut, usahakan dia jadi tameng kamu dari para penyerang yang lain.


5. Bila diserang dari belakang
Bila kamu diserang dari belakang, kamu bisa menggunakan siku untuk menyerang perut, ulu hati, samping kepala atau kamu bisa meninju kemaluannya dengan sekencang-kencangnya atau menginjak kakinya sekencang-kencangnya. Membenturkan kepalamu ke hidung atau dagu penyerang. Atau kamu bisa mendorong mundur dan loncat sekuatnya menjatuhkan dirimu ke tubuh dia dengan siku ditekuk untuk menyerang perutnya.


6. Menemukan senjata disekelilingmu
Bila kita diserang di tempat umum, segera cari senjata yang bisa digunakan untuk menyerang. Misal: kayu atau batu bisa digunakan untuk memukul, pasir untuk disebarkan ke matanya, atau temukan apa saja untuk menyerang lawan.

Kita juga bisa menggunakan tas sebagai senjata dengan mengayunkan ke wajah atau kepalanya. Helm bisa juga untuk menyerang atau kamu bisa menamparkan HP kamu ketelinganya. Tongsis bisa juga dijadikan senjata untuk disabetkan ke wajah, mata dan telinga. Kunci rumah atau kendaraan bermotor juga bisa dijadikan senjata untuk menyerang titik-titik lemah pelaku.


Hal paling utama yang harus selalu diingat dalam situasi penyerangan seperti ini adalah tetap mempunyai semangat melawan dan melindungi diri. Beranikan diri untuk melawan, tetap tenang dan gunakan akal untuk mencari jalan keluar.

Karena hanya semangat untuk selamat yang akan mendorong kamu untuk terus berusaha. Hilangkan pikiran bahwa kamu  lemah dan tak berdaya. Ingat ada orang-orang yang mencintaimu sedang menantimu dan mereka ingin kamu selamat. Yakinkan dirimu kamu kuat dan bisa menyelamatkan dirimu.

Banyak yang menganggap perempuan sebagai orang yang lemah, tapi saya percaya perempuan itu makluk yang paling kuat, dapat menahan sakit ketika melahirkan dan mempunyai insting yang kuat untuk menyelamatkan diri.


Sumber foto : 
surviveanddefend.com
www.warriorscholar.com
dirtystreetfighting.blogspot.com
Sica Harum – www.konde.co.

Meksiko, konde.co - Hari ini, 91 tahun lalu, lahir seorang bayi perempuan di Mexico, yang kemudian meninggal di Tel Aviv. Dunia mengenalnya dengan nama Rosario Castellanos, seorang perempuan penyair Meksiko pasca Perang Dunia II. Hari ini Google mengenangnya dengan menjadikan siluet dirinya di doodle. Mengapa Google menjadikannya profil doodle hari ini? Siapa dia?

Masa kecil Castellanos bisa dibilang suram karena ia tahu tak terlalu dicintai orang tua yang lebih menyukai saudara laki-lakinya. Kata Ibunya, seperti dikatakan Castellanos, "Kami harus mencintaimu karena itu kewajiban kami sebagai orang tuamu." Namun, perasaan tidak dicintai orang tuanya semakin mengental ketika ada seorang peramal dari suku Maya yang mengatakan bahwa salah satu anak dari orang tuanya akan meninggal terlebih dahulu, dan seketika ibunya berteriak "Jangan Anak Laki-Lakiku".

Seiring dengan pertumbuhan Castellanos menjadi dewasa, ia mulai bergabung dengan kelopok intelektual Meksiko dan Amerika Tengah. Dan dia mulai menulis beberapa buku serta berpendapat bahwa sudah seharusnya perempuan itu menulis. Kemudian dia mengajak lebih banyak lagi perempuan untuk menulis, sehingga dapat menempatkan perempuan dalam teks, dalam dunia dan sejarah, dengan upayanya sendiri.

Castellanos merupakan seorang tokoh perempuan yang karya-karyanya banyak mempengaruhi studi feminis serta gerakan kebudayaan di Meksiko. Inilah 7 (tujuh) karya penting seputar karier kepenulisan Rosario Castellanos.

1. "To Death", 
Puisi Castellanos yang pertama kali dipublikasikan di majalah sastra Chiapas, El Estudiante pada 1940, ketika Castellanos berumur 15 tahun. Kata Castellanos, ia suka membuat puisi karena itulah jalan dan cara dia untuk bertahan hidup, terutama karena ia merasa tak dicintai orangtuanya, dan harus tetap bahagia.  

2. Sobre Cultura Femenina
Tesis Castellanos yang dibuat tahun 1950 dan menjadi karya penting karena menjadi salah satu pemicu gerakan perempuan di Meksiko saat itu. Sobre Cultura Femenina merupakan tesis Castellanos yang saat itu memilih mempelajari filsafat setelah keluarganya pindah ke Mexico City karena kehilangan properti mereka di Chiapas. Sebelum belajar filsafat, Castellanos belajar hukum demi membuat senang orang tuanya, meskipun dia menyadari bahwa sejak kecil lebih suka membuat puisi.

3. Penulis di Generasi 1950
Castellanos aktif menulis saat kuliah di Universitas Nasional Meksiko. Ia tergabung dalam kelompok penulis muda Meksiko dan Amerika Latin yang kemudian dikenal dengan nama “Generasi 1950”. Setiap Sabtu mereka berkumpul dan mendiskusikan karya-karya mereka yang dimentori oleh Efren Hernandez, Direktur America Revista Antalogica. 

4.    The Nine Guardian (Balun-Calan)
Karya Castellanos ini menarik perhatian nasional karena mendapatkan penghargaan sebagai novel terbaik versi Mexican Critics Award 1957. Setahun kemudian, Castellanos meraih Chiapaz Award 1958 untuk karya yang sama. Inilah novel pertama Castellanos yang ditulis dalam kurun waktu 1954-1955 dengan dukungan fellowship dari Rockefeller Foundation.

5.    Oficio de Tinieblas
Merupakan karya novel kedua Castellanos yang dibuat tahun 1960. Novel kedua ini juga mendapatkan perhatian positif dari kalangan kritikus sastra Amerika Latin. Novel ini menggambarkan dua abad perjuangan kaum Indian Maya dengan golongan kulit putih yang menjadi tuan tanah, sekaligus mengisahkan konflik antar kelas di Chiapas, salah satu provinsi di Meksiko yang kini menjadi sangat miskin. Novel ini ditulis Castellanos saat ia menyutradarai teater boneka El Teatro Petul dan menyelenggarakan pertunjukan keliling di desa-desa di atas gunung.

6.    Ciudad Real
Karya Castellanos yang menceritakan potret kehidupan warga Chamula, Meksiko. Castellanos menulis Ciudad Real berdasarkan hasil wawancaranya dengan antropolog dan dokter yang berjuang di wilayah itu. Buku ini berisi kumpulan kisah yang menggambarkan hubungan kompleks antara penjajah dan mereka yang dijajah. Diterbitkan dalam Bahasa Inggris dengan judul City of Kings.

7.    “The Book of Lamentations”
Buku ini merupakan karya Castellanos yang dianggap paling berpengaruh dan merupakan karya terakhirnya yang dipublikasikan pada 1962. Buku ini berisi kisah yang kompleks dari ras, kelas dan gender. Castellanos mengambil peristiwa yang terjadi pada tahun 1712 dan 1868 dengan setting tahun 1930. Buku yang menggambarkan saling kelindan antara ras, kelas dan gender dengan politik dan agama. Juga menyorot bagaimana kehidupan masyarakat indigenous yang hidup dalam kondisi seperti ini.  


Sumber: 
Buku "A Rosario Castellanos Reader: An Anthology of Her Poetry, Short Fiction, Essays, and Drama".