Lebaran, Perempuan dan Makanan Nusantara


Luviana – www.konde.co

Dalam keluarga besar kami, makanan dalam tradisi lebaran tak ubahnya dengan makanan yang selalu terhidang ketika natal tiba. Jika pada natal ada kacang dan kue-kue natal, maka dalam lebaran di rumah kami, selalu tersedia ketupat, opor, rendang dan sayur.

Tak hanya memasak sendiri, namun selalu ada makanan yang dikirimkan oleh tetangga kepada kami. Hmmm. Ini makanan yang selalu ditunggu adik saya. Selain kekerabatan yang terbangun sangat kental, di desa tempat kami tinggal di Jogja ini, juga ada tradisi saling mengantarkan makanan yang sudah terjadi turun-temurun.

Seperti hari ini, kami sudah mulai menerima ketupat, opor dan sayur lengkap dengan ayam dan telornya. Keluarga kami juga mengirimkan makanan-makanan kering pada tetangga. Besok ketika Idul Fitri datang, kami akan saling bersalaman sambil mencicipi makanan yang terhidang.

Di desa tempat saya tinggal, tradisi membuat dan mengirimkan makanan ini seolah selalu mengiringi tradisi dalam bersilaturahmi. Tidak peduli apapun agamanya. Pemeluk agama Kristen selalu datang ke rumah tetangga Muslim ketika lebaran tiba sambil membawa kue-kue kering. Dan tetangga yang muslim menghidangkan ketupat dan opor ayam.

Begitu juga ketika kami datang berkunjung di hari-hari biasa. Ada teh manis yang terhidang dan makanan yang sederhana setiap kami berkunjung. Ini yang selalu membuat saya kangen untuk selalu pulang ke rumah. Walau sedikit makanan yang kami punya, hanya pisang goreng atau ubi rebus, kami selalu membaginya dengan tetangga.   

Tradisi ini tak hanya terjadi pada saat hari raya tiba, namun juga terjadi pada saat ada pernikahan, khitanan dan upacara lainnya. Warga di desa kami akan datang untuk saling membantu membuatkan makanan ketika ada tetangga yang menikah atau merayakan sesuatu. Biasanya kami memasak secara bersama-sama kemudian menghidangkannya dan membantu membagikannya ke seluruh tetangga.


Lebaran dan Makanan Nusantara

Saya sudah tak sabar menunggu menyantap makanan yang dikirimkan tetangga, namun nanti akan kami santap bersama-sama ketika buka puasa tiba. Kami akan menyantap bersama tetangga yang lain.

Hampir semua makanan yang terhidang pada saat lebaran ini dipenuhi dengan rempah-rempah seperti lengkuas, kunyit, jahe, kencur, dll.

Dalam sebuah wawancara di televisi beberapa tahun lalu, sejarawan JJ Rizal pernah menyatakan bahwa makanan Indonesia adalah makanan yang diramu dengan berbagai bumbu. Ini menunjukkan bahwa makanan Indonesia mempunyai cita rasa yang diramu dari berbagai daerah di Indonesia, atau yang kemudian disebut makanan selera nusantara.

Makanan dalam sejarahnya memang tak pernah lepas darimana ia dihasilkan, siapa masyarakat yang meramunya dan bagaimana kemudian ia diperkenalkan pada masyarakat. Makanan tidak pernah terlahir secara tunggal, namun datang dari berbagai pengaruh yang datang ke Indonesia. Dalam perjalanannya, makanan kemudian telah mengalami perubahan jaman. Ada strategi rasa sekaligus strategi penyajian.

Saya dan sejumlah tetangga kemudian mendiskusikan soal ini. Makanan yang menjadi topik paling dekat dengan kami adalah nasi dan singkong. Jika dulu hanya ada nasi putih, maka kemudian variasinya sangat banyak. Ada nasi goreng dengan bumbu rempah, ada nasi kuning juga dengan rempahnya yang sangat terasa, atau nasi uduk, nasi gurih dengan cita rasa bumbu-bumbuan khas Indonesia.

Yang lain adalah singkong. Jika dulu hanya digoreng, maka kini sudah diolah dengan berbagai macam rasa. Tak ubahnya dengan nasi dengan berbagai bumbunya.

Opor dan sayur yang dihidangkan pada saat lebaran ini juga tak lepas dari sejarah makanan di Indonesia. Makanan yang dipenuhi dengan rempah-rempah pada saat lebaran ini menjadi bukti tentang perjalanan sebuah tradisi.


Perempuan, Makanan dan Tradisi Silaturahmi

Anak-anak muda di desa kami kemudian semakin yakin bahwa makanan selalu tak bisa lepas dari jaman, ada strategi rasa, penyajian, pengiriman hingga siap untuk dihidangkan. Anak-anak muda di desa kami makin yakin bahwa makanan bisa memperkuat persaudaraan dan nilai silaturahmi.

Walau dari sejumlah catatan kritis kemudian juga menunjukkan bagaimana makanan kemudian dikuasai oleh alat-alat kapital, kepentingan pengusaha besar dimana masyarakat penghasil makanan hanya bisa menjadi penonton saja. Perempuan yang dikenal sebagai subyek penghasil makanan kemudian hanya menjadi obyek dari pertumbuhan rantai kapitalisasi makanan.

Dalam konsep ekofeminisme, perempuan adalah orang yang berpikir keras bagaimana mengusahakan makanan dalam keluarga. Tak hanya itu, perempuan juga mengusahakan dan menanam alam sekaligus menyuburkannya.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat Ketika ada satu krisis lingkungan yang hebat misalnya banjir, bencana alam atau sumber makanan yang dikuasai oleh pengusaha-pengusaha yang membuat masyarakat tersingkir dari hidupnya,  para perempuan segera mengubah jenis tanaman dan tetap berjuang untuk menghasilkannya bagi keluarga.

Khalisah Khalid dari Walhi pernah mengungkapkan bahwa pengelolaan perempuan dalam pengelolaan makanan dan sumber daya alam sudah terjadi sejak dulu kala. Para perempuan paham kapan waktu untuk menanam, kapan waktu untuk memetik dan bagaimana melakukannya ketika krisis.   Karena gerakan ekofeminisme memang mencuat ketika ada relasi yang kuat antara perempuan dan sumber daya alam.

Dari sini kami menjadi tahu satu hal, siapa orang yang selama ini selalu mengiringi dalam silaturahmi yang kami bangun? Jawabannya adalah perempuan. Karena perempuan selalu mempunyai banyak cara untuk tetap bersilaturahmi, mendatangi tetangga, mempertahankan pluralisme diantara kami, termasuk mengusahakan makanan sebagai teman dalam bersilaturahmi.


(Referensi: rahima.or.id)
(Fot: kimcitrorejo.blogspot.co.id)