Perceraian, Situasi Sulit Bagi Anak dan Perempuan



Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Apa yang terjadi jika anak-anak dihadapkan pada pilihan:

“Ayah dan ibu mau berpisah, kamu mau ikut siapa?”.

Anak –anak, secara umum akan merasa bingung karena ia tidak tahu apakah artinya berpisah?. Dia akan merasa bingung karena mengapa ia harus memilih salah satu, mau ikut ibu atau ayahnya, mengapa ia tak boleh ikut keduanya seperti biasanya selama ini?.  Lalu apa artinya memilih ini? Apakah ia kemudian tidak akan bertemu salah satu diantara ayah atau ibunya?.

Selain itu, anak-anak juga akan merasa ketakutan menghadapi apa yang akan terjadi dalam hidupnya jika keduanya berpisah?

Denia Putri Prameswari, penulis buku tentang perceraian orangtua dan akibatnya bagi anak “Kami Tetap Menyanyangimu, Kelinci kecil,” menyatakan  hal ini dalam acara diskusi berjudul: Bagaimana menjelaskan perceraian kepada anak? yang diadakan Konde Institute, Nyonya Buku dan Arkea.id di Komnas Perempuan Jakarta pada Sabtu (29/05/2016) kemarin.

Buku Denia ini juga merupakan thesisnya di Magister Psikologi Universitas Indonesia. Denia menyatakan sulit bagi anak untuk menerima perceraian orangtuanya, karena perceraian adalah sesuatu yang masih tabu di Indonesia. Maka akibatnya banyak anak kemudian tidak mendapatkan informasi yang tepat soal apa itu perceraian dan mengapa orangtuanya mesti berpisah?

“Anak-anak sering bertanya, mengapa harus berpisah? Mengapa tiba-tiba ayahnya pergi dan tidak kembali seperti biasa di rumah mereka? Mengapa ketika ulangtahunnya, ayah tidak datang lagi?,”jelas Denia.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar yang dialami anak-anak pada umumnya ketika ayah dan ibunya bercerai.  Buku yang ditulis Denia ini juga merupakan salah satu pengalaman hidupnya dimana orangtuanya berpisah ketika ia masih kelas 2 SD. Namun Denia menyatakan bahwa dalam perpisahan kedua orangtuanya tersebut, ia masih bisa bertemu ayahnya, komunikasi mereka baik dan bisa berlibur bersama-sama hingga sekarang.



Turunkan Egoisme Orang Tua, Jangan Jadikan Anak Sebagai Korban


Hal yang dialami Denia, ternyata tak banyak dialami anak-anak pada umumnya yang orangtuanya bercerai. Jika Denia masih bertemu dan berkomunikasi secara baik, kebanyakan anak-anak Indonesia yang orangtuanya bercerai  kemudian harus dipisahkan sama sekali dari salah satu orangtuanya. Dan tak jarang, mereka tak boleh bertemu sama sekali dengan salah satu orangtuanya. Karena kebanyakan, perceraian di Indonesia selalu diakhiri dengan pertengkaran hebat.

Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati mengatakan bahwa dalam perceraian, orangtua wajib mempertimbangkan perasaan anak. Karena jika tidak, maka anak setelah orangtuanya berpisah akan merasa bingung, takut dan malu. Apalagi jika orangtuanya terus-terusan bertengkar dalam masa perceraian ini. Anak akan bingung karena dihadapkan pada banyak pilihan yang tidak ia mengerti.

“Sejumlah kasus misalnya, anak harus memilih antara ayah atau ibunya. Setelah itu, ia tertutup aksesnya untuk bertemu satu diantaranya. Ada yang seminggu tinggal di ibu lalu seminggu kemudian diambil ayahnya dalam suasana pertengkaran yang hebat. Bahkan ada yang dipaksa pindah sekolah karena diambil oleh orangtuanya secara paksa. Ini menunjukkan bahwa selain mereka dipisahkan dengan salah satu orangtuanya, hak pendidikan anak juga jadi terabaikan. Anak-anak tidak pernah ditanya, apa maunya dan tidak pernah diterangkan apa maksud dari semua ini?” ujar Rita Paranawati.

Rita menambahkan bahwa dalam perceraian, orangtua harusnya menurunkan ego masing-masing, tidak memaksakan kehendak untuk anak dan harus diterangkan secara baik-baik mengenai putusan-putusan yang mesti mereka ambil dan apa akibatnya bagi anak.

“Anak harus dilibatkan dalam seluruh putusan-putusan orangtua. Apalagi perceraian dimana masyarakat Indonesia masih menganggap tabu. Anak sering ditanya tetangga atau temannya, mengapa orangtuamu bercerai? Tak jarang mereka kemudian dikucilkan karena perceraian ini. Jangan sampai anak-anak terombang-ambing jiwanya.”

Hingga saat ini, setiap proses perceraian dan pengasuhan anak serta pemisahan harta gono-gini selalu membutuhkan waktu yang panjang di pengadilan, tak jarang harus dilakukan bertahun-tahun lamanya. Dalam waktu inilah anak harus  ditenangkan hatinya karena situasi yang merubahnya. Ayahnya tidak kembali lagi atau ibunya yang tidak ada di rumah lagi dan harus berpindah. Indonesia sudah meratifikasi konvensi seperti Convention of Child Support yang berisi agar negara dan orangtua mensuport hak-hak anak termasuk dalam masa-masa perceraian.


Jatuh Bangun Dalam Situasi yang Sulit bagi Perempuan

Psikolog Universitas Indonesia dan aktivis perempuan, Kristi Poerwandari selama ini banyak menangani konsultasi sekaligus melakukan advokasi terhadap para perempuan yang kemudian bercerai. Kebanyakan karena perempuan harus berpisah karena  ia merupakan korban kekerasan dari suaminya misalnya suaminya selingkuh.

Rata-rata perempuan yang datang selalu dalam kondisi kebingungan karena akibat perceraian ini, suaminya pergi dan ia harus bekerja, menjadi single mother dan mengurus anak sendiri.

“Banyak single mother kemudian mengalami ini. Hidup yang tiba-tiba berubah ini yang kemudian harus disesuaikan secara cepat, karena ia mesti bekerja sambil menenangkan anaknya yang tiba-tiba melihat ayahnya tidak ada di rumah. Banyak perempuan yang mengalami jatuh bangun dalam kondisi ini. Luka batinya banyak dan kemudian menjadi emosi terhadap dirinya sendiri dan anaknya.”

Maka dalam perceraian, Kristi Poerwandari menyatakan yang pertama harus dilakukan adalah proses mediasi karena dalam proses mediasi ini kedua orangtua harus belajar sabar, bertoleransi dan berbicara positif dengan anak.

Dalam proses mediasi ini, kedua orangtua harus berbicara baik-baik apa yang harus dilakukan dan yang tak boleh dilakukan untuk anak-anak mereka. Misalnya yang tak boleh dilakukan adalah bertanya pada anak: kamu mau pilih hidup sama siapa? Ayah atau ibu? Karena ini akan menghadapkan pilihan yang sulit.

Lebih baik adalah memberitahu anak mengapa mereka harus berpisah dan diberitahu tentang hak-hak anak, misalnya jika hari libur masih bisa bertemu ayahnya atau berapa hari dalam seminggu bisa bertemu ayahnya. Mereka masih bisa berenang bersama, makan bersama dan ulangtahun bersama. Jadi anak juga tetap menjadi tanggungjawab kedua orangtuanya. Dengan cara ini maka selain anak paham akan situasi yang terjadi, hidup juga tidak akan terlalu memberatkan perempuan sebagai single mother. Karena bagaimanapun, perempuan selain banyak yang harus menjadi single mother, kemudian ia juga menanggung efek psikologi yang tidak sedikit, seperti menangung malu karena perceraian ini.

“Banyak perempuan yang kemudian didera perasaan bersalah. Apa yang salah dengan dirinya sampai pasangannya melakukan tindakan itu? ia ingin bicara dengan orang lain namun takut salah, jangan-jangan malah tidak didukung karena perceraian memang banyak yang masih menganggap tabu,” ujar Kristi Poerwandari.

Selain mediasi, maka yang dibutuhkan adalah support group dari psikolog maupun orang-orang terdekat. Dengan support penuh, maka perempuan kemudian tidak dibiarkan sendiri untuk menyelesaikan masalahnya.


Denia dan Buku Kelinci Kecil


Denia Putri Prameswari menyatakan bahwa buku yang ia tulis ini bercerita tentang bagaimana orangtua yang selalu positif melibatkan anak dalam sebuah proses perceraian yang sulit. Hal ini bermakna bahwa Denia sebenarnya ingin mengajak para orangtua untuk menyelesaikan perceraian secara baik-baik dan tetap melibatkan anak dalam keputusan ini.

“Saya ingin mengajak bahwa perceraian bisa saja dilakukan secara baik-baik, jadi menyelesaikan yang sulit secara positif demi anak-anak.”

Denia sengaja memilih kelinci sebagai ilustrasi dalam buku ini karena agar buku ini bisa menceritakan perceraian dengan lebih mudah kepada anak-anak, perceraian juga tidak menakutkan bagi anak-anak. Karena yang paling sulit adalah menjelaskan bagi anak-anak ketika salah satu harus meninggalkan rumah. Anak-anak balita umumnya akan bertanya: dimana ayah, kog tidak pulang? Apalagi jika ia dipisahkan dengan saudaranya. Karena banyak anak yang kemudian harus berpisah dengan orangtua dan kemudian juga dengan saudaranya karena biasanya anak perempuan ikut ayah dan anak-anak laki-laki ikut ibunya. Perpisahan ini sama sekali tidak mengenakkan, namun dengan selalu melibatkan anak dan orangtua yang bertoleransi, perceraian bisa dilakukan secara baik-baik.


(Diskusi bagaimana menjelaskan perceraian pada anak? yang dilakukan Konde Institute, Nyonya Buku dan Arkea.id di Komnas Perempuan pada Sabtu 28 Mei 2016/ Foto: Estu Fanani)