Marsinah, 23 Tahun Sudah Kematianmu

Luviana-www.konde.co

Di sejumlah group whats app buruh, hari ini hampir semua membicarakan tentang Marsinah, membuat design untuk profil picture dan mengunggahnya di facebook. Semua kembali merenung, tentang semangat Marsinah yang selalu membara dalam hati kami.

Tepat hari ini 23 tahun yang lalu,Marsinah buruh perempuan asal Porong, Sidoarjo telah terbunuh.

Marsinah meninggal 8 Mei 1993 di usia yang relatif muda. Usia memang bukan ukuran bagi siapapun untuk melakukan perlawanan. Demikian juga dengan Marsinah. Darahnya selalu menyemangati perjuangan buruh buruh perempuan. Sejumlah organisasi pernah mengusulkan Marsinah sebagai pahlawan buruh, namun upaya ini kandas hingga kini. Tak mudah memang memperjuangkan Marsinah, buruh kecil asal Sidoarjo untuk menjadi pahlawan di negeri yang tak berpihak pada buruh.


Buruh Perempuan dan Semangat Juangmu
Marsinah adalah buruh Sidoarjo yang bekerja di PT. Catur Putra Surya di Porong. Ia meninggal 8 Mei 1993 setelah hilang selama 3 hari. Mayatnya ditemukan di hutan dengan tanda bekas penyiksaan berat. 

Sebelumnya Marsinah melakukan unjuk rasa untuk meminta kenaikan upah bersama para buruh lainnya di pabrik tersebut. Mereka menuntut kenaikan upah pada perusahaan sebesar 20 persen sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Timur. Aksi dilakukan 3 dan 4 Mei 1993 hingga tertangkapnya sejumlah buruh oleh Kodim Sidoarjo.

Pada tanggal 5 Mei 1993 Marsinah pergi ke Kodim dan mempertanyakan kemana teman-temannya yang tidak ditemukan setelah berlangsungnya aksi kepada pihak Kodim. Namun sejak itu ia hilang dan mayatnya ditemukan di hutan pada 8 Mei 1993.

Pengadilan atas pembunuhan Marsinah kemudian menyeret 10 orang termasuk satu oknum TNI. Almarhum Munir kemudian menjadi salah satu pengacara Marsinah. Ada banyak kejanggalan dalam kasus pembunuhan ini termasuk setiap saat orang bertanya: siapakah dalang pembunuh Marsinah?

Solidaritas untuk Marsinah menggema dimana mana termasuk kala itu terdapat sejumlah lagu dan pementasan teater Satu Merah Panggung untuk pementasan teater keliling pembunuhan Marsinah. Pementasan teaternya kemudian juga sempat dilarang tampil. Marsinah dianggap berbahaya bagi pemerintahan orde baru.

Marsinah mendapat penghargaan kemanusiaan Yap Thiam Hien sesudah itu. Semangatnya ada dalam darah para buruh perempuan.

Politik rakyat Perempuan Mahardhika dan organisasi buruh Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) dan jaringan buruh juga melakukan kampanye obor Marsinah pada Mei 2014 membawa obor berkeliling sejumlah kota di Jawa. Selain menuntut dituntaskannya kasus Marsinah, juga mengajak masyarakat untuk berjuang bersama buruh dan masyarakat. 

Sejumlah pihak dalam aksi di setiap hari buruh1 Mei selalu mengusulkannya menjadi pahlawan. Namun hingga kini upaya ini masih sulit dilakukan. 23 tahun kematian Marsinah, selalu menjadi penanda para buruh perempuan yang melakukan perlawanan atas ketidakadilan.