Mengapa Feminisme dianggap Menakutkan?

Estu Fanani - www.konde.co

Baru-baru ini ada sebuah baliho yang mengatakan Feminisme mencabut fitrah perempuan. Banyak yang memberikan komentar terhadap tulisan dalam spanduk tersebut. Mengapa bisa muncul tulisan seperti itu? Apa sebenarnya feminisme itu? Mengapa banyak yang takut atau bahkan antipati terhadap feminisme?

Bila memperhatikan komentar maupun pendapat banyak orang, ternyata masih banyak orang yang salah paham mengenai feminisme. Tidak hanya orang Indonesia saja, namun juga orang di luar Indonesia yang sering tidak paham dengan feminisme. Contoh yang masih hangat, salah satu calon Perdana Menteri Inggris, Andrea Leadsom dalam salah satu wawancaranya mengatakan :
“I’m not a feminist because I’m not anti-men, I just see people as people. I’m never happy to see women written out of the picture . . . but feminism is a term that’s been used to abuse men so I don’t identify with it.”
Komentar Andrea ini menuai protes, yang antara lain mengatakan bahwa kalau bukan karena perjuangan feminis, dia tidak bisa mencalonkan diri menjadi Perdana Menteri. Orang sering kali menganggap feminis itu adalah sekelompok perempuan yang anti laki-laki atau membenci laki-laki, tidak ingin menikah, tidak ingin mempunyai anak, tidak suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga, tidak suka berdandan atau mempercantik diri, bahkan kadang ada yang menganggap feminis tidak beragama dan merupakan budaya barat.

Karena pemahaman yang keliru ini membuat orang jadi takut dengan feminisme. Padahal feminisme itu gerakan untuk memperjuangkan pembebasan perempuan dari segala bentuk penindasan, diskriminasi, kekerasan dan ketidakadilan dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, di ruang pribadi atau ruang publik.

Ada yang mengatakan bahwa karena feminisme membuat perempuan jadi tidak tunduk dengan suaminya atau meninggalkan keluarga untuk bekerja, melupakan pendidikan anak-anaknya, melupakan tugasnya mengasuh anak. Sebetulnya apa yang disampaikan orang-orang tersebut untuk melestarikan paham patriaki, yang menganggap laki-laki diatas perempuan. Bila kita mau jujur, bukankah perempuan Indonesia dari dulu juga sudah bekerja membantu mencari nafkah, entah itu berjualan makanan di depan rumah, menerima jahitan, berjualan sayur, jadi buruh cuci di rumah? Hanya saja mereka tidak diakui melakukan suatu pekerjaan dan apa yang dilakukannya tidak diakui juga sebagai suatu pekerjaan. Hal ini karena budaya patriaki yang mengatakan bahwa pencari nafkah utama adalah suami dan apa yang didapatkan istri dari pekerjaannya itu hanyalah sambilan saja.

Kenapa feminisme perlu di Indonesia? Kita bisa lihat di sekeliling kita, misalnya buruh, banyak sekali buruh perempuan yang gajinya lebih rendah dari buruh laki-laki. Berapa banyak pemimpin, lurah, camat, bupati, walikota, gubernur yang perempuan? Berapa banyak pejabat atau anggota DPR perempuan? Bagaimana pemerintah bisa membuat kebijakan yang menyangkut kehidupan perempuan bila yang memutuskan laki-laki dan tidak melibatkan perempuan? Bagaimana peran serta laki-laki (suami) dalam keikutsertaannya di kesehatan reproduksi? Berapa banyak anak perempuan yang putus sekolah karena dinikahkan atau  keluarganya yang lebih mengutamakan anak laki-laki? Kenapa pendidikan dan pengasuhan anak hanya menjadi tanggung jawab istri? Bukankah itu juga anaknya suami? Lalu mengapa itu semua dianggap sebagai tugas perempuan?

Perjuangan agar perempuan setara dengan laki-laki baik di bidang politik, ekonomi, budaya, pendidikan tidak harus dilakukan oleh perempuan tetapi juga oleh laki-laki. Seperti kita tahu Presiden Amerika Barrack Obama dan juga Perdana Menteri Canada Justin Trudeau menyebut dirinya feminis. Selain itu mantan Presiden kita, Gus Dur juga seorang feminis. Ini terlihat dari bagaimana Gus Dur mempraktekan kesetaraan dalam wilayah domestik. Kesetaraan di mata Gus Dur itu bisa dilihat dan dimulai dari bagaimana beliau memposisikan pasangannya (baca: istri), Ibu Sinta, ketika anak-anaknya baru lahir dan bagaimana memperlakukan mereka ketika tumbuh dan berkembang. Gus Dur telah melakukan pola pengasuhan (parenting), di mana ayah dan ibu merawat dan mengasuh anak-anak secara bersama-sama dan tidak melulu membebankan pada Ibu Sinta dengan segudang pekerjaan-pekerjaan rumah.

Apakah penolakan paham feminis adalah ketakutan para laki-laki atau masyarakat akan hilangnya kekuasan dan kontrol terhadap perempuan? Apakah itu merupakan cerminan untuk melanggengkan budaya patriaki dan konstruksi sosial?  Atau apakah ini bentuk dari Misoginis, suatu sikap kebencian atau ketidaksukaan seseorang atau kelompok terhadap perempuan atau anak perempuan? Misogini dapat mewujud dalam berbagai cara, termasuk diskriminasi seksual, stigma dan fitnah perempuan, kekerasan terhadap perempuan, dan objektifikasi seksual perempuan.


Jadi ini bukan semata-mata soal perempuan, tetapi bagaimana kita membangun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, menghargai martabatnya kemanusiaannya secara utuh, yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam sebuah keluarga, pemerintahan, pekerjaan, dan mempunyai hak yang sama dalam bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, kesejahteraan dan  bidang kehidupan lainnya. Feminis tidak akan menakutkan kalau semua orang setara dan saling menghargai.