Perempuan Cantik dan Laki-Laki Pintar


Luviana – www.konde.co

Apa yang terjadi dengan perempuan cantik dan laki-laki pintar? Adakah yang salah dengan semua ini? Benarkah laki-laki selalu dituntut untuk pintar, cepat lulus sekolah dan sukses? Sedangkan perempuan harus cantik, tak usah sekolah tinggi lalu menunggu kapan datangnya untuk segera dilamar?.

Saya baru saja mendengarkan diskusi gender dari sejumlah mahasiswa di sejumlah universitas di Jakarta.

“Jadi jika tidak menjadi cantik, maka perempuan akan celaka hidupnya. Sedangkan jika tidak pintar, maka laki-laki juga akan celaka hidupnya,” ujar seorang mahasiswa.

“Namun jika perempuan sudah memenuhi kriteria cantikpun, ia akan dituntut untuk mempunyai kriteria lain lagi. Tak mudah memang bagi perempuan untuk selalu memenuhi kriteria-kriteria yang selalu diminta orang,” seorang mahasiswi mengeluh.

Diskusi ini walau sudah sering dilakukan, namun tetap menarik karena dibicarakan oleh anak-anak muda sekarang ini. Identitas inilah yang terus melekat pada laki-laki dan perempuan, jadi perempuan harus cantik dan laki-laki harus pintar. Laki-laki harus diidentifikasi dengan warna biru agar terlihat macho dan perempuan berwarna pink agar terlihat cantik.

Ms magazine pernah menuliskan ini ketika ada sebuah kartu ucapan untuk bayi yang dimuat di sebuah media. Bayi laki-laki mendapatkan kartu berwarna biru dengan ucapaan : brillian baby boy, sedangkan bayi perempuan mendapatkan kartu ucapan berwarna pink dengan ucapan: beautifull girl. Ms Magazine mengkritisi ini, mengapa bayi laki-laki selalu diberikan label biru dan bayi perempuan dengan label warna pink?

Benarkah stereotype tentang laki-laki pintar dan perempuan cantik ini sudah diciptakan sejak bayi masih berada dalam kandungan, dimana orangtua sudah mulai mempersiapkan warna dan mengidentifikasi bayinya sejak saat itu? Lalu jika si bayi laki-laki tidak pintar dan si bayi perempuan tidak cantik, maka akan celaka hidupnya?

Inilah yang disebut stereotyping atau stigmatisasi. Feminis, Inge Broverman kemudian mengidentifikasi tentang konstruksi yang melekat ini. Stereotyping awalnya terjadi di rumah, lalu di lingkungan tempat anak-anak dibesarkan, lalu di sekolah dan melalui buku-buku bacaan. Tuntutan agar perempuan selalu cantik tak pernah mudah.

Media kemudian membesarkan tuntutan ini dengan mengatakan bahwa: jika ingin cantik, maka perempuan harus dandan, make over wajahnya, make over rambutnya dan make over sikapnya, harus lembut dan teratur cara bicaranya. Jika tidak maka ia harus cepat-cepat masuk salon agar segera dipermak dan masuk sekolah kepribadian. Tuntutan ini melekat dan terjadi secara turun-temurun. Dari sini, masyarakat kemudian jadi memberikan kriteria soal cantik dan tidak cantik.

Yang terjadi selanjutnya adalah mereka lupa bahwa mereka telah melakukan subordinasi dan obyektifikasi pada perempuan. Pada wajahnya, pada rambutnya, pada sikapnya, pada pilihan-pilihannya.

Apakah kita hanya akan membiarkan kondisi ini? Katakan sejak pada anak-anak kita dan orang-orang di sekeliling kita. Karena anak-anak  harus mendapatkan pendidikan dari konstruksi yang membebaskan mereka dari berbagai macam kriteria. Kriteria biru, pink, brillian atau beautifull. Bebaskan pilihan mereka karena mereka berhak mengetahui banyak warna dalam hidupnya. Mereka juga berhak untuk mengetahui apa yang membuat mereka nyaman dengan hidupnya.

Jadi jika masih mendapati kartu, buku bacaan, iklan-iklan atau pernyataan yang membuat anak-anak tak nyaman, tulislah kepada kami.  Anak-anak harus mendapatkan berbagai pengetahuan baru yang membebaskan pilihan mereka. Orangtua hanya boleh menjadi busur dimana anak panah akan dilepaskan.


(Foto:Ms magazine.com)