Pulang Kampung, Bertemu Ibu



Luviana – www.konde.co

Penumpang yang berdesakan, mobil yang mengalami kemacetan panjang dan sejumlah kematian yang diberitakan media selalu mengingatkan saya tentang dalamnya arti: pulang ke kampung halaman.

Nyatanya, selalu banyak orang yang ingin pulang kampung, walau harus melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Ingin bertemu orangtua, saudara, teman lama dan mengunjungi ingatan pada masa lalu, atau membicarakan masa depan.

Saya mencoba ngobrol, mewawancarai sejumlah perempuan dan bertanya tentang arti pulang ke kampung halaman serta menggarisbawahi hal-hal penting apa saja yang terjadi dalam percakapan melalui sosial media tentang pulang kampung ini:

Percakapan pulang kampung ini memang menghiasi di sejumlah group-group sosial media dan percakapan dalam pertemuan 2 hari menjelang mudik lebaran. Rata-rata percakapan ini dimulai dengan:

“Sudah dapat tiket belum?”

“Pulang gak? Berapa hari ini disana?”

“Duh, macet panjang banget, susah keluar tol.”

“Gak bisa pulang kampung, lagi gak ada uang.”

“Maaf ya mau pulang kampung, lebaran dulu di kampung.”

Pulang kampung memang berjuta rasanya, itu dirasakan banyak perempuan yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Jakarta. Mereka akan kembali setelah setahun bekerja keras. Uang hasil THR dikumpulkan untuk bertemu orangtua dan saudara. Begitu juga dengan para buruh yang bekerja di Jakarta. Pulang kampung adalah hal paling menyenangkan, apalagi jika hanya bisa pulang setahun sekali. Uang sudah dikumpulkan untuk pulang kali ini. Bersilaturahmi dengan saudara dan keponakan.

Pulang kampung juga merupakan saat curhat tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, bertemu kenalan dan teman lama, juga mencari informasi tentang pekerjaan baru di Jakarta.

Kampung adalah tempat yang paling emosional bagi sejumlah perempuan yang saya temui. Kampung tak hanya menjadi tempat untuk bertemunya mereka bersama keluarga, terutama bertemu dengan ibu, tapi juga tempat untuk pergi ke makam bapak, ke makam saudara dan bernostalgia dengan banyak kawan.

Bagi sejumlah perempuan, pulang ke kampung sama rasanya seperti merasakan kehidupan mereka dulu dan membandingkan dengan kehidupan mereka saat ini.

Lalu siapa orang yang akan mereka temui di kampung dan apa yang mereka harapkan dari pertemuan tersebut?

“Bertemu ibu, itu yang saya lakukan pertama ketika pulang kampung. Karena ibu adalah perempuan yang selalu mendoakan kita setiap saat. Jadi inilah saatnya bertemu dengan ibu,” begitu kata Santi, salah satu teman saya yang pulang kampung ke Jogja.

“Yang pasti bertemu ibu dan bapak ya, karena mereka adalah orangtua yang selalu berharap pada anak-anaknya untuk pulang,” kata Lita, teman saya yang lain. Ia pulang ke kampung halamannya di Cilacap.

“ Sungkem sama ibu. Bapak sudah meninggal. Jadi sekalian ke makam bapak,” Riani mengatakan ini. Ia pulang ke kampung halamannya di Solo dengan mengambil beberapa hari libur. Baginya pulang kampung akan men-charge batterai. Bisa menyenangkan ibu dan mengajak ibu jalan-jalan.

Sejumlah perempuan lain rata-rata pulang kampung adalah ingin bersilaturahmi, bertemu teman, mengajak anak-anak mengenal kampung halaman, berlibur, mengunjungi tempat lama, mencoba kuliner baru. Namun yang disebutkan pertama kali ketika ditanya tentang siapa orang yang ingin kamu temui, rata-rata menjawab adalah: ibu. Ibu adalah orang pertama yang rata-rata ingin mereka temui pertamakali ketika pulang kampung.

Ibu, adalah orang yang biasa berbagi dengan anak-anaknya. Bagaimanapun juga, ibu adalah perempuan yang selalu ada untuk kita. Ia menerima kesalahan-kesalahan dan kesombongan kita, ini adalah jawaban dari sejumlah perempuan kawan saya yang lain. Bagi yang sudah punya anak, bertemu ibu adalah upaya mendekatkan diri pada ibu, bercerita tentang sejarah masa kecil mereka sambil mengenalkan siapa orangtua mereka dan terutama siapa ibu yang sudah mendidik mereka dengan setia dan sabar.

Walaupun bagi perempuan, efek pulang kampung, juga identik dengan permintaan untuk cepat menikah dan untuk cepat punya anak. Permintaan ini yang kadang menyesakkan bagi perempuan. Ini adalah efek yang tidak mengenakkan ketika pulang kampung.

Namun sejumlah perempuan yang saya wawancarai menyatakan bahwa: pertanyaan ini rata-rata memang datang dari orangtua, terutama dari bapak terhadap anak-anaknya. Pertanyaan ini rata-rata juga datang dari keluarga besar dan saudara-saudara ketika mereka bertemu dalam pertemuan keluarga. Beberapa bertanya secara langsung, namun beberapa saudara tampak bertanya dengan nyindir.

“Mana nih calonnya? Kog gak dibawa?.”

“Kog belum ada calon juga?.”

Hal lain, ada juga pertanyaan dari saudara-saudara seperti:

“Sudah kerja dimana sekarang, gajinya besar gak?”

“Susah punya rumah sendiri belum? Mobil sendiri?”

“Anaknya sekolah di sekolah bonafid gak?”

Para perempuan menanggapi pertanyaan ini dengan kecewa. Ini efek menyebalkan ketika pulang kampung, begitu ungkap mereka. Namun mereka tetap bisa curhat hal ini sama ibu, atau menyatakan tidak setuju dengan pertanyaan-pertanyaan ini. Lalu ibulah yang akan menyampaikan ke bapak atau dalam pertemuan keluarga besar. Paling tidak ini pola-pola komunikasi yang sering terjadi. Ibu tetap menjadi teman curhat yang baik dalam segala suasana.

Walau kadang mendapat pertanyaan yang tidak mengenakkan seperti ini, namun pulang kampung bagi perempuan tetap sejuta rasanya. Mereka bisa bersilaturahmi dengan orangtua, saudara dan teman, juga bisa berlibur.

Pulang kampung memang sejuta rasanya bagi perempuan. Bertemu ibu, dan  bertemu hal-hal yang dulu sekaligus banyak pengalaman baru.