Dari Blog Hingga Facebook, Jurnalisme Warga Pekerja Rumah Tangga



Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Wiwin dan Yuni Sri datang paling pagi. Ia langsung duduk di kursi pojok bersebelahan dengan dinding dan jendela yang ditutup dengan tirai. Mereka langsung menceritakan tentang kemacetan dan sulitnya mencari gedung Menara Thamrin di Jakarta. Hari itu memang hiruk-pikuk Jakarta sangat terlihat, panas sangat terasa. Jalanan Jakarta tak pernah bisa diprediksi di bulan puasa seperti ini.

“Naik motor dari Cilandak sampai tersesat aku mbak, tanya sama ibu warung trus dikasih tahu bahwa harus belok setelah lampu merah kedua, tapi kita sudah berbalik terus dua kali baru sampai,” ujar Wiwin. Ia memang naik motor bersama Yuni Sri dan Lenny, 2 teman Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang lain.

Yuni Sri datang paling heboh. Membawa dagangan Kue Castengel dan jahe Jawa juga kue putri salju. Ia langsung mengeluarkan daganganya ke meja-meja agar bisa dilihat peserta lain yang datang. Meja di belakang peserta dipenuhi dengan kue-kue dagangan Yuni.

Jahe jawanya bentuknya sangat menarik, kotak kecil dan berwarna coklat tua. Dibungkus plastik dan kardus kecil berwarna putih. Sedangkan kue lainnya dibungkus tak kalah rapi. Ada yang dijual satuan, ada yang berbentuk paket. Yuni memang paling bisa. Dagangan yang dibawanya ini memang buatan para PRT di masa ramadhan. Jika ada peserta yang membelinya, Yuni akan berteriak.

“Asyik, daganganku laku banget...”

Begitulah kesibukan para PRT dan aktivis dan para pendamping PRT, sesaat sebelum pelaksanaan pelatihan jurnalisme warga yang digelar Internasional Labour Organisation (ILO) Jakarta pada Kamis, 23 Juni 2016 di Gedung ILO, di gedung Menara Thamrin Jakarta kemarin. Pelatihan ini diikuti oleh 12 peserta dari para PRT dan organisasi yang selama ini mengadvokasi PRT seperti dari Jarak, Jala PRT, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) dan Mitra Imadei.


Dari Blog Pribadi Hingga Curhat di Facebook


Banyak PRT yang sebenarnya sudah mempunyai blog pribadi, namun tidak semua sempat mengisinya. Karena pekerjaan mereka yang banyak dan juga aktivis lainnya. Namun mereka paling aktif menyebarkan informasi dan berkomentar melalui facebook.

Facebook PRT ini memang sangat menarik, tidak hanya diisi oleh informasi soal PRT, namun banyak juga yang berisi curhat atau curahan hati, tentang rasa kangen, keinginan dan obrolan PRT tentang kondisi kerja.

Tapi pada dasarnya PRT terutama anggota Sekolah PRT Sapu Lidi memang orang yang senang berkomunikasi, ngobrol, bercerita dan berkomentar. Whats App group yang dibuat oleh Lita Anggraeni, Koordinator Jaringan Nasional Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) selalu terasa riuh rendah atas komentar yang berdatangan dari para PRT.

“Di Whats App group selalu riuh rendah dari subuh sampai malam, selain anggotanya banyak, memang banyak PRT senang ngobrol, berkomentar dan menggunakan teknologi baru,” ujar Lita Anggraeni.

Jadi pelatihan jurnalisme warga ini memang cocok untuk para PRT.

Klop.

Karena intinya, pelatihan ini memang untuk mengajak PRT untuk menulis curhatnya, menuliskan kehidupan mereka, advokasi yang mereka lakukan serta pendapat mereka tentang banyak hal. Karena jurnalisme warga memang hadir untuk mengajak masyarakat secara meluas untuk menuliskan, memfoto, memvideokan peristiwa hasil pandangan mereka.

Pelatihan kemudian diisi dengan pemetaan tentang kondisi media di Indonesia, banyak lahirnya star up baru seperti star up yang menginspirasi, star up untuk game online, sampai star up untuk kampanye dan star up bisnis. Komentar datang silih berganti.

Namun yang paling seru adalah ketika peserta, para PRT dan pendamping atau aktivis PRT mempresentasikan hasil tulisannya.

Ada yang cerita soal kehidupan PRT di rumahnya, kemacetan Jakarta, kisah hidupnya dan masa lalunya.

Seru. Karena semua saling berkomentar, meledek jika ada kisah pribadi yang diceritakan.


Kondisi PRT di Indonesia dan Pentingnya Jurnalisme Warga

Secara umum, PRT di Indonesia sangat rentan terhadap berbagai bentuk eksploitasi dan kekerasan termasuk jam kerja panjang, gaji tak dibayar, terkurung, kekerasan  secara fisik, psikis dan seksual, kerja paksa dan perdagangan orang. Walau kontribusi mereka cukup besar bagi rumah tangga dan bahkan perekonomian secara umum, kerentanan atas berbagai resiko tersebut terus mengancam.

Pekerjaaan di sektor domestik merupakan lapangan pekerjaan yang telah menyerap angkatan kerja, terutama di wilayah perkotaan. ILO Jakarta melalui analisis data Sakernas dan Susenas tahun 2012 menuliskan bahwa ada sekitar 2,6 juta jiwa yang bekerja sebagai PRT yang 110.000 diantaranya merupakan pekerja rumah tangga anak dengan rentang usia 15 hingga 17 tahun.

Data kekerasan yang diolah oleh JALA PRT menunjukkan bahwa hingga kuartal kedua 2016, terdapat 123 PRT yang mengalami kekerasan mulai dari penyiksaan, pelecehan, dan gaji tidak dibayar.

Jurnalisme warga yang digagas ILO Jakarta dengan tajuk ILO PROMOTE ini seperti diungkapkan capacity building Officer ILO Jakarta, Muhamad Nour kemudian melakukan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas bagi PRT yang tergabung dalam organisasi JALA PRT, JARAK dan Komite Aksi Perlindungan PRT dan Buruh Migran (KAPPRTBM) untuk mengimplementasikan program aksi yang menekankan advokasi kebijakan dan penjangkauan pekerja rumah tangga termasuk kampanye peningkatan kesadaran publik terkait kerja layak bagi pekerja rumah tangga, sekaligus penghapusan pekerja rumah tangga anak di 4 propinsi di Indonesia, yaitu Sulawesi Selatan, Lampung, Jawa Timur dan Jabodetabek.

“Oleh karena itu, untuk meningkatkan arus informasi terkait hak pekerja rumah tangga dan kegiatan mitra, ILO kemudian melatih para pekerja rumah tangga untuk menulis melalui sarana jurnalisme warga. Sarana jurnalisme warga ini sangat bermanfaat bagi PRT untuk menyuarakan hak-hak mereka untuk menjangkau audiens yang lebih luas,” ujar Muhamad Nour, menutup pelatihan.


(Foto: www.ilo.org)