Mengenal Perempuan Indonesia di Komite CEDAW

Estu Fanani – www.konde.co

Jakarta, konde.co – Komitmen internasional untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan sudah digulirkan setelah Perang Dunia II. Hingga pada 18 Desember  1979, usulan Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan (CEDAW) diadopsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Konvensi CEDAW berlaku baru efektif berlaku pada 3 September 1981, setelah 20 negara meratifikasinya atau menjadikan Konvensi CEDAW sebagai bagian dari hukum nasionalnya. Pada 1982 terbentuklah Komite CEDAW yang terdiri dari 23 ahli independen tentang hak asasi perempuan dari berbagai negara.

Indonesia menandatangani atau menyetujui Konvensi CEDAW pada 29 July 1980 dan mengesahkannya sebagai hukum nasional (ratifikasi) pada 13 September 1984. Dan kiprah perempuan Indonesia di PBB khususnya di komite CEDAW dimulai tahun 1987, dan kita mengenal 4 (empat) nama, yang tidak banyak diketahui publik.
Berikut ini 4 (empat) nama perempuan Indonesia yang pernah menjadi anggota Komite CEDAW, mereka terpilih karena keahliannya dalam bidang hak asasi perempuan.
  1. Ibu Ida Soakaman, beliau menjadi anggota Komite CEDAW pada tahun 1987, namun beliau meninggal karena kecelakaan sebelum sempat datang ke New York.
  2. Prof. Dr. Ir. Pudjiwati Sajogyo, beliau menjadi anggota Komite CEDAW untuk periode 1987 – 1990, ditunjuk menggantikan Ibu Ida Soakaman. Beliau merupakan profesor dan guru besar sosiologi pedesaan Institute Pertanian Bogor. Prof. Pudjiwati mrupakan pionir untuk studi perempuan pedesaan dan sekaligus pionir penggagas Pusat Studi Wanita di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Saat dipilih menjadi anggota Komite CEDAW, Ibu Pudjiwati menjabat sebagai staf ahli Menteri Negara Urusan Peranan Wanita periode 1986 – 1993. Setelah itu beliau menjabat sebagai  Anggota Dewan Riset Nasional (DRN) periode 1994-1999. Istri dari Prof. Sajogyo ini meninggal pada tahun 2002 di usia 73 tahun.  
    Prof. Pudjiwati Sajogyo bersama suami Prof. Sajogyo
    (Sumber Foto: http://sekolah-agraria.blogspot.co.id201210unduh-karya-ilmuwan-mazhab-bogor.html)
  3. Prof. Dr. Sunaryati Sastrowardoyo Hartono, SH., beliau menjadi anggota Komite CEDAW untuk periode 1995 – 1998. Prof. Sunaryati merupakan profesor bidang hukum. Sebelumnya, beliau merupakan praktisi hukum, pernah sebagai advokat, jaksa dan pernah menjadi ketua BPHN. Terakhir, pada tahun 2000 Prof. Sunaryati menjabat sebagai wakil ketua Ombudsman Indonesia.
    Prof. Sunaryati Hartono
    (Sumber Foto: http://labsky2013.blogspot.co.id201306tugas-2-biografi-nadhira-nur-aqila-xi.html)
  4. Ibu Sjamsiah Achmad, beliau menjabat anggota Komite CEDAW untuk periode 2001-2004. Sebelum menjadi anggota Komite CEDAW, beliau aktif sebagai peneliti LIPI dan kemudian berkarir di PBB dari OThce for Science and Technology United National, New York. Kemudian beliau pindah ke bagian Non-Governmental Organizations (NGO) Unit, OThce of The Under Secretary General (1982—1983). Berikutnya, pada tahun 1983 Ibu Sjamsiah mendapat tugas ke Wina, Austria sebagai program officer di Branch for the Advancement of Women, Center for Social Development and Humanitarian Affairs UNOV (United Nations OThce Vienua), pada tahun 1986—1988.
    Ibu Sjamsiah Achmad
    (Sumber Foto: http;;//www.perspektifbaru.comwawancara880)

Itulah 4 (empat) nama perempuan yang sudah berkiprah di dunia internasional untuk penghapusan diskriminasi terhadap perempuan. Di tahun 2016 ini, Indonesia menunjuk Prof. Harkristuti Harkrisnowo, namun tidak lolos dalam pemilihan anggota komite CEDAW. Semoga, semakin banyak perempuan Indonesia yang berkiprah di dunia internasional dan turut menyumbangkan pemikiran dan tenaga bagi pemajuan hak asasi perempuan di dunia dan Indonesia.

Referensi: Dari berbagai sumber