Kamu Tak Sendiri, Ayo Lawan Kekerasan Bersama-Sama



Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Bagaimana jika saat ini, tiba-tiba kita menjadi korban kekerasan, lalu semua orang membiarkan kita sendirian untuk menyelesaikan persoalan?. Apakah kita akan sampai pada ujung penuntasan masalah?. Sejumlah aktivis kemudian mengajak untuk mengulurkan tangan, bersama-sama menyelesaikan persoalan. Karena, you are not alone.  

Jelang peringatan Hari IDAHOT (International Day Against Homophobia, Transphobia, & Biphobia), sejumlah aktivis yang tergabung dalam Komite IDAHOT 2016 menyelengarakan aksi melawan kekerasan di Bundaran HI, Jakarta Minggu (15/05/2016)  kemarin.

Dengan membawa spanduk dan poster ajakan untuk bergandengan tangan dan melawan kekerasan, aksi ini dilakukan dalam acara car free day. Tahun ini jaringan Komite IDAHOT 2016 yang terdiri sejumlah organisasi seperti Arus Pelangi, STT Jakarta, LBH Jakarta, Sanggar SWARA, Pelangi Mahardika, S.O.S #SaveOurSisters, COC, Transmen Indonesia, Into The Light, Rumah Kita, PurpleCode Collective,  menyelenggarakan peringatan IDAHOT dengan mengambil tema ‘You Are Not Alone’.

Lini Zurlia dari Arus Pelangi menyatakan bahwa aksi tersebut mengambil tema berdasarkan atas maraknya kekerasan dan diskriminasi yang terjadi pada kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) di Indonesia. Dari adanya pembubaran paksa sejumlah acara yang digelar LGBT, pelecehan hingga diskriminasi yang diterima LGBT dalam mendapatkan pekerjaan dan jaminan sosial lainnya.

“Kebencian terhadap kelompok transgender perempuan atau waria yang banyak terjadi selanjutnya mengakibatkan diskriminasi dan kekerasan. Kami melihat bahwa akar masalahnya yaitu kebencian terhadap tubuh perempuan atau misoginis dalam sistem patriarki. Dalam aksi inilah kami kemudian mengajak semua orang untuk bergandengan tangan, korban kekerasan jangan pernah dibiarkan sendiri, kami akan selalu bersama-sama untuk melawannya,” ujar Lini Zurlia.

Arus Pelangi mencatat bahwa sebanyak 62,2% waria dan 45,1% LGBT di Indonesia pernah mengalami kekerasan seksual, sementara tidak ada perlindungan hukum yang spesifik bagi mereka. Maka jelang hari IDAHOT yang selalu diperingati setiap tanggal 17 Mei, para aktivis yang tergabung dalam Komite IDAHOT ini meminta pemerintah memberikan jaminan hidup.

“Kami meminta pemerintah secara serius menangani kasus kekerasan seksual dengan melakukan upaya pencegahan, pembenahan aturan hukum dan menciptakan sistem peradilan yang  berpihak pada korban. Lalu menghapuskan segala bentuk misoginisme yang secara sosial mengakar kuat dan menjadi fundamen atas kekerasan seksual yang terjadi selama ini,” ujar Lini Zurlia.

Aksi ini sekaligus dilakukan atas banyaknya korban kekerasan seksual lainnya yang terjadi di Indonesia. Mereka juga menuntut pemerintah dan DPR RI agar segera membahas dan mensahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual, menolak hukuman kebiri dam hukuman mati karena memperpanjang rantai kekerasan.


Selain itu negara juga harus memusatkan perhatian dan kerja pada upaya pemulihan, rehabilitasi dan penghapusan stigma terhadap korban daripada menghabiskan banyak sumber daya untuk hukuman yang tidak manusiawi dan tidak terbukti efektif.



(Aksi Memperingati hari International Day Against Homophobia, Transphobia, & Biphobia/ IDAHOT di Bundaran HI, Jakarta, Minggu 15 Mei 2016/ Foto: Lini Zurlia)