Buruh Perempuan, Keamanan dan Keselamatan Kerja



Luviana- www.konde.co

Jakarta, Konde.co – Sebanyak 11 buruh perempuan menjadi korban sebuah ledakan yang terjadi di pabrik PT. Kwang Lim di Kantor Berikat Nusantara, Cakung, Jakarta pada Sabtu 13 Agustus 2016 kemarin. Dari 11 perempuan korban luka, 4 diantaranya diduga sedang dalam kondisi hamil.

Hal ini menandakan rentannya keamanan dan keselamatan kerja para buruh yang belum dijamin oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Laporan tahun 2008 yang dibuat oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) memasukkan Indonesia sebagai negara dengan angka kecelakaan kerja terbesar kedua di dunia dari 53 negara yang disurveinya

Dari 20 korban yang luka di PT. Kwang Lim dan juga menimpa para buruh di PT. Hansai di Cakung tersebut, terdapat sebelas perempuan yang yang mengalami luka. 11 perempuan tersebut antaralain: Hayati karyawan PT Kwang Lim bagian Quality control, Nurhayati karyawan PT.Kwang Lim bagian washing, Oja karyawan PT.Kwang Lim bagian finishing, Herda karyawan PT.Kwang Lim bag Qc, Ida karyawan PT.Kwang Lim bagian Jahit, Muslimatun karyawan PT.Hansai 2 bagian jahit, Susmiatin karyawan PT.Hansai 2 bagian jahit, Siti Nurholifah karyawan PT.Hansai 2 bagian jahit, Dwi Ananda karyawan PT.Hansai 2 bagian cutting, Resdiana karyawan Pt.Hansai 2 bagian jahit, Yanti Aryanti karyawan PT.Hansai 2 bagian jahit. Setelah kecelakaan seluruh korban luka di bawa ke Rumah Sakit Pekerja KBN Cakung.

Di duga penyebab ledakan berasal dari mesin boiler, yaitu terjadi penyumbatan di mesin Boiler dan penyumbatan pada bagian Instalasi ketika sedang dinyalakan.

Organisasi buruh Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) yang melakukan pendampingan dan advokasi pada buruh-buruh perempuan di Cakung menyatakan bahwa ledakan ini membuktikan bahwa pengusaha tidak memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan kerja (K3) dalam perusahaan.

Koordinator FBLP, Jumisih mengatakan bahwa kondisi ini sangat memprihatinkan mengingat kejadian sebelumnya juga terjadi pada PT. USI Apparel di KBN Cakung yang juga menewaskan 2 korban meninggal.

“Pengusaha jangan hanya berpikir untuk menumpuk keuntungan, ada masalah manusia yang wajib diutamakan,” kata Jumisih.

FBLP juga menyerukan kepada pihak KBN Cakung sebagai pengelola kawasan, jangan hanya gencar mencari investor-investor, KBN Cakung juga harus melihat apakah para pengusaha di KBN Cakung sudah taat hukum di Indonesia belum terutama dalam memenuhi  K3 bagi para buruhnya.


Kasus Keamanan dan Keselamatan Kerja Buruh

Kejadian di beberapa daerah yang terekam dalam media massa menunjukan bahwa masih tingginya angka kecelakaan kerja di Indonesia. Dan rata-rata korban kecelakaan kerja tidak mendapatkan kompensasi yang layak.

Dari catatan jaringan K3 Indonesia, ada sejumlah permasalahan klasik dalam penegakan K3 ini di perusahaan-perusahaan di Indonesia, seperti penggunaan bahan beracun dan berbahaya dalam proses produksi, lemahnya penegakan hukum dan kurangnya pengawasan, serta minimnya perlindungan terhadap pekerja hampir setiap tahun berlangsung tanpa ada terobosan yang berarti didalam memperbaiki kondisi kerja bagi pekerja.

Hampir setiap tahun juga angka kecelakaan kerja di Indonesia sangat tinggi, dengan korban tewas dan cacat yang mencapai ribuan. Hal ini semakin melanggengkan stigma bahwa tempat kerja adalah tempat berlangsungnya pembunuhan secara perlahan terhadap pekerja

Catatan Jaringan K3 menyebutkan bahwa keterangan resmi pemerintah bahwa dalam satu hari terdapat lebih dari sembilan orang meninggal akibat kecelakaan kerja.

Bila dilihat secara persektor jenis usaha, angka kecelakaan kerja di sector jasa kontruksi paling tinggi dibandingkan dengan sektor lainnya. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi mencatat hingga tahun 2010, kecelakaan kerja masih didominasi bidang jasa kontruksi (31,9%), disusul sector Industri manufaktur (31,6%), transport (9,3%) , pertambangan (2,6%), kehutanan (3,6%), dan lain-lain (20%).

Catatan Jaringan K3 Indonesia juga menunjukkan bahwa tingginya kecelakaan kerja di sektor jasa kontruksi, salah satu penyebabnya adalah lamanya waktu pengerjaan dan dilakukan secara nonstop selama 24 jam. Hal ini menyebabkan tingkat kelelahan pekerja berada diambang batas. Selain itu, perlindungan kerja serta sosialisasi tentang pentingnya K3 di tempat kerja yang masih minim.

Karena bila dilihat dari kasus kecelakaan kerja di sektor jasa kontruksi, banyak pekerja yang tewas terjatuh dari ketinggian ternyata tidak menggunakan alat perlindungan diri. Seperti kasus meninggalnya pekerja di proyek Trans studio di Bandung  atau terjatuhnya dua orang pekerja dari lantai 9 di sebuah proyek gedung di Surabaya serta seorang buruh meninggal terjatuh dari lantai 15 di proyek pembangunan apartement di Depok.

Tidak heran jika laporan tahun 2008 yang dibuat oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) yang memasukkan Indonesia sebagai negara dengan angka kecelakaan kerja terbesar kedua di dunia dari 53 negara yang disurveinya.


Referensi: http://jaringank3indonesia.blogspot.co.id/