Lean In: Jangan Khawatir untuk Terus Berkarier!

Sica Harum - www.konde.co

Tanpa sengaja, kemarin saya bertemu seorang kenalan yang sudah lama tak terdengar kabar. Kami berbincang-bincang cukup lama dengan asyik hingga kemudian ia nyeletuk. “Eh, lo kok bisa sih ninggalin anak hari Sabtu begini? Anak lo ama siapa. Parah lo ih.”

Saya sering mendapat pertanyaan semacam itu. Saking seringnya, sudah kebal dan sekarang udah enggak gampang baper lagi. Kalau Anda bagaimana? Sering dapat pertanyaan semacam itu dari orang yang sudah lama tak bertemu, lalu seolah-olah peduli dengan siapa kita meninggalkan anak di rumah?

Perempuan sukses sering dicap dengan stigma negatif. Misalnya, Margaret Thatcher dijuluki “Atilla the Hen”. Atau Presiden Richard Nixon menyebut Indira Gandhi sebagai “The Old Witch”. Atau Angela Merkel dijuluki The Iron Frau.

Perempuan juga sering diabaikan kompetensinya apabila mencapai kesuksesan tertentu. Misalnya, “Ya pantes aja, wong anaknya jadi anak PRT.”  atau “Ya pantes aja, kan dia belum nikah, masih banyak waktu.”
Sadar atau tidak, hal ini kadang-kadang membuat para perempuan menahan diri. Perempuan sering dilanda perasaan bersalah ketika lembur sampai malam, misalnya. Atau ketika harus dinas ke luar kota. Hal-hal ini umumnya jarang dirasakan lelaki.  Beberapa perempuan yang saya kenal berpikir lama sekali saat ditawari promosi jabatan.  Ujung-ujungnya batal lantaran kuatir tak bisa lagi mengurus anak dengan baik. Lha, kemana suaminya?



Lean In 
Dalam buku Lean In,  COO Facebook Sheryl Sandberg menulis, perempuan harus mulai mengatasi hambatan-hambatan dalam diri sendiri ketika kesempatan di luar sana terbentang luas. Khusus untuk ibu bekerja, ia menggarisbawahi peran penting suami untuk berbagi tugas rumah tangga dan pengasuhan. Katanya, “Make your partner a real partner.”
Ia pun mengalami masa-masa ketika bayinya yang berusia 11 bulan lebih mencari pengasuh ketimbang dirinya. Namun sang suami juga lah yang menguatkan Sheryl.

Sebagai perempuan, Sheryl juga mengalami masa-masa melahirkan dan menyusui yang membuat ia mundur sejenak dari dunia kerja. Saat ditawari menjadi COO LinkedIn Sheryl sedang merencanakan program kehamilan kedua. Tawaran itu ia tolak tanpa penyesalan. Setelah kelahiran anak ke dua, ia malah ditawari posisi COO Facebook yang ia kerjakan hingga saat ini.  Katanya, “It’s a Jungle Gym not a Ladder”.

Karier, menurut Sheryl, jangan dibayangkan sebagai tangga ke atas. Sebab kadang-kadang ada situasi dan kondisi yang mengharuskan perempuan luwes bergerak. Rotasi atau justru harus turun dulu untuk dapat posisi yang baik. Yang penting, tetaplah terbuka di segala kesempatan.  
 
Don’t leave before You Leave
Dalam buku Lean In, juga disebutkan betapa perempuan sering meng-underestimate kemampuannya sendiri, ketimbang pria.  Jika terkait kompetensi, pria cenderung akan melebih-lebihkan apa yang ia bisa lakukan, sementara perempuan akan mengaku sebaliknya.

Saat ada pertemuan besar dengan orang-orang penting, laki-laki cenderung terampil mendekati para direksi, sementara perempuan cenderung sungkan dan berkumpul bersama perempuan lain di sebuah tempat.

Buku ini dimaksudkan Sheryl untuk mengajak banyak perempuan untuk lebih berani dalam mengejar karier. Termasuk berani berdiskusi dengan suami tentang pentingnya peranan yang seimbang dalam karier dan rumah tangga. Juga berani perform optimal di lingkungan pekerjaan.

Jangan gampang beralasan “anaknya enggak bisa ditinggal”. Don't leave before You Leave. Jangan kalah duluan.

Sebab semakin banyak perempuan memegang posisi-posisi penting di sebuah perusahaan maka akan semakin terbuka kemungkinan untuk membuat kebijakan pro perempuan dalam lingkungan kerja. Jika begini maka akan lebih banyak perempuan bisa optimal dalam berkarier.

Namun, pilihan bekerja di kantor atau pun di rumah, pada akhirnya akan kembali pada pilihan masing-masing.  Yang penting, sadar atas pilihan tersebut,  yang benar-benar merupakan pilihan tanpa ketakutan.  Misalnya, ibu bekerja tak perlu buru-buru memutuskan resign karena takut anak tidak diasuh dengan baik.  National Institute of Child Health and Human Development pernah membuat penelitian terkait pengasuhan eklusif ibu.

Dari sekitar 1000an anak yang diteliti selama 15 tahun, didapati bahwa perkembangan anak yang diasuh ekslusif oleh ibu tidak berbeda dengan anak-anak yang diasuh dengan bantuan orang lain. Tidak ada perbedaan dalam hal kemampuan sosial, bahasa, kognitif dan relasi. Lebih lanjut penelitian itu menunjukkan bahwa peran ayah yang positif dan responsif, hubungan orang tua yang harmonis, serta ibu yang tidak over protektif lebih mempengaruhi perkembangan anak. Jadi, masalahnya bukan pada pengasuhan ekslusif.

Tentu saja yang kemudian dipastikan ialah tenaga bantuan pengasuhan anak haruslah orang yang dapat dipercaya dan tidak melakukan kekerasan kepada anak.

Sumber foto: associationsnow.com