Moroatus

Poedjiati Tan- www.konde.co

Maroatus yang akrab dipanggil dengan mbak Tus, adalah seorang penjual sayuran di Surabaya. Ia selalu mampir di dekat rumah  kami. Karena bertemu hampir setiap hari, kami menjadi akrab. Inilah kisah Moroatus, perempuan penjual sayur dan kehidupannya sehari-hari:

Menikah Muda, Moroatus dan Tradisi Keluarga
Moroatus dinikahkan orang tuanya ketika umur 15 tahun karena adik perempuannya yang berumur 13 tahun sudah dilamar orang. Memang begitulah tradisi keluarganya. Ayahnya orang Madura dan ibunya orang lamongan ini, tidak menginginkan dia dilangkahi adiknya untuk menikah duluan. Sebab itu pantang dan tidak baik dalam adat jawa, ada mitos jika dilangkahi menikah duluan akan takut nanti dia tidak bisa menikah.

Waktu itu Moroatus sudah masuk SMK dan terpaksa harus putus sekolah. Suaminya waktu itu berumur 20 tahun dan mereka sering bertemu di Masjid. Setelah menikah mereka tinggal di rumah keluarga mbak Tus. Mbak Tus tidak bekerja karena tidak mempunyai keterampilan,

“Lulusan SMP mau kerja apa mbak trus sama bapakku  nggak boleh kerja dianggap masih kecil! Setelah enam bulan menikah akhirnya aku hamil dan waktunya hanya bisa untuk momong anak,” ujar Moroatus

Berjualan Sayur
Ketika anaknya berumur 2 tahun, suaminya kena PHK, karena pabrik tempatnya bekerja bangkrut.  Selama 2 tahun suaminya menganggur karena tidak dapat pekerjaan.

Akhirnya mbak Tus memutuskan untuk berjualan sayur di pasar.  Orang tuanya yang pedagang sayur di pasar Kapas Krampung, memberikan sayurnya untuk mbak Tus jual dan membagikan hasil keuntungan jualan kepada dirinya. Mbak Tus merasa senang sekali karena dia bisa menghasilkan uang sendiri.

 Makin lama mbak Tus makin terampil berjualan dan orang tuanya memberikan modal untuk dia kulakan sendiri.

Umur 19 tahun dia mulai serius berjualan sendiri di pasar Donorejo. Sebelum subuh suaminya berangkat ke pasar Keputran untuk kulakan sayur dan di jual mbak Tus di pasar. Selama dia berjualan di pasar, anaknya dia titipkan ke tetangga sampai dia pulang dari pasar jam 12 siang.

Meskipun suaminya kini telah bekerja, mbak Tus tetap berjualan sayur. Dia merasa senang berjualan sayur karena bisa mempunyai pendapatan sendiri dan tidak tergantung dengan suami. Bila ingin membeli panci atau pakaian dia bisa menggunakan uangnya sendiri.

Menurut dia keuntungan jualan sayur memang tidak banyak, tetapi cukup untuk makan sekeluarga. Keuntungan lain dia tidak perlu lagi belanja sayur untuk masak. Biasanya sisa sayur yang ada sebagian untuk masak  di rumah dan sebagian disimpan untuk jualan esok hari.

Anaknya sejak kecil dibiasakan untuk makan sayur dan menyukai sayuran, sehingga dia tidak perlu membeli ayam atau daging yang banyak.

“Untung anakku suka sayur semua mbak! Kalo mereka makan banyak sayurnya khan mereka jadi kenyang dan nggak pengen jajan, kadang aku buat dadar jagung (bakwan jagung) dari jagung sisa buat lauk!,” katanya kembali.

Moroatus dan Anak-anaknya

Mbak Tus selalu berusaha mencukupkan uang yang dia punya untuk biaya kebutuhan rumah tangga. Ketika ditanya apakah dia pernah pinjam uang ke renternir di pasar?

“Nggak, mbak! Paling aku kredit baju atau panci! Kalo uang aku nggak berani mbak! Takut nggak bisa bayar. Aku baru pinjam uang sama bank itu tahun lalu, untuk ngawinkan anakku yang pertama, dicicil selama tiga tahun!,” Katanya.

Anaknya yang pertama laki-laki sudah berumur 22 tahun dan tinggal bersama dia. Anaknya sudah bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran Surabaya dan istrinya bekerja sebagai penjaga toko di Pasar Atum. Mereka masih tinggal bersama mbak Tus.

 “Aku memang menyuruh dia tinggal di rumah supaya bisa ngumpulkan uang untuk tinggal di rumah sendiri nanti!  Aku punya rumah reot warisan bapaknya anak-anak, sekarang masih di kontrak orang! Nanti kalau mereka sudah punya uang, aku suruh renovasi dan tinggal disana!."

Mbak Tus merasa senang karena anaknya itu mempunyai kesadaran terhadap orang tuanya. Sekarang anaknya yang bayar listrik di rumah dan anaknya juga mendaftarkan dirinya beserta suami ikut bpjs dan membayarkannya setiap bulan.

 “Alhamdulilah mbak, padahal aku lak nggak ngerti carane daftar BPJS, dan aku yo nggak minta lho mbak tapi di daftarno trus dibayari sisan!,”Katanya dengan logat dan bahasa jawa dan wajah bahagia

Anaknya yang kedua perempuan berumur 16 tahun dan masih sekolah di SMK. Anaknya tidak mau berjualan di pasar, dia ingin bekerja di kantor. Mbak Tus berharap anaknya bisa kuliah kalau ada uang dan bisa bekerja dengan layak. Dia tidak ingin anaknya berjualan sayur di pasar seperti dirinya. Dia beranggapan bahwa jualan sayur bukan sebuah pekerjaan yang keren.
Dia ingin anaknya bisa menjadi pegawai kantoran dengan gaji yang pasti. Karena jualan sayur pendapatannya tidak pernah pasti.

“Kalau laris yang dapat uang lumayan, kalau tidak laku ya dapat uang sedikit!,” begitu katanya.
Harapan lainnya adalah dia bisa membelikan anak-anaknya rumah, seperti orang tuanya yang mewariskan rumah buat dia dan suaminya.

Sekarang ini suaminya kembali tidak bekerja dan sudah 3 tahun menganggur, pekerjaannya membantu dia kulakan, mengantar ke pasar dan menjemput dia dari pasar.

“Cari kerja khan sekarang sulit mbak! Ya sudah suami sekarang bantu-bantu aku, apalagi sekrang daganganku tambah banyak jadi repot kalau bawa sendiri ke pasar!”Katanya sambil memotongi sayur yang menguning.

Mbak Tus mewakili para perempuan yang berdagang di pasar itu. Perempuan-perempuan yang  menopang kehidupan keluarga dengan caranya sendiri. Selain  menopang keuangan keluarga, dia juga ingin bisa membiayai keinginannya sendiri. Harapannya sederhana, dia ingin anaknya bisa punya rumah sendiri-sendiri dan bisa menghidupi dirinya sendiri