Benarkah Rating dan Share Adalah Penentu Tayangan Televisi Kita?



Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Mengapa sinetron yang mengumbar kekerasan, melanggar etika, tayangan infotainment yang selalu menyajikan persoalan-persoalan personal mendapat rating dan share yang bagus di televisi? Benarkah rating dan share ini merupakan biang kerok dari tayangan yang buruk di Televisi kita?

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta dan Yayasan Tifa melaunching sebuah penelitian tentang keberadaan rating dan share di Indonesia pada Minggu, (19/06/2016). Penelitian ini menemukan bahwa rating dan share sangat menentukan apa yang ditonton oleh nyaris semua masyarakat Indonesia. Walaupun di luar itu ada faktor lain seperti soal stasiun TV apa yang menyiarkannya, program siarannya seperti apa dan selanjutnya siapa yang mengisinya.Jadi selain rating dan share, industri televisi juga menjadi penentu atas tayangan baik atau buruknya televisi.


Rating dan Share di Televisi

Rating dan share kemudian akan menentukan para pengiklan untuk beriklan di TV karena para pengiklan hanya melihat berapa persen penonton yang menonton TV dan di acara apa?. Rating dan share ini kemudian akan menentukan nilai ekonomi pemasukan TV.

Selama ini semua TV menggunakan data rating share yang dikeluarkan AC Nielsen, padahal data ini hanya merujuk pada siapa konsumen TV sebagai pembeli iklan, bukan publik atau masyarakat yang menginginkan tayangan TV yang sehat dan tidak melakukan kekerasan, diskriminasi maupun stereotype.

Sejumlah survey menunjukkan bahwa data belanja iklan televisi misalnya mencapai  Rp. 78,3% triliun pada tahun 2014 dan Rp. 84,7 Triliun di tahun 2015, dari jumlah itu 93,7% diantaranya dinikmati oleh 10 TV bersiaran nasional di Jakarta.

“Maka semakin banyak penonton, akan menyebabkan semakin banyak iklan yang masuk dan semakin mungkin sebuah program akan bertahan,” kata salah satu peneliti AJI Jakarta, Afwan Purwanto.

Selama ini di Indonesia kita hanya mengenal satu-satunya lembaga yang mengurus rating dan share yaitu AC Nielsen. Maka penelitian ini kemudian mengeluarkan rekomendasi agar ada aturan soal keberadaan rating dan share ini. Karena keberadaanya melibatkan banyak stakeholder dengan berbagai macam kepentingan yang berbeda seperti biro iklan, televisi, pengiklan dan Production House (PH) yang selama ini memasok acara-acara televisi.



Selama ini penelitian rating dan share yang dilakukan AC Nielsen punya kelebihan seperti cepat dan rinci. Namun ada sejumlah persoalan lain dalam penelitian ini misalnya, mengapa yang menjadi responden penelitian hanya 11 kota dan 60% respondennya berada di Jakarta?. Salah satu peneliti, Hendriyani menyatakan bahwa hal lain yang masih bermasalah yaitu soal metodologi penelitian, analisis data, pengambilan data di lapangan dan munculnya beberapa data yang aneh.


Negara dan Inisiatif Pembentukan Dewan Rating 

Penelitian ini kemudian merekomendasikan kelahiran dewan rating. Dewan rating ini kemudian yang akan mengatur keberadaan rating dan share, karena pada dasarnya harus ada audit internal terhadap perusahaan yang mengurus rating dan share ini.

Di Amerika, dewan rating membuat audit dan kemudian memberikan akreditasi kepada penyelenggara rating yang memenuhi kualifikasi. Sementara di Eropa, dewan rating adalah penyelenggara rating itu sendiri. Pengguna data kemudian membentuk sebuah kerjasama untuk kemudian menyediakan data rating.

Salah satu peneliti, Eriyanto menyatakan bahwa keberadaan dewan rating nantinya akan memberikan standar riset, melakukan audit dan memberikan sertifikasi kepada penyelenggara rating, sehingga tidak ada lagi pertanyaan soal metodologi dan pelaksanaannya.

“Kunci pengaturannya yang penting adalah pada soal transparansi dan akuntabilitas. Dengan menjalankan prinsip ini maka pengguna data dan publik menjadi percaya dengan sistem yang digunakan. Maka penting untuk melakukan audit eksternal yang dilakukan oleh dewan rating,” ujar Eriyanto.

Anggota DPR dari Komisi 1, Arif Suditomo yang hadir dalam diskusi peluncuran rating dan share ini menyatakan bahwa selain masyarakat harus menerapkan diet media dengan banyaknya tayangan di TV Indonesia saat ini, yang penting lagi yaitu lembaga riset seperti AC Nielsen harus mengeluarkan riset yang berperspektif tayangan sehat, bukan hanya berperspektif pasar atau konsumen seperti yang telah dilakukan selama ini.

Maka penelitian ini kemudian merekomendasikan agar negara atau pemerintah mengambil inisiatif untuk mendirikan dewan rating karena penyiaran pada dasarnya adalah menggunakan frekuensi milik publik, sehingga negara berhak melakukan pengaturan termasuk menyelenggarakan data rating. 



(Foto/ Cover Buku: Penelitian Mendorong Akuntabilitas Rating Media Penyiaran, AJI Jakarta dan Yayasan Tifa, 2016)

Peneliti: Hendriyani, Eriyanto, Afwan Purwanto, Aditya Himawan, Agoez Perdana, Luviana, Kustiah, Nurul Ulfah Djalawali, Prasto Wardoyo, Raisya Maharani, Roychan Madjid, Ramah

Editor: Ahmad Nurhasim