Seks, Budaya dan Perempuan



Poedjiati Tan – www.konde.co

Seorang teman yang saya jumpai kemarin, Tina merasa kaget ketika saya berbicara tentang seks dengan puterinya yang hendak masuk kuliah. Apalagi saya tidak pernah menggunakan kata pengganti atau bahasa lain untuk kata: penis ataupun vagina.

Dalam perbincangan tersebut, kami juga berbicara soal kondom, alat-alat kotrasepsi aman. Tina dan suaminya ternyata belum menceritakan hal ini ke puterinya, jadi ini mungkin sebagai sesuatu yang baru, informasi baru bagi puterinya.

Setelah itu, saya tidak hanya bicara soal seks tetapi juga soal kekerasan dalam relasi atau pasangan.


Mitos tentang Seks


Banyak orang yang selama ini selalu menekankan bahwa seks itu porno, tabu dan dosa, sehingga banyak sekali mitos yang ditanamkan, menakut-nakuti mereka tentang seks, sekalipun hanya dalam obrolan saja.

Tidak jarang pembicaraan tentang seks juga membuat takut untuk membahasnya, walaupun  dengan anaknya.Ini banyak dialami para orangtua. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari malu, tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya ke anak-anaknya.

Memang banyak sekali perempuan maupun laki-laki yang merasa malu atau jengah untuk berbicara tentang seks. Bahkan ketika berhubungan seks dengan suami atau istri  dan tidak pernah merasakan orgasme, banyak pasangan yang akan diam saja.

Akibatnya, hubungan seks bagi perempuan kadang dianggap sebagai kewajiban, sebagai alat pembuat anak bukan untuk dinikmati. Bahkan ada anggapan perempuan yang pintar melakukan hubungan seks akan dianggap nakal atau disamakan dengan pekerja seks.

Alhasil, karena pengetahuan dan pemahaman yang sempit dari para orangtua, maka selanjutnya mereka tidak pernah membicarakan seks dengan anak-anaknya. Mereka berusaha menjauhkan anaknya dari persoalan seksual. Sehingga anak akhirnya mencari sendiri dari internet, teman atau mencoba mengeksplore dengan pacarnya tanpa diberitahu resiko yang akan diterima.

Para orangtua beranggapan bahwa kalau anak perempuannya diberitahu tentang seks adalah dosa dan tabu maka persoalan akan selesai. Mereka tidak pernah diajarkan bagaimana menolak pacarnya yang meminta berhubungan seks atas nama cinta, bagaimana melakukan seks yang aman dan sehat. Ketika anak perempuan hamil dan takut memberitahu orang tua, mereka akan mencari sendiri jalan keluar yang bisa membahayakan dirinya.


Seks dalam Dunia Patriarki

Dalam dunia yang patriaki, seks dianggap hanya milik laki-laki. Hanya laki-laki yang boleh memiliki hasrat seksual sedangkan perempuan harus ditekan sampai ke dasar-dasarnya. Hanya laki-laki yang boleh berkuasa dan menguasai area seksual. Dan bila laki-laki sangat menginginkannya maka perempuan wajib memberikannya. Itu sebabnya kenapa ketika terjadi perkosaan perempuan yang tetap disalahkan. Ketika ada perempuan muda yang hamil diluar nikah dia sendiri yang menanggung beban sosialnya.

Kalau mau adil, perempuan juga memiliki kekuasaan dan kekuatan seks. Kita lihat saja industri kecantikan, fashion, bahkan pornografi semua bergantung pada perempuan atau adanya usaha untuk menutupi tubuh perempuan dengan dalil agama agar perempuan tidak memiliki kuasa akan tubuh dan seksualitasnya.


Perempuan dan Kuasa Tubuhnya


Perempuan harus mulai sadar bahwa mereka memiliki kuasa akan tubuhnya dan seksualnya. Mempunyai kuasa untuk menolak atau menginginkan seks sebanyak yang mereka inginkan. Mempunyai kontrol akan tubuhnya dan bertanggung jawab akan kesehatan serta tubuhnya. Contoh yang paling bisa dilihat adalah persoalan memiliki anak. 

Apakah perempuan pernah ditanya, apakah dia ingin mempunyai anak atau tidak, berapa banyak anak yang ingin dilahirkan? Ketika menikah perempuan seperti diwajibkan untuk memiliki anak dan setelah memiliki anak dia juga diwajibkan untuk membatasi berapa anak yang harus dimiliki. Ketika dalam pernikahan tidak melahirkan anak, maka perempuan yang akan disalahkan tanpa bertanya.

Jadi ini mungkin saatnya mengajarkan kepada anak perempuan kita tentang tubuh dan seksualitas mereka. Mengajarkan pada anak laki-laki untuk menghargai tubuh perempuan, dan perempuan bukan objek seksualitas. Mengajarkan bagaimana kesetaraan gender harus dibangun dan apa itu kekerasan seksual. Bagaimana konstruksi sosial dan peran gender normatif dibangun dalam masyrakat dan budaya kita. Meninggalkan budaya bahwa perempuan tidak berhak akan tubuh dan seksualnya, budaya yang menjadi perempuan sebagai obyek tanpa bisa menentukan keinginannya dan menjadi subyek.


“Culture does not make people. People make culture. If it is true that the full humanity of women is not our culture, then we can and must make it our culture.”

― Chimamanda Ngozi Adichie, We Should All Be Feminists




(foto : www.patheos.com)