Fatmawati, Perempuan yang Menjahit Simbol Indonesia


Edisi Khusus Refleksi Kemerdekaan Perempuan: untuk edisi Kemerdekaan Agustus 2016 kali ini, www.konde.co akan menampilkan edisi khusus: “Refleksi Kemerdekaan Perempuan”. Refleksi kemerdekaan perempuan ini berisi kritik sekaligus evaluasi dari individu dan sejumlah kelompok tentang pentingnya kemerdekaan perempuan, ide soal kemerdekaan perempuan dan bagaimana refleksi mereka tentang kemerdekaan perempuan di Indonesia. Edisi khusus ini akan kami tampilkan dari tanggal 15-18 Agustus 2016. (Redaksi)





Luviana – www.konde.co

Bendera merah putih yang berkibar di sepanjang jalan di Jakarta, mengingatkan saya pada perempuan yang menjahitnya. Tak banyak orang yang mengingat apa yang dilakukannya dulu. Bu Fat, begitu ia biasa dipanggil.

Fatmawati lahir pada hari Senin, 5 Pebruari 1923 Pukul 12.00 Siang di Kota Bengkulu, sebagai putri tunggal keluarga H. Hassan Din dan Siti Chadidjah. Masa kecil Fatmawati penuh tantangan dan kesulitan, akibat sistem kolonialisme yang dijalankan oleh Pemerintah Hindia Belanda

Pada tahun 1943 Fatmawati kemudian menikah dengan Presiden pertama Indonesia, Soekarno yang kemudian berpisah setelah Soekarno berpaling.

Ketika Soekarno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945 itulah, berkibarlah sang saka merah putih. Dan Fatmawatilah yang menjahitnya. Ia bekerja di balik panggung kemerdekaan. Bendera hasil jahitannya, jauh hingga kini digunakan sebagai simbol, menjahit Indonesia dari sabang hingga Merauke. Itulah bu Fat.

“Aku memohon supaya diberi oleh Tuhan, keberanian dan melanjutkan perjuangan fi  sabililah. Aku berdoa untuk cita-cita seperti semula, yaitu cita-cita Indonesia merdeka. Jangan sampai terbang Indonesia merdeka.”

Itu adalah kalimat yang banyak dikenal dari tulisan Fatmawati.

Pada tahun 14 Mei 1980 ia meninggal dunia karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah, dan lalu dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta. Sebelumnya ia mendirikan rumah sakit Fatmawati di Jakarta. Rumah sakit ini awalnya didirikan untuk penyakit paru pada anak-anak, namun kemudian rumah sakit ini menjadi rumah sakit umum hingga kini.

Hari ini, Selasa 16 Agustus 2016 Gerak Indonesia sebuah jaringan individu dan kelompok di Jakarta akan melihat makam Fatmawati di pemakaman Karet Bivak, Jakarta. Kunjungan ke makam seperti diungkapkan Ade Emi Sulyuwati  ingin menandakan bahwa ada banyak perempuan yang kemudian berjuang untuk kemerdekaan dengan berbagai macam cara. Ada pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan dan kebebasan perempuan, dan ada bu Fat yang menjahitkan simbol bendera pemersatu Indonesia.

“Ini momen yang tepat karena kami ingin mengajak semua orang tak melupakan jasa para perempuan sebelum kemerdekaan Indonesia. Bahwa perempuan dengan caranya masing-masing ikut berjuang untuk tanah air ini,” ujar Ade Emi Sulyuwati, koordinator Gerak Indonesia.

Ade Emi menyatakan bahwa Fatmawati bisa menjadi  simbol bagaimana perempuan dengan daya upayanya tetap hidup di tengah banyaknya himpitan persoalan.



(Foto dan Referensi: biografiku.com)