Mengapa Diskriminasi Terjadi pada Perempuan Pekerja Film dan Televisi?



* Anita Little dan Carmen Rios – www.konde.co


Anita Little dan Carmen Rios, editor dari ms magazine menuliskan soal kesenjangan dan diskriminasi yang dialami para perempuan pekerja film dan pekerja televisi di Amerika. Jumlah para perempuan pekerja film dan televisi yang sangat minim membuat sebuah serikat pekerja disana melaporkan diskriminasi ini ke pemerintah:

Serikat Pekerja untuk Masyarakat sipil Amerika (American Civil Liberties Union/ ACLU) mengeluarkan sebuah laporan penting tentang kondisi para perempuan yang bekerja di film dan televisi. Dalam keseimpulannya, ACLU mendapatkan data bahwa industri di Amerika telah melakukan pelanggaran terhadap sejumlah direksi perempuan yang bekerja di media televisi dan film.

Dalam laporannya, ACLU menunjukkan bahwa perempuan sering dikeluarkan dari pekejaanya sebagai sutradara. Persoalan lain, yaitu soal peran dan jumlah perempuan yang bekerja dalam film dan televisi statis bahkan jumlahnya turun sejak tahun 1998. Data ketenagakerjaan ACLU ini dikutip didasarkan pada produksi film dan acara TV yang dirilis pada tahun 2013 dan 2014. Dan hingga akhir tahun 2015, kesenjangan gender di Hollywood masih terbuka lebar.

ACLU pada akhir tahun 2015 lalu telah mengirimkan surat sebanyak 15 halaman ke Equal Employment Opportunity Commission (Departemen Tenaga Kerja dan Departemen California), dalam laporannya berjudul "kesenjangan dramatis" ini mereka juga mengkritik perekrutan sutradara dan pekerja perempuan di film dan televisi.

“Perempuan yang masuk ke industri film dan televisi masih sulit untuk mendapatkan pekerjaan tetap dibandingkan dengan direksi laki-laki yang memenuhi syarat yang sama. Keberhasilan mereka tak juga diperhitungkan dibandingkan laki-laki. Mereka harus bekerja lebih keras untuk membuktikan ini”

Pusat Studi perempuan Televisi dan Film di Amerika juga menemukan bahwa pada tahun 2015, perempuan yang bekerja di TV dan film  hanya 9 persen dari total jumlah direksi laki-laki yang bekerja disana. Dan hanya sekitar 12 persen pekerja perempuan yang dilibatkan dalam memproduksi 250 film. Selain itu, perempuan hanya dilibatkan sekitar 11 persen dari total penulis produksi film, hanya 20 persen perempuan bekerja sebagai eksekutif produser, 22 persen bekerja sebagai editor dan hanya 6 persen yang bekerja sebagai sineas film.

Angka-angka ini merupakan angka yang suram. Kurangnya jumlah direksi perempuan karena tidak ada persyaratan mengenai pemenuhan kuota bagi sutradara atau pekerja perempuan. Industri hanya memenuhi persyaratan untuk keberagaman, seperti mempekerjakan warga non kulit putih, namun ini tidak dihitung untuk perempuannya.

Semua angka-angka ini menurut ACLU sangatlah suram. Padahal perempuan menjadi mayoritas penonton film sejak tahun 2010, dan perempuan juga merupakan bagian besar dari prime-time pemirsa siaran TV. Tanpa wawasan dan pengalaman perempuan, media hiburan akan gagal mengambil hati penonton dari pemahaman yang lebih dalam dari pengalaman perempuan.

ACLU berharap semoga penyelidikan pemerintah akan membuat industri film terutama di Hollywood mengambil langkah-langkah untuk memerangi seksisme di industri. Harapan lainnya, semoga pemerintah Amerika akan menguatkan kerja dan mendorong industri untuk mengatasi pelanggaran berkelanjutan dari hak-hak hukum dan sipil untuk perempuan.


(Foto: Ilustrasi/ Pixabay.com)
*(Disadur dari tulisan karya Anita Little dan Carmen Rios, di ms magazine)