Remaja Perempuan, Mari Tolak Perkawinan Dini


Luviana – www.konde.co

Tanggal 11 juli kemarin dunia memperingati hari populasi sedunia atau World Population Day (WPD). Di hari ini dunia memperingati banyaknya jumlah penduduk dunia serta persoalan di dalamnya. Hari itu memang diperingati untuk meningkatkan kesadaran warga dunia tentang banyaknya persoalan terkait penduduk di dunia. Pada 11 Juli 2016 ini, tema besar  WPD adalah soal: remaja perempuan dan populasi dunia.

Data yang dirilis salah satu lembaga PBB, United Nations Population Fund (UNFPA) menunjukkan, di negara-negara berkembang  1 dari 3 perempuan di negara berkembang akan menikah sebelum usia 18 tahun. Dan 1 dari  9  remaja perempuan akan menikah sebelum usia 15 tahun. Ini merupakan angka yang memprihatinkan. Seharusnya remaja perempuan bisa menikmati masa remaja mereka, mendapatkan pendidikan yang layak, berteman dan mendapatkan hal-hal yang menyenangkan. Namun mereka harus menikah, hamil dan mempunyai anak.

UNFPA merilis, banyak remaja-remaja perempuan ini akan menjadi hamil saat masih dalam masa remaja, yang menyebabkan peningkatan resiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Ini akan berakibat pada kesehatan reproduksi mereka. Seringkali kehamilan ini bukanlah pilihan, tetapi tidak adanya pilihan bagi mereka.

Fenomena perkawinan anak di Indonesia merupakan persoalan yang banyak terjadi baik di perkotaan maupun di pedesaan. Berdasarkan data (World Fertility Policies, United Nations) 2011, ada sekitar 16 juta remaja yang menikah pada usia dini. Indonesia menempati peringkat ke 37 dari 73 negara pada kasus kawin pertama usia muda, dan menempati peringkat tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja.

Sejumlah organisasi di Indonesia yang kemudian mengadvokasi soal perkawinan anak, dalam laporan organisasi masyarakat sipil di Indonesia dalam Konferensi Perempuan Beijing+20 di New York tahun 2015 lalu menyatakan, bahwa  selain karena budaya, perkawinan anak sering dilakukan karena alasan ekonomi, yaitu agar memperbaiki hidup anak perempuan agar ikut hidup dengan suaminya, juga kadang dilakukan untuk memperbaiki ekonomi keluarga ketika anak perempuan ini dijodohkan dengan orang yang lebih kaya

Jurnal feminis MS Magazine menuliskan bahwa persoalan ini teryata juga dihadapi oleh negara-negara seperti Amerika. Amerika Serikat memiliki tingkat kehamilan remaja tertinggi di negara maju. 30 persen dari remaja perempuan di Amerika Serikat akan hamil setidaknya terjadi sekali sebelum ulang tahun mereka yang ke-20 tahun. 77 persen dari kehamilan remaja Amerika ini tidak direncanakan.

The Feminist Mayoritas Foundation (FMF) di Amerika kemudian berkomitmen untuk melakukan advokasi peningkatan pendanaan untuk pendidikan dan pelayanan keluarga berencana, baik di rumah dan di luar negeri. Pada tahun 2009, FMF didukung bagian dari peningkatan anggaran federal tunggal terbesar untuk keluarga berencana internasional dan program kesehatan reproduksi.

Melakukan advokasi pada pertumbuhan berkelanjutan ini  membutuhkan perempuan muda dan laki-laki dengan pengetahuan dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk mengontrol kesehatan reproduksi mereka terutama bagi perempuan. Remaja perempuan, seharusnya mendapatkan hak mereka. Hamil di usia muda akan sangat memberatkan hidup mereka, juga kesehatan reproduksi mereka.