Hari Pendidikan Nasional dan Duka Untuk YY

Poedjiati Tan – www.konde.co

Hari ini di facebook selain ada berita dan sejumlah ucapan tentang hari pendidikan nasional 2 Mei, banyak sekali dukungan solidaritas dan berita tentang perkosaan terhadap YY, siswa SMP di Bengkulu.

YY diperkosa oleh 13 orang laki-laki ketika pulang dari sekolah di perkebunan karet.  YY tidak hanya diperkosa tetapi juga dibunuh dan mayatnya dibuang begitu saja. Menurut para pelaku, mereka sedang mabuk tuak. Mereka menyalahkan tuak sebagai pembenaran perilaku mereka yang tidak beradab.

Ketika membaca berita itu rasanya ingin marah dan menangis. Dari 13 yang melakukan kekerasan ini, 6 diantaranya adalah anak-anak laki-laki (di bawah umur)

Kejadian perkosaan ini terjadi pada 2 April 2016 lalu dan hingga kini dua pelakunya masih belum ditemukan sampai sekarang. Saya tidak tahu apakah lebih baik YY meninggal atau masih hidup. Saya tidak bisa membayangkan seandainya dia masih hidup, beban mental yang akan dia tanggung, belum lagi beban sosial yang akan dia terima dari lingkungannya. Masa depannya akan hancur oleh ulah orang-orang dewasa dan anak laki-laki yang tak bertanggungjawab.

Seperti kita tahu setiap terjadi perkosaan tidak jarang perempuan yang tetap disalahkan. Entah dianggap pakaiannya yang terbuka atau seksi, atau mungkin akan dianggap pernah pacaran dengan pemerkosa. Belum lagi yang sering terjadi adalah ketika perempuan korban perkosaan itu hamil, dia akan dinikahkan dengan sang pemerkosa. Dengan alasan agar sang anak tidak menjadi aib. Mereka tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya karena harus mempunyai anak.

Di Hari Pendidikan Nasional kita harus menyaksikan tragedi yang seharusnya tidak terjadi. Seorang siswi tidak lagi bisa melanjutkan pendidikannya. Dan orang dewasa juga anak laki-lakilah yang menjadi pelakunya.
Apa yang salah dengan pendidikan kita,  sehingga ada orang dewasa, juga anak-anak laki-laki yang kemudian tega memperkosa, melakukan kekerasan pada YY?

Mungkin ini saatnya laki-laki harus bertanggung jawab pada dirinya, untuk mendidik anak laki-lakinya untuk menghormati perempuan, mengajarkan anak laki-lakinya bertanggungjawab, juga dirinya sendiri.

Jadi, kita tak lagi melihat perempuan sebagai objek seksual atau alat pemenuhan kebutuhan nafsu saja dan apa yang mereka lakukan bukanlah kegagahan seorang laki-laki.

Sehingga anak perempuan tidak perlu takut untuk keluar rumah. Inilah saatnya ada he for She. Sehingga tidak ada lagi YY dan anak-anak perempuan lain yang menjadi korban atas kekerasan

   

Foto : Karya Achmad Ekky Mahasiswa Visual Communication Design Universitas Ciputra