Women Unlimited





Sica Harum/ Luviana – www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Sebuah situs yang berisi kiprah para aktivis perempuan, womenunlimited.id diluncurkan oleh Hivos Southeast Asia di Jakarta pada Jumat, 27 Mei 2016 lalu . Situs ini berisi tentang kiprah atau profil 100 perempuan yang selama ini bekerja secara “sunyi”, tak banyak bicara, namun tak terhitung kerjanya.

Kurang lebih inilah salah satu alasan mengapa situs ini dibuat oleh Hivos. Karena selama ini, banyak perempuan yang bekerja dalam “diam”, jarang mau muncul di permukaan dan tak banyak diketahui orang. Kurang lebih itulah yang terjadi.


100 Perempuan Women Unlimited

Dian Novita dan Vivi Widyawati dari Perempuan Mahardhika adalah 2 perempuan yang masuk dalam profil di situs women unlimited. Selama ini mereka banyak bekerja untuk melakukan pendampingan pada para buruh-buruh dan perempuan di Cakung, Jakarta Utara bersama-sama organisasi buruh Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP). Pekerjaan ini mereka lakukan secara diam-diam dan tanpa hingar-bingar.

Ada lagi Veronika Koman dari LBH Jakarta yang banyak bekerja untuk isu-isu kemanusian di Papua. Suaranya lantang ketika ia melakukan aksi sekaligus melakukan advokasi untuk kasus kejahatan kemanusiaan di Papua.

Ada lagi aktivis lain yang bekerja untuk para buruh migran. Yayah Sobariah adalah aktivis yang banyak mendampingi buruh migran. Di tahun 2005, Yayah kemudian beralih menekuni isu hak kesehatan reproduksi perempuan, yaitu dengan memfasilitasi penyadaran kritis bagi perempuan basis untuk memahami organ reproduksi dan mempunyai hak atas dirinya. Selanjutnya di tahun 2010, Yayah ikut terlibat dalam penyusunan draft anti trafficking dan perlindungan bagi buruh migran di Jawa Barat, dan memfasilitasi para kader lokal untuk aktif terlibat dalam advokasi di tingkat lokal terkait dengan isu pendidikan, kesehatan, ekonomi dan terlibat dalam penguatan koperasi yang merupakan sebuah lembaga keuangan mikro untuk kemandirian perempuan.

Lainnya adalah Inggrid Silitonga,  sebelum menjadi peneliti di Demos, Inggrid bekerja di kantor representatif Equitas Canada di Indonesia, terlibat sebagai volunteer di INSIST Yogyakarta dan sebagai salah satu relawan yang tergabung dalam Tim Relawan Kemanusiaan Jaringan Baileo Maluku dalam mendorong perdamaian Maluku. Ada juga Afra Ramadhan yang bergiat di organisasi kampanye penyadaran anak-anak muda: Pamflet.

Perempuan lain adalah Siska Dewi Noya. Saat ini, ia bekerja untuk isu hak, kesehatan seksual dan reproduksi dengan mengarusutamakan pendekatan Gender transformative melalui pelibatan laki-laki. Ada lagi Yulita Molyganta, perempuan yang memimpin Arus Pelangi, organisasi yang melakukan advokasi hak-hak LGBT di Indonesia.

Firliana Purwanti adalah aktivis perempuan yang juga masuk dalam situs ini. Firliana fokus bekerja pada keterkaitan antara gender dan seksualitas. Ia menulis buku berjudul The O Project, sebuah buku tentang orgasme sebagai salah satu cara untuk memberdayakan perempuan. Dan sejumlah perempuan lain seperti: Siti Aminah, Lia Toriana, Joan Wicitra, Wahyuningrum untuk kategori perempuan power.


Love, Power, Green, Right dan Speak

Sejumlah aktivis ini masuk dalam kategori: Love, power, green, speak dan right.  Kategori green misalnya dikhususkan bagi perempuan yang selama ini berjuang untuk isu lingkungan. Kategori ini adalah khusus untuk aktivis yang berjuang bagi energi terbarukan, pangan berkelanjutan, dan keseimbangan ekosistem. Di kategori ini ada stephani Larasati yang banyak bekerja pada isu energi terbarukan.

Kategori love adalah untuk para perempuan yang  membongkar stigma, ketabuan, dan mitos seputar seksualitas membutuhkan keberanian dan harus terus diperjuangkan.

Sedangkan kategori  power untuk para perempuan yang berjuang bagi nilai-nilai keadilan sosial dan gender, transparansi, akuntabilitas, dan inklusi adalah prinsip-prinsip dalam berdemokrasi. Setiap kebijakan yang dihasilkan harus dipastikan memberikan keadilan pada semua kelompok masyarakat, terutama kelompok marjinal. 

Sedangkan  kategori speak, untuk para perempuan yang menyuarakan soal kebebasan berekspresi dan menyuarakan pendapat melalui berbagai medium, termasuk seni dan budaya, adalah salah satu hak dasar yang tak bisa diganggu gugat.

Kategori right, diperuntukkan bagi perempuan yang berjuang untuk kemerdekaan dan kesetaraan perempuan. Mereka memiliki hak-hak yang melekat pada dirinya. Hak tersebut harus dilindungi dan dipenuhi oleh konstitusi.

Menurut Tunggal Pawestri, Program Development Manager Women Empowerment and Sexual Rights and Diversity Hivos Southeast Asia, situs ini memang dibuat untuk memberikan informasi kepada masyarakat dan media tentang kiprah perempuan dan apa yang sudah mereka lakukan selama ini untuk isu demokrasi, kebebasan, keberagaman dan isu-isu minoritas.

“Selama ini banyak media yang belum melihat kiprah para perempuan yang ditulis disini, nah situs ini dibuat untuk memberikan informasi soal perempuan pejuang yang bisa memberikan referensi sebagai narasumber di media,” ujar Tunggal Pawestri.

Dalam soft launching women unlimited,  Tunggal Pawestri menyatakan bahwa seharusnya perempuan-perempuan yang bekerja dalam sunyi inilah yang muncul ke media.

“Situs ini salah satunya mengajak media untuk melihat kiprah para perempuan yang selama ini bekerja menekuni bidangnya.  Dengan situs ini maka media bisa melihat bahwa banyak perempuan hebat yang lahir di Indonesia dan diam-diam berjuang bersama masyarakat.”

Luviana, dosen Universitas Paramadina, pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta yang juga pengelola www.konde.co dalam acara soft lunching women unlimited tersebut menyatakan, bahwa lahirnya situs women unlimited merupakan koreksi bagi media yang secara umum selama ini banyak mengkonstuksikan narasumber di media, sebagai orang yang identik dengan orang-orang terkenal ataupun pejabat. Maka penting agar situs seperti ini lahir, agar media tahu dan menampilkan para perempuan yang selama ini bekerja secara tekun untuk  masyarakat.

Selama ini narasumber-narasumber yang muncul di media adalah narasumber yang banyak menuliskan pemikirannya di media, narasumber tersebut biasanya juga bisa mengakses informasi secara mudah dan cepat. Selain itu umumnya mereka tinggal di kota besar.

“Maka dalam womenunlimited kita bisa melihat bahwa banyak perempuan yang ditulis di situs ini yang memilih bekerja di tengah masyarakat, sulit mengakses teknologi, jarang menulis karena kurangnya akses. Maka, penting bagi para perempuan ini untuk muncul karena mereka paling dekat dengan fakta-fakta dan kasus-kasus yang menimpa masyarakat. Mereka tak hanya menjadi pendamping atau survivor namun juga menganalisa secara baik karena selama ini merekalah yang dekat dengan masyarakat,” ujar Luviana.

Anggota Dewan Pers, Nezar Patria menyatakan bahwa selama ini memang tak banyak perempuan muncul sebagai narasumber, umumnya para perempuan takut atau malu untuk tampil atau sengaja menyerahkan ruangnya untuk orang lain. Jadi penting bagi perempuan untuk muncul sebagaimana narasumber laki-laki.

Saat ini situs baru tersebut sudah berisi 100 kiprah perempuan, namun untuk selanjutnya situs womenunlimited.id ini akan diisi oleh banyak perempuan lain dari berbagai daerah di Indonesia. Karena dalam situs inilah, akan dimunculkan kiprah atau profil-profil para perempuan di daerah hingga wilayah terpencil, sekaligus apa yang mereka lakukan selama ini untuk isu demokrasi dan minoritas.


(Foto: www.womenunlimited.id)