Musik untuk Korban Kekerasan Seksual


Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Pagi itu, penyanyi Lady Gaga merilis sebuah lagu baru dan video yang didedikasikan untuk korban kekerasan seksual di seluruh dunia. "Til It Happens to You" judul lagu tersebut. Ini  merupakan soundtrack film kekerasan seksual yang berjudul “The Hunting Ground”, sebuah karya film tentang kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus di Amerika karya Kirby Dick dan produser Amy Ziering. Video ini disutradarai oleh sutradara Twilight Catherine Hardwicke.

"Saya harap Anda merasakan cinta kami dan solidaritas melalui lagu dan mungkin menemukan kedamaian dalam mengetahui bahwa korban tidak sendirian,” ungkap Lady Gaga di akun twitternya.

Pemotongan dana dari hasil lagu ini kemudian akan disumbangkan untuk amal bantuan dari korban perkosaan dan kekerasan seksual.

Sejumlah musik untuk solidaritas bagi korban perang dan pada kelompok minoritas juga pernah diciptakan oleh John Lennon dalam lagunya ‘Imagine’ atau lagu-lagu Michael Jackson yang berjudul ‘ Heal the World’ atau “Black and White.”

Di Indonesia, solidaritas melalui musik bagi para korban juga diciptakan. Rabu 11 Mei 2016 hari ini misalnya, Band SIMPONI (Sindikat Musik Penghuni Bumi) akan melakukan aksi musik tanda bahaya korban kekerasan seksual #Sister in Danger. Aksi ini akan dilakukan hari ini di depan Gedung DPR RI Jakarta dan di 7 kota di Indonesia di hari-hari berikutnya.

Aksi musik tersebut akan dilakukan selama 1 jam dari jam 14-15 WIB. Dalam seruannya mereka mengajak masyarakat untuk berkumpul dan menolak kekerasan seksual pada perempuan:

“Anak Band, teater dan siapapun mainkan gitar, perkusi atau alat apapun atau cukup orasi dengan poster di pinggir jalan, taman, kantor pemerintah atau dimanapun. Setiap Rabu dalam aksi bunyikan tanda bahaya darurat kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan yang jumlahnya 35 korban setiap harinya.”

Gamulya dari SIMPONI menyatakan bahwa aksi ini dilakukan untuk menyerukan pada laki-laki agar stop melakukan kekerasan dan perkosaan pada perempuan,  mendorong pemerintah dan sekolah untuk memberikan pendidikan seksualitas berkeadilan gender minimal satu jam perminggu di setiap sekolah serta agar cepat disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Kekerasan Seksual.

Musik-musik seperti ini merupakan bentuk solidaritas bagi para perempuan, mengingat dulu banyak syair lagu yang diciptakan secara maskulin dalam atribut kulturalnya. Misalnya bagaimana konsep mengenai otonomi karya seni dan kecerdasan seni yang selalu dilihat secara maskulin. Selain itu sintaksis musik yang juga distereotypekan secara gender, misalnya bagaimana musik kemudian banyak menampilkan tema-tema tentang laki-laki atau tema yang melecehkan perempuan.

Saat ini, kita bisa bernafas lega karena musik solidaritas yang bermunculan, apalagi musik ini didedikasikan bagi para perempuan korban kekerasan seksual.


(Sumber: www.hungertv.com dan Dictionary of Feminist Theori/ Maggie Humm)
(Foto: Pixabay.com)