Mengejar Kemerdekaan Perempuan

Edisi Khusus Kemerdekaan Perempuan: untuk edisi Kemerdekaan Agustus 2016 kali ini, www.konde.co akan menampilkan edisi khusus: “Refleksi Kemerdekaan Perempuan”. Refleksi kemerdekaan perempuan ini berisi kritik sekaligus evaluasi dari individu dan sejumlah kelompok tentang pentingnya kemerdekaan perempuan, ide kemerdekaan perempuan dan bagaimana refleksi mereka bagi kemerdekaan perempuan di Indonesia. Edisi khusus ini akan kami tampilkan dari tanggal 15-18 Agustus 2016. (Redaksi)


Luviana – www.konde.co

Jakarta, konde.co – Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung Jakarta, Rabu 17 Agustus 2016 hari ini terlihat sepi. Panas tetap terik, namun tak ada kemacetan dimana-mana. Jalanan yang biasa ditembus selama satu jam lebih dari arah Pulogadung, kini tampak lengang. Tak ada truk yang lalu lalang di sekitar pabrik. Hanya ada polisi yang berdiri di sekitar kawasan, tak jauh dari kerumunan upacara.

Di sudut depan sebelum pintu masuk, para buruh perempuan yang sehari-hari bekerja di KBN Cakung, melakukan upacara bendera  hari ini. Para buruh ini merupakan anggota Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP) yang selama ini aktif dalam mengadvokasi perjuangan buruh perempuan di KBN Cakung.

Memakai kaos merah dan topi hitam biru, para buruh perempuan berbaris rapi. Ada yang bertugas sebagai inspektur upacara, pembina upacara, juga pengibar bendera. Sesekali sejumlah pengurus FBLP melirik jam, tanda-tanda upacara akan dimulai. Sengaja jadwal upacara ini memang disesuaikan dengan pembacaan teks proklamasi 71 tahun silam.

“Kita ingat ada banyak perempuan-perempuan yang lahir sebagai pejuang kemerdekaan. Ada bu Fatmawati yang menjahit bendera sang saka merah putih, SK Trimurti menteri Perburuhan pertama di Indonesia yang berjuang untuk kemerdekaan para buruh perempuan.”

Mutiara Ika Pratiwi, Koordinator nasional Jaringan Perempuan Mahardhika, nampak tenang membuka upacara bendera.



Yang berbeda dengan upacara lainnya yaitu, upacara ini mengetengahkan banyaknya persoalan yang mendera para buruh perempuan di Indonesia. Tak heran jika upacara ini menggunakan simbol: mengejar kemerdekaan.

“Bukan berarti meremehkan hasil atau capaian kemerdekaan yang dilakukan atas kekuatan rakyat di masa lalu, sebaliknya jsutru merupakan bentuk pengakuan sebagai bangsa yang gagal mempertahankan kemerdekaan,” ujar salah satu penggagas upacara bendera buruh perempuan, Thien Koesna.


Sejak orde baru berkuasa, FBLP mencatat ada kemerdekaan demokrasi yang diberangus dan investor yang diberi kekuasaan penuh yang kemudian menjarah kesejahteraan rakyat. Maka tak heran jika buruh pabrik, buruh ibu, buruh tani, buruh nelayan, buruh rumah tangga, buruh korban PHK dan buruh korban kekerasan seksual justru hidupnya makin jauh dari cita-cita kemerdekaan.


Upacara, Simbolisasi Banyaknya Kasus buruh perempuan

Sejumlah pembina upacara yang maju ke depan mimbar upacara adalah pembina yang mewakili sejumlah persoalan buruh perempuan.

“Deretan persoalan dimulai dari beragam bentuk kerja paksa, lembur tak dibayar, target tak masuk akal, ada kekerasan seksual di tempat kerja. Kerja keras tak berujung bahkan ketika hamil besar. Hal lain, buruh perempuan masih sulit mengatur waktu untuk berorganisasi,” ujar Dian Septi.

Dian Septi mengatakan ini sesaat setelah Lamie Radien, salah satu buruh perempuan melakukan aksi teatrikal tentang kondisi yang dialami para buruh perempuan pabrik.

Yuni Sri, adalah salah satu Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang juga hadir dalam upacara. Mewakili teman-temannya para PRT, Yuni Sri juga menceritakan persoalan PRT di Indonesia. Dari tak ada aturan soal gaji dan hari libur, sulitnya mendapatkan upah layak hingga panjangnya mengadvokasi Rancangan Undang-Undang (RUU) PRT di Indonesia.

Nasib lain menimpa para buruh tani yang kehilangan tanahnya, lahan yang diambil paksa yang membuat mereka harus lari ke kota besar. Dan kondisi di kota besar tak pernah mudah. Bertahan hidup adalah salah satu harapan bagi para buruh tani yang kemudian menjadi buruh di kota-kota besar.

Belum lagi buruh korban kekerasan seksual yang harus menuntaskan kasusnya dan berdamai pada banyak hal.

“Upacara ini adalah sebuah acara komitmen untuk mengejar kemerdekaan penuh sebagai manusia,” ujar Martuti dari FBLP.

Mengikuti upacara ini, kita menjadi tahu satu hal: 71 tahun adalah tanda banyaknya kemerdekaan yang belum bisa diraih perempuan.


(Foto: Upacara buruh perempuan yang diadakan Federasi Buruh Lintas Pabrik di Kantor Berikat Nusantara, Cakung, Jakarta Utara 17 Agustus 2016/ Luviana)