Cinta yang Tak Pernah Habis



*Febriana Shinta Sari – www.konde.co

Saya pasti termasuk yang terlambat. Kemarin baru nonton film Ada Apa dengan Cinta (AADC 2). Di bioskop yang sama ketika saya menonton AADC 1. Ada banyak kenangan di film yang saya tonton ini, terutama yang pertama. Dengan gedungnya, posisi teater yang tak berubah, harum tanah yang basah ketika saya masuk tadi. Tapi, wait...wait... stop. Bukan ini yang ingin saya ceritakan.

Yang ingin saya share dari film ini adalah sesuatu yang paling menyentuh disamping adegan kejar-kejaran antara Rangga dan Cinta, adegan yang selalu ditunggu penonton di akhir film. Yang buat saya terkenang film ini yaitu film ini memaparkan soal relasi. Bagaimana relasi antara pasangan yang jauh tapi dekat, juga relasi persahabatan antara Cinta, Milly, Carmen dan Maura.

Persahabatan yang tak pernah habis.

Cinta yang tak pernah habis.

Itu pasti jadi cita-cita banyak orang: dicintai pasangannya yang tak pernah habis dan dicintai sahabat-sahabatnya yang tak pernah habis.

Saya paling seneng dengan adegan persahabatan diantara 4 perempuan gank Cinta. Yang dulu 5, kini menjadi 4 karena Alya sudah meninggal. Persahabatannya ini mengingatkan saya pada relasi sohib-sohib perempuan saya. Enaknya punya sahabat perempuan, bisa diceritain apa saja, bisa berdebat apa saja dan selalu mendukung satu sama lain. Dari SMA, kuliah hingga pada kerja.

Apa sih sebenarnya yang asyik dari persahabatan perempuan?

Persahabatan 4 cewek di film AADC ini unik. Mereka tetap saling mendukung, selalu ada waktu walo kadang alpa ketika yang lain dilanda masalah. Milly (Sissy Priscilla), Maura (Titi Kamal) dan Carmen (Adinia Wirasti) misalnya sampai detail mengetahui kisah antara Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo) walo 14 tahun lamanya, putus, kemudian sambung lagi. Cinta tahu ketika yang lainnya lagi susah. Relasi-relasi ini unik karena dihubungkan oleh semesta, oleh partikel-partikel dan kabel-kabel yang namanya kasih sayang.  Ada kekosongan ketika yang lainnya gak ada, ada kehilangan ketika yang lainnya pergi. Ada sebuah unsur yang melekatkan. Mungkin bukan hobby yang sama atau kesamaan selera makanan, tapi ada unsur atau sifat untuk saling mengisi dan mendukung. Mungkin ini yang disebut sebagai cinta yang tak pernah habis.

Kata kuncinya mungkin adalah solidaritas. Solidaritas dengan banyaknya persoalan sahabat inilah yang kemudian saling mengikat. Bantulah ketika aku membutuhkanmu, dan pasti kubantu jika kau punya kesulitan. Dalam AADC nuansa solidaritas ini sangat kental. 3 sahabat yang cemas menunggu Cinta yang lagi ketemu Rangga sampai gak tidur. 3 sahabat yang siap ditemui ketika Cinta lagi galau. Dalam ruang-ruang inilah kemudian ada lilin kecil yang selalu dinyatalakan saat gelap. Tak semua lilin akan menyala di saat yang dibutuhkan, namun paling tidak dukungan akan selalu datang dalam berbagai bentuk yang lain.

Sip, saya jadi diingatkan kembali akan sohib-sohib saya yang anaknya lagi sakit, yang suaminya pergi dan tak kembali, yang anaknya merengek minta jalan-jalan pas gak ada uang. Saya tahu, disitulah saya harus ada.


Ini adalah tentang cinta yang tak pernah habis.


(Foto: duniaku.net)


*Febriana Shinta Sari, Feminis dan penyuka film. Saat ini mengelola bisnis homestay dan toko batik di Jogja.