Perempuan, Internet dan Kampanye Publik




Luviana- www.konde.co

Pada tanggal 10 Juni lalu ditengarai sebagai hari media sosial. Hari itu sebagai sebuah peringatan bagaimana media sosial atau sosial media kemudian mempunyai banyak kiprah bagi publik. Apa saja kiprah sosial media bagi publik terutama untuk perempuan?

Indonesia saat ini diyakini telah masuk dalam kota abad informasi. Sosiolog, Manuel Castell menyebutkan, ciri-ciri masyarakat informasional, yaitu masyarakat yang tidak hanya digambarkan sebagai masyarakat yang menunjukkan makin beragamnya sektor jasa, meningkatnya pekerja kerah putih (manajerial, profesional, teknik), muncul kelas proletariat kerah putih yaitu pekerja klerikal dan sales, pekerja bidang perdagangan relatif stabil, meningkatnya pekerja kelas atas dan bawah secara simultan serta syarat tingkat pendidikan dan ketrampilan pekerja yang meningkat. Masyarakat informasi kemudian mengkerangkakan bahkan membentuk organisasi sosial di dalamnya.  Maka masyarakat informasional kemudian sangat dipengaruhi kondisi teknologi yang muncul dalam sejarah dewasa ini. Salah satu karakter kunci masyarakat informasional adalah logika jaringan pada struktur dasarnya.

Dalam masa sekarang ini, salah satu karakternya kemudian ditunjukkan dengan penggunaan teknologi internet dan logika-logika berjaringan yang digunakan internet.

Salah satu ahli komunikasi, Yanuar Nugroho menunjukkan adanya 4 proses penggunaan media sosial di internet dalam proses demokratisasi. Keempat proses itu adalah terbukanya akses informasi, interaksi, partisipasi, dan desentralisasi. Keempat proses ini kemudian menunjukkan jaringan-jaringan yang terjadi:


A.Informasi,  internet akan menciptakan terbentuknya masyarakat yang melek-informasi, sebuah well-informed citizenry. Dengan terbukanya akses yang luas pada informasi yang dimungkinkan oleh internet, warga negara bisa mengetahui isu-isu publik sehingga mereka bisa lebih artikulatif menyampaikan pendapat-pendapatnya untuk keputusan politik warga.

B.Interaksi, sebagaimana fungsi interaksi, media sosial berbasis internet adalah medium yang menjanjikan potensi interaktivitas yang paling tinggi di antara para anggotanya dibandingkan media massa, mereka lalu mengadakan proses interaksi bersama.

C.Partisipasi,  media sosial berbasis internet menyediakan fasilitas untuk menularkan semangat partisipatif ini dan menjadikan pengguna internet menjadi warga-negara yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan partisipatif.

Ada tiga jenis partisipasi yang mungkin dikembangkan oleh media sosial:

(1) partisipasi kebijakan untuk mendukung atau menentang kebijakan, misalnya melalui konsultasi online, survei dan polling online, voting elektronik, hingga referendum;

(2) partisipasi politik, yaitu untuk mempengaruhi proses pembuatan keputusan politik atau terlibat dalam pembuatan agenda (agenda- setting); dan

(3) partisipasi sosial, untuk tujuan peningkatan modal sosial seperti solidaritas atau petisi publik.

D. Desentralisasi, fungsi keempat desentralisasi yaitu proses untuk membawa pemerintah lebih dekat ke rakyat dalam rangka memudahkan warga negara terlibat dalam praktek demokrasi, yaitu dalam proses pengambilan keputusan-keputusan menyangkut kepentingan umum.


Internet dan Upaya Advokasi


Di Indonesia sendiri, upaya gerakan sosial dengan menggunakan teknologi informasi dalam hal ini internet telah dilakukan sejak tahun 1998, dimana terjadi ketika detik-detik sebelum rezim Soeharto jatuh. Gerakan ini banyak dipelopori oleh gerakan mahasiswa di Indonesia.

Selanjutnya gerakan dengan menggunakan internet atau twitter dan facebook yang lain, juga dilakukan untuk mempengaruhi keputusan politik di Indonesia. Gerakan #IndonesiaTanpaFPI di tahun 2012 merupakan contoh gerakan politik yang dilakukan oleh banyak aktivis pro-demokrasi untuk mendesak Kepolisian dan pemerintahan SBY yang dianggap membiarkan kekerasan dilakukan atas nama agama.

Gerakan politik lainnya yang muncul adalah #SaveJkt atau “Selamatkan Jakarta” yang diprakarsai oleh Sulfikar Amir, seorang akademisi Indonesia yang berbasis di Singapura. Gerakan yang dilakukan di tahun 2012 ini dilakukan untuk membangun basis dukungan, melibatkan para profesional muda dan mengundang kelas menengah Jakarta untuk menyelamatkan kota Jakarta yang dipenuhi berbagai persoalan perkotaan seperti: Banjir, macet dan akses kesehatan juga pendidikan yang buruk bagi warganya.

Contoh lain terjadi ketika pada tanggal 16 Juli 2009 ketika Hotel Ritz Carlton-Marriot di Jakarta di bom. Daniel Tumiwa, mantan foto model dan salah satu pesohor di Indonesia adalah orang pertama yang melalui akunnya mengiirmkan foto kejadian tersebut. Dan dalam sekejap, tweet dari Indonesia mendominasi percakapan di akun twitter internasional dengan akun hashtag #IndonesiaUnite.

Ada lagi contoh gerakan yang lain. Twitter juga bisa membahas isu populer menjadi meluas dalam hitungan menit. Salah satu contoh adalah ketika mobil milik Menteri Sosial memasuki jalur busway pada tanggal 4 Mei 2010. Salah satu warga yang melihatnya, Rubinni mengabadikan kejadian dan menyebarkan foto tersebut ke twitter.

Di tahun 2012, ada juga kasus yang diramaikan di sosial media ketika pemerintah Indonesia dibombardir dengan kritik pedas atas ketidakmampuannya menyelesaikan meninggalnya 3 perempuan buruh migran Indonesia di Malaysia. Kritikan pedas lewat twitter memberikan pernyataan resmi. Hal ini tidak akan terjadi ketika publik tidak bisa mengakses internet secara meluas dan media massapun menjadikan informasi ini menjadi berita headline.

Tetapi contoh yang paling fenomenal dalam penggunaan twitter di sosial media adalah ketika pengguna sosial media memberikan kicauan yang banyak pada kasus: cicak vs buaya serta kasus Prita Mulyasari yang dipenjara karena dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Namun yang harus menjadi catatan, catatan-catatan keberhasilan ini ternyata tak hanya ditandai dengan kampanye melalui internet, namun ditandai juga dengan media massa mainstream yang ikut membesarkan isu ini. Jadi ternyata yang terjadi, isu di sosial media ini membesar ketika media mainstream juga turut membesarkannya.


Perempuan, Internet dan Kampanye Publik

Sejumlah kampanye publik untuk isu perempuan kemudian bergulir di publik. Baru-baru ini kampanye soal perkosaan biadab dan kematian yang terjadi pada YY di Bengkulu menghentakkan publik dan pemerintah. Kampanye ini kemudian juga membuat banyak pihak memperbincangkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kekerasan Seksual yang diadvokasi para aktivis perempuan di DPR dan memunculkan banyaknya kekerasan seksual yang menimpa para perempuan-perempuan di Indonesia di pelosok tanah air.

Kampanye lain banyak dilakukan para aktivis perempuan untuk isu Pekerja Rumah Tangga (PRT), Lesbian, Biseksual dan Transgender (LBT), isu buruh perempuan, buruh tani, diskriminasi terhadap perempuan, pluarisme dan sejumlah isu perempuan lainnya.

Kampanye-kampanye ini kemudian tidak hanya memberikan informasi, namun juga mengkomunikasikan dan mengkonsolidasikan diantara kalangan aktivis perempuan dan masyarakat.

Namun apakah kampanye ini kemudian sudah menghasilkan sebuah proses Desentralisasi, yaitu proses untuk membawa pemerintah lebih dekat ke rakyat dalam rangka memudahkan warga negara terlibat dalam praktek demokrasi, yaitu dalam proses pengambilan keputusan-keputusan menyangkut kepentingan umum?.

Pertanyaan ini harus dijawab oleh pemerintah. Karena sosial media yang bisa diakses publik secara meluas, harusnya bisa menjadi alat pemerintah dalam menyelesaikan persoalan publik dan perempuan secara lebih cepat.

Tentu jawabannya bukan di atas kertas atau menjawab persoalan dengan hanya melalui sosial media, namun upaya tindakan konkret yang bisa dirasakan masyarakat dan perempuan.



Sumber:
Beyond Click Activism Indonesia, Yanuar Nugroho dan Sofie Shinta, FES (Frederich Ebert Stiftung, 2012).

Manuel Castell, The Internet Galaxy: Reflection on the Internet, Business and Society, New York, Oxford University (2001)

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay.com)