Pemerintah Harus Evaluasi Transportasi untuk Perempuan



Luviana – www.Konde.co

Jakarta, Konde.co –  Komnas Perempuan meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pengelolaan arus mudik tahun 2016. Selain itu juga meminta ketersediaan fasilitas pendukung dan infrastruktur mudik,termasuk dalam hal ini dengan menggunakan analisis gender untuk masa-masa yang akan datang.

Pernyataan Komnas Perempuan ini didasarkan atas banyaknya perempuan yang meninggal dalam kemacetan di pintu tol Brebes Timur, Jawa Tengah pada saat mudik lebaran 2016 kemarin.

Wakil Ketua Komnas Perempuan, Yuniyanti Chuzaifah menyatakan bahwa pemerintah harus menyiapkan langkah-langkah antisipasi dan respon emergency yang berperspektif gender, baik dalam pengelolaan arus mudik dan arus balik, maupun pada pengelolaan layanan publik lainnya.

Selain itu pemerintah juga harus menyampaikan kepada publik tentang hasil evaluasi dan langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan.

“Hal ini untuk meyakinkan publik bahwa peristiwa serupa, tidak akan lagi berulang lagi di masa mendatang,” ujar Yuniyanti Chuzaifah dalam  release Komnas Perempuan.

Sebelumnya, sejumlah warga dalam perjalanan mudik, terjebak kemacetan di pintu keluar Tol Brebes Timur, Jawa Tengah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis ada 17 orang tewas di wilayah Pejagan – Brebes, 6 orang akibat kecelakaan dan 11 orang akibat terdampak kemacetan yang memakan waktu 2 – 36 jam. Dari 11 orang yang meninggal dunia, 10 diantaranya perempuan dan termasuk bayi perempuan yang berusia 1,4 tahun.

Komnas Perempuan menyayangkan kelalaian pemerintah dalam upaya mengantisipasi membludaknya pengguna jalan Tol Pejagan – Pemalang, khususnya Pintu Tol Brebes Timur pada saat arus mudik berlangsung. Kelalaian ini terlihat dari ketidaksiapan ketika terjadi penumpukan kendaraan di pintu Tol Brebes Timur, terutama akses cepat terhadap layanan kesehatan, konsumsi dan sanitasi ketika dalam kondisi emergency.

Padahal sudah diketahui bahwa pembangunan fasilitas jalan tol belum sepenuhnya selesai atau tersedia. Antisipasi terhadap situasi ini seharusnya sudah disiapkan secara maksimal, mengingat mudik sudah merupakan tradisi setiap tahun, dan selalu ada pembelajaran yang bisa diambil dari pengelolaan arus mudik setiap tahunnya.

Meninggalnya mayoritas perempuan dalam peristiwa ini juga perlu menjadi pembelajaran semua pihak tentang pentingnya fasilitas publik yang ramah terhadap perempuan, terlebih lagi dalam situasi emergency.

“Ketiadaan fasilitas pendukung yang memadai di tengah kemacetan yang luar biasa dan dalam jangka waktu yang lama, memberi dampak yang berbeda terhadap perempuan dan laki-laki. Dalam situasi kemacetan yang ekstrim sekalipun perempuan harus tetap menjalankan peran dan fungsi gendernya terhadap kebutuhan anggota keluarga, terutama anak.”

Hal ini mengakibatkan perempuan mengalami kelelahan fisik dan psikis yang lebih dari laki-laki. Akumulasi kelelahan dan rasa stress yang tinggi tersebut berkontribusi pada kerentanan fisik perempuan.