The Baby


Sica Harum – www.konde.co

Punya bisnis itu seperti punya anak. Lahirnya (bisnis) bisa karena direncanakan, atau kecelakaan. Tapi yang jelas, (bisnis) ini begitu dicintai dan diupayakan.

Lalu ada orang datang. Ia bilang, “Anakmu lucu dan pintar. Akan lebih baik jika bajunya diperhatikan, mainannya ditambah, dan asupan makan diperbaiki.”

Dan kamu pun mulai berpikir, cintamu yang besar tak cukup membuatnya berkembang.  Dan kamu ingat, orang ini bukan yang pertama bilang anakmu lucu dan pintar. Bukan pula yang pertama menawarkan fasilitas dan dukungan.

Tapi pada mereka yang sempat memberi tawaran, kamu cuma bilang, “Tak perlulah. Terima kasih.”

Namun pada orang baru ini, kamu punya keyakinan. Si bayi ini bisa berkembang. Toh masih ada kamu yang menjaga, merawat dan mengajarinya terbang. Toh masih ada yang lain yang juga sayang. Harusnya saat ini kamu senang, tambah banyak orang yang akan menjaga si bayi, mencintai dan mendukungnya besar.

Makanya kamu sepakat.

Dua minggu kemudian, sengaja kamu datang lebih awal sebelum penandatangan kesepakatan. Dua jam sebelumnya. Dan tiba-tiba kamu diserang perasaan aneh. Sedikit melodramatis, mungkin. Sampai air matamu bercucuran. Mati-matian kamu menata perasaan. Bukan sedih. Hanya ingin mengecup si bayi sesaat. Hanya ingin mengenang masa-masa kamu melahirkan, lalu berproses dan bertumbuh bersama hingga nyaris setahun. Cuma itu.

Sesaat menenggelamkan diri dalam perasaan yang aneh itu, kamu pun lantas bergegas.
Bahkan kopi yang kamu tinggalkan di meja itu pun masih terasa hangat.

Hal ini yang menjadi topik kami ketika saya dan 2 kawan perempuan saya bertemu. Kawan-kawan ini juga sedang merintis menjadi pebisnis rumahan. Lumayan, bisa memanage waktu sendiri dan bisa bersosialisasi lebih leluasa. Jika dibandingkan dengan kerja kantoran yang sangat menyita waktu.

Namun merintis bisnis memang tak mudah seperti cerita saya tadi, jatuh bangunnya banyak, nelan ludahnya juga banyak. Kita uji nyali keberanian dan keberhasilan. Dan yang terakhir adalah kesabaran, karena si baby harus diajak belajar berjalan, belajar  berkenalan dengan banyak orang dan akhirnya belajar mengungkapkan sesuatu.

Kawan perempuan menyatakan keluhan maupun semangat yang sama. Jatuh bangun menjadi hal yang biasa, ingat saja hal-hal yang indah dengan si baby ketika kita lagi jatuh.

Kalau lagi senang, sedikit rayakan jerih payah kita.

Bisnis yang kami rintis ini memang seperti anak kita sendiri. Kami bertiga, paling tidak dengan kawan-kawan perempuan di depan saya ini, sudah memilih untuk mengambil jalan ini. Sulit memang, tapi kami bisa memanage waktu dengan baik, bisa bertemu dan curhat juga seperti siang kemarin.